Catatan: “Sang” dalam tulisan ini merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, pribadi ilahi yang lembut dan dekat dalam perenungan ini.
Malam itu sunyi. Gulita menyelubungi tanaman di teras rumah. Ada suara-suara yang tersembunyi—bukan dari harap, tetapi dari kepulan asap batang keretek yang masih menyala.
Di tengah kegelapan, seorang pria duduk di kursi tua. Ia hanya ditemani secangkir kopi hangat, berembus perlahan bersama uap dari air yang baru saja mendidih.
Tak seperti biasanya, malam itu ia menyeduh dua cangkir. Satu untuk dirinya. Satu lagi ia letakkan di atas meja, berhadapan dengan bangku kosong yang tak pernah benar-benar kosong.
Bangku itu, disediakan bagi Sang—Sosok Ilahi yang selalu hadir kala ia merindu. Ketika dunia terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Sang: Kau sudah menanti-Ku, ya, Nak?
Pria: Ya. Aku tahu Kau tak pernah benar-benar pergi.
Aku tahu Kau tak akan pernah berpaling dariku.
Tapi… mengapa aku masih merasa begitu sendiri?Sang: Hei, Nak. Aku sudah di sini—bahkan sebelum kau mulai menunggu-Ku.
Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Kau duduk dan menanti hadirat-Ku dengan secangkir kopi hangat.Pria: Aku tidak tahu harus bagaimana, Sang.
Masalah datang bertubi-tubi. Aku merasa hancur, tertekan, lelah.
Kadang aku bertanya: apakah aku berguna? Apakah kehadiranku disukai orang-orang di sekitarku?
Aku capek bersikap baik dan adil, sementara hatiku rapuh…Sang: (tersenyum lembut, menurunkan cangkir kopi yang baru saja disesap-Nya)
Sungguh ironis, ya?
Sosok manusia yang terbiasa menyenangkan, justru paling sering merasa sendiri…
Bahkan ketika engkau berada di tengah keramaian.
Bola matanya menatap langit yang basah namun berbintang. Dengan suara parau dan berat, ia lontarkan isi hatinya pada-Nya.
Pria: Apakah aku kurang yakin, Sang?
Apakah karena aku tidak cukup percaya kepada-Mu, maka jadinya begini?
Mereka bilang aku kekurangan iman. Bahkan, Engkau tak sudi memerintahkan Roh Kudus hadir dalam diriku.
Iya… itu dikatakan pelayan-Mu di gereja yang menyembah di bawah salib-Mu pada Minggu lalu.Sang: (Ia menatap langit yang sama, lalu perlahan menoleh)
Pernahkah kau melihat alat untuk mengukur iman?
Di laboratorium? Atau mungkin… di atas mimbar gereja?Pria: Tidak, Sang. Aku… tidak. Tidak pernah tahu sama sekali.
Sang: Lalu… bagaimana mereka bisa menilai imanmu?
Pria itu terdiam. Waktu berjalan lambat. Kata-kata Sang menggantung di udara malam yang sejuk.
Sang: Aku selalu ada. Selalu di sisimu, mendengar, Nak.
Ketika kau hanya ingin berbisik dalam diam… bahkan saat air matamu jatuh tanpa suara.
Ceritakan saja pada-Ku… tentang apa yang membuatmu resah.Pria: Aku takut, Sang. Aku sempat berpikir… mungkin Engkau telah marah kepadaku.
Sang: (sambil menyentuh pundaknya dengan lembut)
Dengarkan Aku sebentar, Nak…
Tahukah kau, apakah matahari marah kepada bunga yang layu?
Atau mungkinkah seorang ayah hanya memeluk anaknya saat ia terlihat kuat?Iman bukan kekuatan yang tanpa luka.
Iman bukan jaminan kau bebas dari badai.
Iman adalah fondasi… ketika kau tetap berdiri meski dunia sekelilingmu runtuh.
Pria: Tapi Sang… (ia berusaha menanggapi, ragu)
Sang: Nak. Lihatlah Daud, Ayub, Elia, bahkan Yunus.
Mereka semua menangis, berantakan, merasa putus asa.
Namun justru dalam remuk hati merekalah iman bertumbuh.Pria: Lalu… bagaimana dengan rasa hancurku ini?
Perasaan hampa, tak berguna… bukankah itu tanda bahwa imanku goyah?Sang: Bukan, Nak. Justru saat kau mempertanyakan-Ku dan tetap mencari-Ku…
Itulah bentuk iman yang paling jujur.
Aku mencintaimu, bukan karena kamu kuat.
Aku mencintaimu… karena kamu adalah Anak-Ku.
Tak peduli seberapa hancur dirimu atau sejauh apa kau pernah pergi—Aku tetap mencintaimu.
Sang: Thomas—murid-Ku di bumi ini—ia pun meragu.
Ia bahkan tidak percaya sebelum menyentuh luka di tangan-Ku.
Tapi tahukah kau? Ia bukan hanya ragu—ia hancur karena kehilangan.
Dan melalui keraguannya, dunia melihat bukti bahwa Aku telah bangkit dari kematian-Ku.
Pria itu terdiam. Bukan karena beban, tapi karena damai mulai merayap masuk.
Sendinya yang sempat terasa ngilu kini hangat.
Saat itulah Sang berbicara kembali—mengungkap kebenaran yang ia butuhkan.
Sang: Pada akhirnya, Anak-Ku…
Iman bukanlah tameng dari rasa sedih.
Bukan penolak air mata.
Iman adalah keberanian untuk tetap percaya, meski gelap belum berlalu.
Pria: Maaf… aku telah salah mencintai-Mu.
Caraku yang rumit ini… ternyata Engkau begitu sederhana dan melimpah. Maaf.Sang: Air matamu bukan tanda kegagalan.
Air matamu… adalah bentuk paling murni dari iman yang jujur.
Pria itu akhirnya bersandar pada kursi tuanya. Nafasnya kini lebih tenang, matanya lebih teduh.
Tubuhnya yang berat kini terasa ringan. Kursi tua itu pun menampungnya dengan damai.
Pria: Jadi… ini bukan soal seberapa kuat aku, ya Sang. Tapi seberapa tulus aku mempercayai-Mu?
Sang: Benar. Itu tepat sekali, Nak.
Iman adalah perjalanan, bukan tujuan akhir.
Yakinlah, dalam setiap langkahmu… ada Aku menyertaimu.
Bahkan malam ini… Aku duduk di sini bersamamu.
Dengan secangkir kopi yang telah kau sediakan.
Di dalam hatimu… yang masih belajar percaya.
Pria: Terima kasih, Sang…
Engkau tak menuntutku untuk selalu bersinar.
Engkau mau duduk bersamaku…
Di malam sejuk ini… meski hanya dengan secangkir kopi dan hatiku yang belum selesai.Sang: Aku… selalu akan duduk di sini.
Bersamamu.
Setiap malam.
Setiap hening.
Setiap kali kau panggil.
Sebab cinta-Ku tak terburu-buru.
Kasih-Ku… selalu tinggal.
Akhirnya, di tengah sunyi dan gelap malam… suara-Nya terdengar lebih jelas.
Bukan karena dunia telah menjadi lebih tenang,
tetapi karena hati kita… mulai belajar untuk benar-benar mendengar suara Sang Maha.













































