Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
No Result
View All Result

Kalau Kau Pergi Anakku, Siapa Lagi Kan Menghibur Hati Ibu

Muhammad YasirOLEHMuhammad Yasir
Desember 27, 2024
0 0
A A
BERANDA Pena Sastra Prosa
Share on FacebookShare on Twitter

Kalau pun kelak aku akan menjadi manusia yang berguna untuk orang-orang miskin, maka sungguh pun itu karena fungsiku sebagai manusia. Aku tak punya waktu untuk berkhayal menjadi seorang kaya atau seorang yang memiliki segala; rumah, keluarga, harta, dan takhta. Tuan M melarangku menghabiskan waktu untuk suatu kesia-siaan. Tuan M menganggap berkhayal merupakan suatu kesia-siaan! Maka dari itu ia selalu marah dan menarik telingaku hingga merah apabila aku kedapatan duduk di bawah pohon di halaman rumahnya sembari menatap langit; oh… langit, hamparan logam biru yang tak pernah bicara seperti ah… betapa pun uang logam seribu rupiah itu dapat membeli seperempat roti untuk meredam lapar di perutku. Tuan M selalu mengajariku untuk menjadi manusia yang berguna! Berguna untuk keluarganya dan… ya harapanku: berguna untuk semua orang! Kadang aku tertawa dalam hati ketika melihat raut wajah Tuan M bicara begitu dan… ketika memarahi anak laki-lakinya yang bodoh dan pemalas. Namanya… tak penting.

Hargaku lima ratus ribu sebulan. Seorang anak laki-laki yang bekerja di sebuah rumah Tuan M, harganya satu juta rupiah sebulan; lima ratus ribu lebih tinggi dari hargaku. Setiap hari Jumat malam, ia selalu pergi ke pasar malam di kota untuk membeli pakaian baru dan… ah! Sesuatu yang ingin sekali kubeli; sepatu. Aku ingin sekali memiliki sepatu baru, sebab sepatu pembelian ibuku sekarang lusuh dan alakadarnya. Untuk tetap bisa digunakan, seminggu sekali aku mengelemnya. Sebenarnya, bisa saja aku membeli sepatu baru. Namun, kemiskinan yang melanda keluargaku membuatku menguburkan segala ingin untuk bertahun kedepan—mungkin lebih. Alhasil, acap kali anak laki-laki itu memakai sepatunya di hari Minggu, lagi-lagi aku hanya bisa berkhayal; anak laki-laki itulah aku.

Anak laki-laki Tuan M bodoh dan pemalas, dan jahat juga. Padaku ia selalu meluapkan kekesalannya ketika Tuan M memarahinya. Untuk meluapkan kekesalannya itu, aku harus menuruti segala perintahnya; mengambil buah apel, membacakan cerita, mengerjakan pekerjaan sekolah, menyiapkan air hangat, dan seterusnya. Aku tak memiliki hak untuk sekadar membantah apa lagi menolak perintahnya. Ia akan mengadu kepada ibunya dan aku akan mendapatkan hukuman; tak dapat makan malam. Pernah suatu kali, karena tak agak sakit, aku menolak perintah anak laki-laki itu. Iapun mengadu kepada ibunya dan ya… aku dihukum semalaman tidur di beranda bersama seekor anjing tua yang sama baunya denganku. Anjing itu payah seperti manusia tua kebanyakan. Ia jarang sekali menggonggog, sekali pun seekor tupai mengencingi wajahnya. Dan ya… malam itu aku terjaga; udara dingin dan suara burung malam ialah kengerian tersendiri untukku.

Pada suatu waktu, Tuan M berbaik hati padaku. Ia membelikanku pakaian bekas—mungkin kebaikan hatinya itu muncul ketika ia melihat pakaianku yang tak layak lagi—di kota. Ya… aku hampir saja lupa. Dalam sebulan, Tuan M akan pergi ke kota untuk menyetor kursi, meja, almari, bahkan ranjang yang ia buat ke sebuah toko besar di sana. Ia tak pernah mengajakku ke kota. Katanya, kota adalah tempat yang jahat dan mengerikan untuk anak seusiaku. Kota tak ubahnya rimba belantara, di mana binatang saling mangsa untuk bertahan hidup dan berkuasa. Tuan M khawatir kalau aku ikut dengannya, binatang-binatang buas di kota akan memangsaku. Dan ya… tentu saja ia akan merugi secara tenaga. Katanya lagi, aku ini anak laki-laki yang kuat, cekatan, dan rajin. Kalau sampai-sampai Tuan M kehilangan aku, jelas sudah ia merugi dua kali.

“Kismin! Kemarilah, anjing kecil!” istri Tuan M memanggilku. Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kalau tidak… iblis itu akan menarik telingaku hingga merah dan berdengung.

“Ya? Apa yang bisa saya kerjakan? Bukankah sekarang hari libur, Nyonya?”

“Dasar anjing kecil bau!” makinya. “Apakah hari libur lantas membuatmu lupa siapa dirimu? Kau… sama saja seperti keluargamu! Miskin dan penjilat.”

“Iblis!” aku membatin. “Apa yang bisa saya kerjakan untuk Nyonya sekarang?”

“Cuci taplak meja! Setelah itu pel seluruh lantai rumah. Akan ada seorang tamu istimewa malam ini. Jangan banyak bengong, anjing kecil! Lekas kerjakan!”

Ya… akan ada seorang tamu istimewa datang ke rumah Tuan M. Tapi aku tak begitu memikirkannya. Aku melakukan apa yang telah diperintahkan padaku agar segera selesai dan aku bisa menghabiskan waktu yang tersisa untuk membaca atau sekadar berkhayal di atas pohon sana. Dua jam kemudian, pekerjaanku selesai. Aku naik ke atas pohon di halaman rumah Tuan M dan mencoba memjamkan mataku. Namun, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari rumah tetanggaku; teriakan anak laki-laki itu, ya! Apa yang telah terjadi? Aku berdiri dan berpegangan pada sebatang dahan. Semenit kemudian, keluarlah Tuan… ah! Aku lupa namanya, dan anak laki-laki itu.

“Ampun, Tuan! Ampun! Saya… saya tidak mencurinya. Itu fitnah!” kata anak laki-laki itu sayup-sayup. “Ampun, Tuan…”

Namun tuannya tak menghiraukan perkataan anak laki-laki itu. Ia terus memukuli, menendangi, kemudian melemparan sebuah bundelan; pakaian anak laki-laki itu, dan berkata: “Kalian orang-orang miskin memang setan! Laknat! Terkutuk! Pergi kau… anjing! Sudah kutampung kau baik-baik. Kupekerjakan kau baik-baik, kau malah mengkhianatku! Setan! Pergi kau! Pergi!” Anak itupun pergi sembari menahan sakit dan terus menangis. Dan aku kembali bersandar di sebatang dahan yang lebih besar.

“Benarkah orang-orang miskin itu setan? Anjing penjilat?” Aku membatin. “Kalau ya… berarti keluargaku pun? Ah… kenapa harus ada miskin di dunia ini? Kalau saja… ya! Kalau saja aku memiliki uang, aku akan pulang ke rumah dan bekerja di sana meskipun murah betul hargaku; lima ribu rupiah sehari. Tapi aku tak perlu mendengar makian-makian ini. Namun… Tuan M. Ah! Kasihan dia kalau kutinggalkan. Anak laki-lakinya bodoh dan pemalas. Keluarga ini pasti akan bangkrut. Ya? Hm… aku takkan menyia-nyiakan waktu untuk perkara begini ini. Lihat anjing tua itu! Seperti seorang manusia tua bangka di ambang kematiannya; pasrah, tidur mendengkur.”

Malam hari yang berudara dingin telah menelan matahari. Aku duduk di jendela kamar dekat ruang kerja Tuan M. Aku melihat bulan; bulan seperti tersenyum. Apakah enak menjadi bulan? Apakah ia memiliki cinta dan kasih sayang seperti manusia? Kalau ya… bagaimana aku bisa ke sana? Tidak… sekarang ini aku hanya ingin membaca sebuah buku, Cerita dari Blora karya seorang sastrawan besar, Pram! Dan ya… sebuah buku puisi Perahu Mabuk karya Penyair Saut! Ahoi… Mama aku akan segera pulang dan membawa pakaian baru untukmu. Ya… pakaian baru! Lama sudah waktu berlalu, tak kulihat kau mengenakan satu pakaian baru pun. Upahmu selalu habis di tangan ayah yang pemabuk dan penjudi! Aku menceracau, “Anjing tua, pasrah dan mendengkur! Anjing kecil, penjilat! Iblis hidup!”

Tiba-tiba sorot lampu sebuah mobil menyilaukan mataku. Itulah tamu Tuan M dan Tuan M sendiri. Aku keluar kamar dan mengendap-endap dalam temaram malam, kemudian sampailah aku di jendela rumah Tuan M yang persis di samping meja makan; mungkin sepuluh kaki jaraknya. Seorang lelaki gagah, klimis, berkumis tebal, dan lagatnya seperti seorang yang berpengaruh. Dari balik jendela, aku bisa mendengar suara mereka. Suara Tuan M yang tertawa terbahak-bahak dan suara anak perempuan tamu itu. Ya… sepertinya tamu itu kerabat Tuan M. Mereka begitu dekat. Aku semringah.

“Sesuatu yang menyedihkan terjadi…” kata tamu itu dengan nada agak sendu. “Orang-orang miskin yang malang. Kampung mereka hangus terbakar. Perkebunan dan rumah baja benar-benar menghabisi hak-hak mereka. Sekarang, yang kudengar, orang-orang miskin yang malang telah meninggalkan kampung itu. Dan… entah ke mana mereka. Semoga Tuhan senantiasa melindungi mereka.”

Keesokan hari, Tuan M menendang pintu kamarku. Ia marah karena aku kesiangan. Ia menyiramku. Aku bangkit dan tak berani berkata suatu apa. Sepasang mata Tuan M seperti berapi, murka, ketika menatapku. Aku menunduk dan ya… tak berkata suatu apa. Kemudian Tuan M menghampiriku. Badanku bergetar, ketakutan. Ampun Tuan M! Ampun… Tuan M semakin dekat. Badanku semakin bergetar hebat.

“Kesiangan adalah masalah orang-orang miskin dan orang-orang terdidik di negeri ini! Sekarang bangun dan mandilah! Ada banyak pekerjaan hari ini!” kata Tuan M sembar mengelus-elus kumisnya. Badanku masih bergetar, ketakutan. Aku berjalan perlahan menuju sebuah kolam, kemudian meloncat ke dalam kolam itu. Terasa semua yang berkecamuk di hatiku hilang. Aku merasakan diriku penuh dengan kekuatan. Aku tak lagi merasa takut. Aku… aku menemukan diriku yang sejati di dalam kolam ini. Namun setelah muncul, aku masih berada di rumah Tuan M. Dan aku harus bekerja.

“Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu…” aku menggumam sembari mengamplas kaki-kaki meja.

“Apa?” Tanya Tuan M mengagetkanku.

“Tak apa, Tuan…”

“Jangan berbohong, Kismin! Apa yang kau ucapkan tadi?”

“Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu… Tuan. Penggalan puisi.”

“Puisi? Kau menyukai puisi?”

“Ya… Tuan. Saya menyukai puisi.”

“Penggalan puisi siapa yang kau baca tadi?”
“Saut Situmorang, Tuan.”

“Seorang Batak! Apa kau ingin menjadi seorang penyair, Kismin? Kau punya biaya untuk sekolah sastra? Ha-ha… tak ada gunanya, Kismin. Menjadi seorang penyair di negeri ini sama saja menghantarkan dirimu dalam lembah kemiskinan dan rasa iba!”

“Kenapa begitu Tuan?”

“Buka matamu, Kismin, anjing kecilku! Masa-masa sekarang ini adalah masa-masa sulit. Di mana semua orang menghalalkan mencuri, membunuh, memperkosa, dan yang paling mengerikan menjadikan agama sebagai senjata menindas sesama manusia dan batu lompatan kekuasaan dirinya. Yang harus kau pelajari sekarang adalah bagaimana cara membuat kaki meja sama-rata.”

Aku diam. Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu… terngiang di telingaku. Ya… Tuan M benar. Masa-masa sulit telah membuat orang menghalalkan mencuri, membunuh, memperkosa, dan yang paling mengerikan adalah menjadikan agama sebagai senjata menindas sesame manusia dan batu lompatan kekuasaan dirinya. Ya… aku akan mengikuti perkataan Tuan M; bagaimana cara membuat kaki meja sama-rata, agar aku tak dipanggil “Anjing kecil” lagi. Ya… aku bersumpah dalam hatiku.

2019, Yogyakarta.
Cerita ini diilhami oleh puisi Saut Situmorang, Andung-Andung Petualang.

Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia
Muhammad Yasir

Muhammad Yasir

Muhammad Yasir adalah penyair dan cerpenis yang menyelesaikan studi Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Saat ini, Muhammad Yasir tinggal di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Menulis, baginya, merupakan cara menempa keberanian seorang manusia.

Terkait Pos

Ilustrasi Meta AI
Pena Sastra

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026

Sepatu yang awalnya tersusun rapi kini kembali kosong, ruang kelas kembali senyap, tapi getaran suara riuhnya seakan masih bergelora. Siang...

Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI
Pena Sastra

Sura dan Kaphi

November 30, 2025

Disebuah betang tua yang telah berdiri selama tujuh generasi, kehidupan selalu bergerak pelan namun penuh makna. Rumah kayu panjang itu...

ecangkir Kopi, untuk-Mu Sang Maha
Prosa

Secangkir Kopi, untukMu Sang Maha

Juni 2, 2025

Refleksi spiritual tentang iman, kelelahan batin, dan dialog penuh makna dengan Tuhan di malam sunyi bersama secangkir kopi.

Pseudoscience Cinta
Pena Sastra

Pseudoscience Cinta

Februari 1, 2026

Aku hanya bisa menatapnya, tak mampu mengutarakan isi hatiku. Sekalipun aku bisa mengungkapkan apa yang tersimpan, aku tetap tidak bisa...

Pena Sastra

Ketika Semua Hilang

Mei 16, 2025

Lukisan malam sunyi, pria menulis surat di meja kayu, cahaya bulan temaram masuk lewat jendela tua.

Ilustrasi Mahasiswa 1998.
Pena Sastra

Oh Andai, Sembilan Lapan

Mei 9, 2025

Andai aku hidup di era 1998, ku rasa tak ada yang lebih penting di pikiran mahasiswa selain perjuangan… Andai aku...

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

Desember 12, 2024

Menyimak Perdebatan Tiga Elemen dalam Pikiran: Menuju Kesadaran Nyata

Juni 2, 2025

Kita Adalah “Pembunuh” yang Lain

Maret 4, 2025

Teranyam Sendu Namamu

Juni 9, 2025

Malam yang Mengubah Sebuah Janji

0

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

0
Lumbung Pangan

Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

0
Beberapa mahasiswa di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar Aksi Kamisan untuk mengingatkan kembali kasus pelanggaran hak asasi manusia, Kamis (18/1/2024). FOTO: KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Ketika Polisi Menjadi Pelaku Kekerasan

0
Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

April 17, 2026
apa kabar?

apa kabar?

Maret 4, 2026
Ilustrasi Meta AI

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026
Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

Februari 17, 2026

  • Sejarah
  • Dapur
  • Menjadi Suara Melalui Tulisan
  • Galeri Kami

Copyright © SwaraPena - Komunitas Menulis Borneo

No Result
View All Result
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar
  • Pena Artikel
  • Pena Opini

Komunitas Menulis Borneo - Swara Pena

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In