Kalau pun kelak aku akan menjadi manusia yang berguna untuk orang-orang miskin, maka sungguh pun itu karena fungsiku sebagai manusia. Aku tak punya waktu untuk berkhayal menjadi seorang kaya atau seorang yang memiliki segala; rumah, keluarga, harta, dan takhta. Tuan M melarangku menghabiskan waktu untuk suatu kesia-siaan. Tuan M menganggap berkhayal merupakan suatu kesia-siaan! Maka dari itu ia selalu marah dan menarik telingaku hingga merah apabila aku kedapatan duduk di bawah pohon di halaman rumahnya sembari menatap langit; oh… langit, hamparan logam biru yang tak pernah bicara seperti ah… betapa pun uang logam seribu rupiah itu dapat membeli seperempat roti untuk meredam lapar di perutku. Tuan M selalu mengajariku untuk menjadi manusia yang berguna! Berguna untuk keluarganya dan… ya harapanku: berguna untuk semua orang! Kadang aku tertawa dalam hati ketika melihat raut wajah Tuan M bicara begitu dan… ketika memarahi anak laki-lakinya yang bodoh dan pemalas. Namanya… tak penting.
Hargaku lima ratus ribu sebulan. Seorang anak laki-laki yang bekerja di sebuah rumah Tuan M, harganya satu juta rupiah sebulan; lima ratus ribu lebih tinggi dari hargaku. Setiap hari Jumat malam, ia selalu pergi ke pasar malam di kota untuk membeli pakaian baru dan… ah! Sesuatu yang ingin sekali kubeli; sepatu. Aku ingin sekali memiliki sepatu baru, sebab sepatu pembelian ibuku sekarang lusuh dan alakadarnya. Untuk tetap bisa digunakan, seminggu sekali aku mengelemnya. Sebenarnya, bisa saja aku membeli sepatu baru. Namun, kemiskinan yang melanda keluargaku membuatku menguburkan segala ingin untuk bertahun kedepan—mungkin lebih. Alhasil, acap kali anak laki-laki itu memakai sepatunya di hari Minggu, lagi-lagi aku hanya bisa berkhayal; anak laki-laki itulah aku.
Anak laki-laki Tuan M bodoh dan pemalas, dan jahat juga. Padaku ia selalu meluapkan kekesalannya ketika Tuan M memarahinya. Untuk meluapkan kekesalannya itu, aku harus menuruti segala perintahnya; mengambil buah apel, membacakan cerita, mengerjakan pekerjaan sekolah, menyiapkan air hangat, dan seterusnya. Aku tak memiliki hak untuk sekadar membantah apa lagi menolak perintahnya. Ia akan mengadu kepada ibunya dan aku akan mendapatkan hukuman; tak dapat makan malam. Pernah suatu kali, karena tak agak sakit, aku menolak perintah anak laki-laki itu. Iapun mengadu kepada ibunya dan ya… aku dihukum semalaman tidur di beranda bersama seekor anjing tua yang sama baunya denganku. Anjing itu payah seperti manusia tua kebanyakan. Ia jarang sekali menggonggog, sekali pun seekor tupai mengencingi wajahnya. Dan ya… malam itu aku terjaga; udara dingin dan suara burung malam ialah kengerian tersendiri untukku.
Pada suatu waktu, Tuan M berbaik hati padaku. Ia membelikanku pakaian bekas—mungkin kebaikan hatinya itu muncul ketika ia melihat pakaianku yang tak layak lagi—di kota. Ya… aku hampir saja lupa. Dalam sebulan, Tuan M akan pergi ke kota untuk menyetor kursi, meja, almari, bahkan ranjang yang ia buat ke sebuah toko besar di sana. Ia tak pernah mengajakku ke kota. Katanya, kota adalah tempat yang jahat dan mengerikan untuk anak seusiaku. Kota tak ubahnya rimba belantara, di mana binatang saling mangsa untuk bertahan hidup dan berkuasa. Tuan M khawatir kalau aku ikut dengannya, binatang-binatang buas di kota akan memangsaku. Dan ya… tentu saja ia akan merugi secara tenaga. Katanya lagi, aku ini anak laki-laki yang kuat, cekatan, dan rajin. Kalau sampai-sampai Tuan M kehilangan aku, jelas sudah ia merugi dua kali.
“Kismin! Kemarilah, anjing kecil!” istri Tuan M memanggilku. Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kalau tidak… iblis itu akan menarik telingaku hingga merah dan berdengung.
“Ya? Apa yang bisa saya kerjakan? Bukankah sekarang hari libur, Nyonya?”
“Dasar anjing kecil bau!” makinya. “Apakah hari libur lantas membuatmu lupa siapa dirimu? Kau… sama saja seperti keluargamu! Miskin dan penjilat.”
“Iblis!” aku membatin. “Apa yang bisa saya kerjakan untuk Nyonya sekarang?”
“Cuci taplak meja! Setelah itu pel seluruh lantai rumah. Akan ada seorang tamu istimewa malam ini. Jangan banyak bengong, anjing kecil! Lekas kerjakan!”
Ya… akan ada seorang tamu istimewa datang ke rumah Tuan M. Tapi aku tak begitu memikirkannya. Aku melakukan apa yang telah diperintahkan padaku agar segera selesai dan aku bisa menghabiskan waktu yang tersisa untuk membaca atau sekadar berkhayal di atas pohon sana. Dua jam kemudian, pekerjaanku selesai. Aku naik ke atas pohon di halaman rumah Tuan M dan mencoba memjamkan mataku. Namun, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari rumah tetanggaku; teriakan anak laki-laki itu, ya! Apa yang telah terjadi? Aku berdiri dan berpegangan pada sebatang dahan. Semenit kemudian, keluarlah Tuan… ah! Aku lupa namanya, dan anak laki-laki itu.
“Ampun, Tuan! Ampun! Saya… saya tidak mencurinya. Itu fitnah!” kata anak laki-laki itu sayup-sayup. “Ampun, Tuan…”
Namun tuannya tak menghiraukan perkataan anak laki-laki itu. Ia terus memukuli, menendangi, kemudian melemparan sebuah bundelan; pakaian anak laki-laki itu, dan berkata: “Kalian orang-orang miskin memang setan! Laknat! Terkutuk! Pergi kau… anjing! Sudah kutampung kau baik-baik. Kupekerjakan kau baik-baik, kau malah mengkhianatku! Setan! Pergi kau! Pergi!” Anak itupun pergi sembari menahan sakit dan terus menangis. Dan aku kembali bersandar di sebatang dahan yang lebih besar.
“Benarkah orang-orang miskin itu setan? Anjing penjilat?” Aku membatin. “Kalau ya… berarti keluargaku pun? Ah… kenapa harus ada miskin di dunia ini? Kalau saja… ya! Kalau saja aku memiliki uang, aku akan pulang ke rumah dan bekerja di sana meskipun murah betul hargaku; lima ribu rupiah sehari. Tapi aku tak perlu mendengar makian-makian ini. Namun… Tuan M. Ah! Kasihan dia kalau kutinggalkan. Anak laki-lakinya bodoh dan pemalas. Keluarga ini pasti akan bangkrut. Ya? Hm… aku takkan menyia-nyiakan waktu untuk perkara begini ini. Lihat anjing tua itu! Seperti seorang manusia tua bangka di ambang kematiannya; pasrah, tidur mendengkur.”
Malam hari yang berudara dingin telah menelan matahari. Aku duduk di jendela kamar dekat ruang kerja Tuan M. Aku melihat bulan; bulan seperti tersenyum. Apakah enak menjadi bulan? Apakah ia memiliki cinta dan kasih sayang seperti manusia? Kalau ya… bagaimana aku bisa ke sana? Tidak… sekarang ini aku hanya ingin membaca sebuah buku, Cerita dari Blora karya seorang sastrawan besar, Pram! Dan ya… sebuah buku puisi Perahu Mabuk karya Penyair Saut! Ahoi… Mama aku akan segera pulang dan membawa pakaian baru untukmu. Ya… pakaian baru! Lama sudah waktu berlalu, tak kulihat kau mengenakan satu pakaian baru pun. Upahmu selalu habis di tangan ayah yang pemabuk dan penjudi! Aku menceracau, “Anjing tua, pasrah dan mendengkur! Anjing kecil, penjilat! Iblis hidup!”
Tiba-tiba sorot lampu sebuah mobil menyilaukan mataku. Itulah tamu Tuan M dan Tuan M sendiri. Aku keluar kamar dan mengendap-endap dalam temaram malam, kemudian sampailah aku di jendela rumah Tuan M yang persis di samping meja makan; mungkin sepuluh kaki jaraknya. Seorang lelaki gagah, klimis, berkumis tebal, dan lagatnya seperti seorang yang berpengaruh. Dari balik jendela, aku bisa mendengar suara mereka. Suara Tuan M yang tertawa terbahak-bahak dan suara anak perempuan tamu itu. Ya… sepertinya tamu itu kerabat Tuan M. Mereka begitu dekat. Aku semringah.
“Sesuatu yang menyedihkan terjadi…” kata tamu itu dengan nada agak sendu. “Orang-orang miskin yang malang. Kampung mereka hangus terbakar. Perkebunan dan rumah baja benar-benar menghabisi hak-hak mereka. Sekarang, yang kudengar, orang-orang miskin yang malang telah meninggalkan kampung itu. Dan… entah ke mana mereka. Semoga Tuhan senantiasa melindungi mereka.”
Keesokan hari, Tuan M menendang pintu kamarku. Ia marah karena aku kesiangan. Ia menyiramku. Aku bangkit dan tak berani berkata suatu apa. Sepasang mata Tuan M seperti berapi, murka, ketika menatapku. Aku menunduk dan ya… tak berkata suatu apa. Kemudian Tuan M menghampiriku. Badanku bergetar, ketakutan. Ampun Tuan M! Ampun… Tuan M semakin dekat. Badanku semakin bergetar hebat.
“Kesiangan adalah masalah orang-orang miskin dan orang-orang terdidik di negeri ini! Sekarang bangun dan mandilah! Ada banyak pekerjaan hari ini!” kata Tuan M sembar mengelus-elus kumisnya. Badanku masih bergetar, ketakutan. Aku berjalan perlahan menuju sebuah kolam, kemudian meloncat ke dalam kolam itu. Terasa semua yang berkecamuk di hatiku hilang. Aku merasakan diriku penuh dengan kekuatan. Aku tak lagi merasa takut. Aku… aku menemukan diriku yang sejati di dalam kolam ini. Namun setelah muncul, aku masih berada di rumah Tuan M. Dan aku harus bekerja.
“Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu…” aku menggumam sembari mengamplas kaki-kaki meja.
“Apa?” Tanya Tuan M mengagetkanku.
“Tak apa, Tuan…”
“Jangan berbohong, Kismin! Apa yang kau ucapkan tadi?”
“Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu… Tuan. Penggalan puisi.”
“Puisi? Kau menyukai puisi?”
“Ya… Tuan. Saya menyukai puisi.”
“Penggalan puisi siapa yang kau baca tadi?”
“Saut Situmorang, Tuan.”
“Seorang Batak! Apa kau ingin menjadi seorang penyair, Kismin? Kau punya biaya untuk sekolah sastra? Ha-ha… tak ada gunanya, Kismin. Menjadi seorang penyair di negeri ini sama saja menghantarkan dirimu dalam lembah kemiskinan dan rasa iba!”
“Kenapa begitu Tuan?”
“Buka matamu, Kismin, anjing kecilku! Masa-masa sekarang ini adalah masa-masa sulit. Di mana semua orang menghalalkan mencuri, membunuh, memperkosa, dan yang paling mengerikan menjadikan agama sebagai senjata menindas sesama manusia dan batu lompatan kekuasaan dirinya. Yang harus kau pelajari sekarang adalah bagaimana cara membuat kaki meja sama-rata.”
Aku diam. Kalau kau pergi anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu… terngiang di telingaku. Ya… Tuan M benar. Masa-masa sulit telah membuat orang menghalalkan mencuri, membunuh, memperkosa, dan yang paling mengerikan adalah menjadikan agama sebagai senjata menindas sesame manusia dan batu lompatan kekuasaan dirinya. Ya… aku akan mengikuti perkataan Tuan M; bagaimana cara membuat kaki meja sama-rata, agar aku tak dipanggil “Anjing kecil” lagi. Ya… aku bersumpah dalam hatiku.
2019, Yogyakarta.
Cerita ini diilhami oleh puisi Saut Situmorang, Andung-Andung Petualang.













































