Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
No Result
View All Result
Pseudoscience Cinta

Pseudoscience Cinta

Agus Satria Wijaya G BahenOLEHAgus Satria Wijaya G Bahen
Februari 1, 2026
0 0
Share on FacebookShare on Twitter

Aku hanya bisa menatapnya, tak mampu mengutarakan isi hatiku. Sekalipun aku bisa mengungkapkan apa yang tersimpan, aku tetap tidak bisa menerimanya, karena aku tau itu akan menjadi interaksi kami yang terakhir.

Pagi seperti biasanya, aku beranjak menuju kampus mengendarai kuda besi yang kuangsur selama 2 tahun. Sejenak aku menepi, mampir ke warung membeli ketengan rokok Surya.

Untuk memanjakan lambungku sekotak susu dancow coklat kurasa sudah cukup. Setiba aku di kampus, tempat parkiran telah dikuasai makhluk yang seram tapi membuatku candu. Kelas pagi itu, aku tertinggal dari khutbah-khutbah ilmiah para ahli psikologi.

***

“Kamu telat bangun lagi ya!” dengan nada menekan, sambil ia sumringah.

 

“Heheheh” jawabku sambil mengalihkan pandanganku dari mata indahnya.

 

“Dasar kebiasaan, gak bisa banget ngatur jam istirahat, aku tau kamu bekerja tapi mau sampai kapan dirimu seperti ini terus?”

 

“Ya maaf” jawabku acuh. Respon sedikit lebih berbeda kali ini, aku salah tingkah karena perhatiannya itu.

 

“Pokoknya besok aku gak mau liat kamu telat lagi atau gak masuk kuliah karena ketiduran, lagian kamu tidur kek gimana sih? Masa di-spam telepon sebelas kali gak bangun? Kamu cosplay mayat?”

 

“Ya, namanya budak korporat yang kerjanya malam. Apa yang bisa ku perbuat lagi?”

 

“Ngeles teros! besok kamu harus masuk di mata kuliah pertama, awas saja sampai gak masuk!”

 

“Cerewet betul sendok nyam-nyam”

 

“Gedebuk!” … Bunyi punggung ku yang hampir skoliosis oleh tas ransel berisi tumbler aluminium.

 

“jawab lagi ayo jawab!”

 

“Iya, iya maaf. Weh, sakit tau! Entar aku lumpuh gimana? Iya kalo kamu yang rawat seumur hidup ku, it’s okay aja gak sih. Hehehehe?”

 

“Eh, lah kok bisa gitu, dahlah aku mau balik. Bye!”.

 

Kakinya yang dibungkus celana kain, mulai melangkah meninggalkan diriku di lorong fakultas. Anehnya, aku sedikit gelisah dengan bombastis side eye ketika ia meluncurkan kendaraannya. Pikiranku ku alihkan dari perpisahan sementara itu, aku memikirkan jumlah batang rokok yang tersisa untuk aku hisap di warung sebelah kampus.

 

“Bacot banget si Fani, masa gara-gara aku telat ngampus diomelin sih, kek bawang putih di justifikasi emak tirinya”. Gumanku ketika bokongku telah bersandar pada kursi kayu.

 

“Emang kamu telat berapa lama?” Tetiba, Jason, seorang kawan yang telah menantiku menyambut gumananku itu.

 

“Enggak juga lama banget, cuman 40 menit aja sih”

 

“Sih, dasar Tolol” hujatnya.

 

Aku rasa satu kata itu sudah cukup menggambarkan segala hal yang ada di benak Jason, dan aku mengambil satu batang rokok untuk dinikmati. Tapi dibalik mimik kalut itu, hatiku berdebar tak karuan seperti ombak yang menghantam karang di ujung pantai. Anehnya, itu membuatku memunculkan banyak pertanyaan.

 

“Perasaan apa ini?” tanyaku dalam hati

 

“Woi Jay” panggil Jason memecah lamunan ku.

 

“Oy aku” jawabku

 

“Tipsi-tipsi yok”

 

“Buset siang-siang gini”

 

“Gak papa lah sebotol aja” rayu Jason kepadaku

 

“Males Son”

 

“Tenang, Bos Jason yang bayar” dengan nada meminta namun meyakinkan ku.

 

“Oke boleh” aku mengiyakannya

 

Satu botol cairan putih jernih pun hadir di tengah-tengah kami, arak dengan kekayaan lokal itu menemani perbincangan yang menyetarakan posisi antar pria setengah matang. Dari begitu banyaknya pembicaraan, ada satu topik yang cukup menarik. Topik itu memaksa kami untuk melampaui realita usia.

 

“Jay, dari semua cewek di kelas kita siapa yang pengen lu jadiin istri?”.

 

“Fani” tegasku.

 

“Widih gokil juga selera mu Jay, kenapa harus Fani?”

 

“Son, Fani itu paling pinter di kelas, orangnya disiplin gak suka yang bertele-tele, terus dia berbakat lagi, sumpah dia tuh macam Marilyn Monroe Son”

 

“Iya sih bener, tapi aku heran kenapa ya dia tuh, sering ribut sama kamu Jay?”

 

“Nah, gak tau sih son. Mungkin karena aku bego kali?”

 

“Ya, itu suatu fakta yang konkrit sih”

 

“Wah kurang ajar kamu son, Ku kempesin juga nih ban motor mu!”.

 

“Jangan-jangan kamu baper Jay sama Fani?” Senyum mengejek dari Jason membuatku kesal tapi aku salah tingkah dengan pertanyaan itu.

 

“Apaan sih Son gak jelas banget, mana mungkin aku baper sama Fani, aku ini pria bebas dan punya prinsip, ya kali aku disetir cewek,” tegas ku dengan sedikit menggit bibirku sendiri.

 

“Halah bohong banget lu Jay Jay, liat tuh mukamu merah kaya kejedot buah pinang. Hahaha!” Tawa Jason mengejek ku lagi dan lagi …

 

“Gini son, kamu kenal aku kan? udah aku bilang gak mungkin aku naksir sama Fani”.

 

“Eits, btw nih kok aku liat kamu mulai rajin ngampus dan nugas, habis kesambet apa kamu jay?” tanya Jason untuk mengalihkan keseriusan dan nada ku yang mulai sedikit tegas.

 

“Namanya juga pengen jadi profesor psikoanalisis terbaik se-jekan raya masa iya malas-malasan”.

 

“Najis” serapah Jason yang kedua kali.

 

Sekarang sudah penghujung semester 4 waktu memang tidak terasa padahal rasanya baru kemarin saja aku ikut PKKMB, tanpa ku duga sekarang sudah setengah perjalanan dan IPK ku hanya 2,3. Sungguh kebodohan kuadrat.

 

***

Besoknya aku bertemu Fani di kampus tetapi ada yang berbeda, dia terlihat lebih dingin dari biasanya. Hariku akan hangat jika ia melontarkan cerewtnya itu kepadaku. Aku heran tumben sekali Fani bersikap seperti ini, biasanya dia akan mencoba memukul perutku saat menyapaku, tapi kali ini hanya raut cuek yang ada di wajahnya. Aku mencoba menyapanya, akan tetapi tidak digubris. Itu berjalan hingga 2 minggu lamanya.

 

“Sombong banget sih fan, macam selebgram karbit diajak ngobrol gak ditanggep-tanggepin sih”. Aku mencoba mengejar langkah Fani, menyesuaikan seirama dengan langkah kakinya.

 

“Mau sampai kapan sih jadi bego kaya gini?”

 

“Buju buset langsung dibego-begoin aja nih, gak ada gitu kata yang lebih halus kek, panggil si ganteng jaya atau apa kek” rayuku pada Fani.

 

“Haha” hanya kata itu yang ia jadikan sambutan atas rayuanku.

 

“Masalah kamu apa sih? Tau-tau ketus gini mau aku sumpahin kamu tambah pendek biar kaya baliho pijat Mak Erot?”

 

“Males ngomong sama pantat ogre, kamu  minum kan di samping kampus!”

 

Aku terdiam sejenak, sekitar 5 detik otak ku bereaksi penuh kandungan kimia, yang menunggu ledakan-ledakan kecil untuk sebuah kebohongan.

 

“Kapan aku minum?”

 

“Halah, gak usah bohong Jay. Aku ada liat mukamu merah, sampai ngomong ngelantur begitu waktu itu!”

 

“Oh Tuhan”.

 

“Bener kan? Jujur aja gak usah banyak ngeles”

 

“Maaf, maaf. Iyaa, aku ada minum” sambil tersenyum tipis dan wajahku memerah karena gagal berbohong.

 

Aku mencoba membujuk Fani setengah mati, karena temperamennya cukup kuat, seperti memiliki hauso haki di komik one piece.

Fani menulikan telinganya seakan-akan tidak ada siapapun di sebelahnya, aku semakin kebingungan menghadapi mood Fani yang sedang jelek.

 

“Apapun yang kamu mau aku beliin, Pentol tikus mas Steven mau? Es krim kangkung? Atau seblak Socrates? Sini ngomong sama om jaya maka akan ku pindahkan gunung itu dengan iman sebesar biji sesawi karena akulah pria paling mapan di kampus ini, semua yang kamu mau akan kulakukan”. Ku coba lagi untuk mencaikan perasaannya

 

“Semuanya? Apapun itu?”. Balasnya

 

“Yes, of course baby girl, apapun itu” aku rasa sedikit gombalan tidak masalah.

 

“Dengar ini baik-baik! Kelakuan kamu minum arak itu udah keterlaluan, apalagi di sekitar kampus, kamu gak mikir dirimu sendiri apa? Dan kamu lihat IPK mu! Jelek banget Jay sumpah aku tau kamu kerja, tapi masa iya kamu capek-capek kerja buat bayar kuliah tapi cuman dapat nilai segitu!” Tembaknya seketika menghujam ginjal ku, dan aku hanya menunduk pelan dan mendengarkannya.

 

“Pokoknya aku gak mau tau. Mulai semester 5 nanti, hingga semester akhir. Kamu wajib lulus semua mata kuliah, dan gak boleh ada nilai yang gak lulus! IPK mu wajib di atas 3, ngerti?” tambahnya lagi.

 

Sontak aku terkejut, ini adalah situasi yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya. Tantangan darinya membuat gejolak di hatiku, seperti letupan magma yang ingin segera meng-erupsi pemukiman di bawah kaki gunung merapi. Dengan tatapan kosong, tubuhku pun ikut mematung, melihat binar matanya yang tegas dan bibir tipisnya yang mengatup penuh dengan harapan itu.

Untuk yang kesekian kalinya, aku ingin memeluknya dengan erat karena sikapnya itu. Namun, tak kulakukan karena bisa-bisa aku ditamparnya. Saat itu pula, aku berjanji kepadanya terlebih kepada diriku, aku akan menjadi lebih baik.

Fani pun pergi dari hadapanku, meninggalkan tantangan yang harus kuhadapi dengan kenyataan. Sungguh ini menambah gelembung-gelembung pertanyaan dipikiranku.

 

***

Pada malam hari, selesai aku bekerja. Otak ku menuntut haknya, memaksa aku untuk duduk di selasar café. Kunyalakan rokok di tanganku, ku tarik dalam-dalam. Aku terdiam sejenak, mengingat kejadian tadi pagi.

 

“Aku terus berguman, apa-apaan sikap ya sikap Fani itu. Diakan udah punya pacar ya, apakah itu hanya perhatiannya sebagai teman? Tapi, teman-teman ku yang lain gak segitunya tuh, tau ah anjir banget lah mikirin kekonyolan pikiran ku ini, gak guna baget”

 

Situasi yang konyol itu, aku alihkan. Sebentar lagi, kampusku akan melaksankan Ujian Akhir Semester. Aku harus belajar lebih rajin, sepertinya jika hanya mengulas yang pernah diajarin dosen aja gak cukup. Aku harus mulai mebaca buku-buku baru dan jurnal, supaya bisa jadi Profesor se-palangka-an.

Sejak saat itu, mataku hanya terfokus pada 2 prioritas. Sewaktu selesai pekerjaan, sekalipun itu tengah malam. Aku membaca hingga subuh mencoba memahami teori-teori yang belum diajari di mata kuliah. Sedang yang kedua, memahami tatapan Fani ketika setiap kali kami bertemu. Belajar.. belajar… dan belajar terus menerus tanpa henti, ditemani sekotak rokok untuk medorong neurotik dari kandungan nikotin, dan aku tentunya buku-buku psikologi.

 

*Keesokan harinya di kampus*

 

Aku memasang TWS ditelingaku, tentu saja mood ku sedang bersemangat, kuputarlah lagu “come and get your love” dari band redbone. Aku merasa menjadi seperti Peter Quill di saat entrance pertamanya di film guardian of galaxy. Kaki ku melangkah dan menari kecil menuju gedung fakultas dengan confidence yang sangat tinggi, seolah-olah akulah raja di kampus ini.

 

Lalu aku melihat siluet imut melangkah mendahului aku, hidungku mencium aroma yang ku candu. Betul saja, si mungil Fani dengan wajah juteknya yang tetap terpasang dan menganggapku tak ada, sekalipun suara dari mulut dan bahkan hatiku telah berulang kali memanggil namanya. Tetapi tetap saja dia tidak menggubrisku.

 

“Wah, wah, wah. Anak ini, masih marah ternyata si sendok nyam-nyam. Kampret lah”. Gumanku kesal sendiri.

 

Di kelas, saat mata kuliah berlangsung. Aku tertidur karena kelelahan bekerja, belajar, dan bahkan memikirkan si Fani. Bersyukurnya, dosen yang mengajar saat itu mengerti mengapa aku tertidur. Hampir semua dosen mengetahui bahwa aku Ras Pekerja, ahaha. Aku bekerja di malam hari hingga subuh, jadi bila aku tertidur saat kelas berlangsung mereka memberikan toleransinya padaku. Ya, walaupun aku bisa tertinggal pelajaran, namun sungguh benar-benar menjadi anak emas aku karenanya.

 

“Jaya habis kerja ya?” tanya dosen pada Jason

 

“Iya pak, memang sering gini dia di setiap mata kuliah”

 

“Emang dia nanti nangkep ya yang saya ajarkan tadi?”

 

“Nah, kayaknya nangkep sih pak. Tapi yaitu pak, kadang asbun juga nih anak” ejek Jason

Suara dosen dengan Jason terdengar samar, bagaimana tidak, aku tenggelam dalam kantuk yang menggantung di pelupuk mataku. Tubuhku yang telah kupaksakan ini, merasakan kelas siang itu terlalu panas, terlalu panjang, dan terlalu membosankan.

“…kalau begitu, siapa di sini yang bisa menjelaskan apa itu pseudoscience?”

Sontak aku terbangun, ketika pak dosen dengan suara sedikit lantang menyebutkan kata “pseudoscience”. Mata ku menyisir keadaan sekitar, beberapa kepala menunduk dan sebagiannya saling lirik-lirikan. Aku masih telungkup di meja, menahan beler liur yang mau berontak keluar dari bibir sebelah kiri. Tapi, dalam kondisi setengah sadar itu. Mulut ku mulai bekerja mendahului perintah otak ku, dengan suara berat dan agak serak.

Aku menjawab, “Pseudoscience itu… ilmu semu, Pak.”

Kondisi itu seperti film horror, semua mata menoleh ke arahku. Pak dosen menaikkan alisnya.

“Bangun tidur langsung jawab?”

“Ya, Pak. Mimpi saya barusan kayaknya isinya zodiak dan golongan darah,” jawabku santai.

“Pseudoscience itu sesuatu yang kelihatannya ilmiah, tapi sebenernya gak punya bukti kuat. Kayak waktu orang percaya ramalan bintang bisa nentuin nasib, atau ketika orang mikir mereka cocok sama pasangan cuma karena tanggal lahir.” lanjutku lagi.
“Masalahnya, kadang orang lebih suka percaya itu… karena rasanya lebih mudah diterima daripada fakta. Lebih nyaman, lebih menenangkan. Padahal bisa jadi menyesatkan juga”. Mengakhiri argumenku.

Bapak menatapku dengan ekspresi setengah kagum, bahkan setengah bingung.

“Lain kali, coba tidur disetiap kelas saya, Jaya. Siapa tahu bangunnya selalu sepintar ini.”

Tawa pecah di seluruh ruangan. Aku hanya menyandarkan tubuh kembali ke kursi, tersenyum kecil merasa menjadi yang paling keren, saat itu akulah MPV nya. Dalam hati, aku tahu… mungkin hidupku sendiri pun kadang penuh dengan pseudoscience versi perasaan. Percaya Fani adalah sosok yang indah, tapi hanya bisa aku gapai dalam imajinerku saja.

Kelas pun akhirnya berlalu, aku ingin memberikan coklat sebagai tanda permintaan maafku ke Fani sebelum dia pulang. Aku menghampirinya ke depan gerbang kampus dan ingin memanggil namanya.

Aku melihatnya. Perempuan mungil bernama Fani itu. Berdiri di bawah langit yang mulai ditutupi awan hitam, mengenakan jaket hitam tipis yang sering ia bawa saat cuaca mendung yang menggantung seperti ini. Dia tertawa kecil, lalu menoleh—bukan padaku, tapi pada seseorang yang datang menghampirinya.

Laki-laki itu… kekasihnya. Aku tahu. Sudah sejak awal aku tahu. Tapi entah mengapa, tiap kali melihat mereka bersama, dadaku tetap terasa seperti dipukul botol tumbler berisi air mendidih.Tidak remuk, tapi cukup untuk membuatku sesak, bahkan lebi sesak dari kebelet berak.

Mereka berjalan menjauh. Tidak bergandengan tangan, tapi langkah mereka sejajar. Serasi. Aku berdiri lama disudut koridor kampus. Tak ada yang memperhatikan. Tak ada yang tahu, bahwa saat itu ada seseorang yang sedang mencoba tetap kuat meski hatinya perlahan runtuh.

***

Malam itu, sepulang bekerja. Bayangan pasangan itu kembali bermain di benakku. Aku duduk sendiri di sudut café tempat aku bekerja, lampu sengaja aku biarkan redup. Terlalu terang hanya akan membuat bayangan kenangan itu semakin jelas. Aku keluarkan sekotak rokok di sakuku, mengambil sebilah demi sebilah dan menyalakan dengan api yang tidak lebih panas dari api cemburu buta ku.

Aku tahu dia punya kekasih. Aku tahu sejak awal, dan tetap memilih untuk tertarik padanya dalam diam. Tapi semakin hari… semakin sulit untuk berpura-pura bahwa aku mulai mencintainya karena sikapnya pada ku.

Aku mulai bingung. Betul kah aku sedang mencintainya, atau hanya membutuhkan perhatian darinya saja? Tapi nyatanya… perasaan ini nyata. Terlalu nyata.

Aku kalut. Antara ingin melepaskan, atau tetap bertahan dengan luka yang kututupi sendiri walaupun akan bernanah. Dia membuatku merasa berarti, tapi tak pernah benar-benar membiarkanku masuk. Apa aku adalah pelabuhan darurat—tempat ia bersandar saat hujan, tapi tak pernah ia tinggali saat matahari terbit.

Tatapi aku lelah jadi seseorang yang kuat hanya karena tak berhak cemburu. Lelah menunggu tanpa janji. Lelah mencintai tanpa kepastian. Namun aku juga tahu… aku tak bisa berhenti begitu saja. Perasaanku tumbuh kian mendalam. Dan bodohnya, aku tak tahu bagaimana cara mencabutnya, tanpa merobek diriku sendiri.

“Cukup!” Tegasku dalam hati.

“Apapun yang terjadi aku harus tetap belajar! Mendapatkan nilai baik dan menjadi lebih pintar!”.

“Ayo jaya! Kita akan menghadapi UAS, tunjukan keahlianmu sebagai psikoanalisis terbaik se-jekan raya!”

Entah kenapa semangatku membara penuh ledakan, secuil momen darinya yang menantangku. Membuatku ingin menunjukkan padanya bahwa aku mampu mengejarnya. Aku ambil buku dan belajar kembali terus-menerus tanpa lelah, saat aku tidak mengerti, aku akan mencari referensi lain yang membantuku memahami teori sulit ku cerna. Fani… aku akan menjadi lebih baik dari ini.

UAS akhirnya dapatku lalui. Adapun kabar lain yang ku dengar adalah Fani… ia putus setelahnya. Nggak banyak yang tahu detailnya, tapi desas-desus itu cepat menyebar. Entah kenapa, waktu dengar kabar itu, hatiku bukannya langsung melonjak kegirangan. Justru diam. Hening.

Mungkin karena selama ini aku membiasakan diriku untuk nggak berharap. Mungkin karena aku mencinta sendiri dan memutuskan menyimpan rasa itu, aku jadi nggak tahu lagi harus gimana saat kenyataan tiba-tiba membuka pintunya.

Yang pasti, aku tahu satu hal: Fani tahu.

Dia tahu aku menyukainya. Boleh jadi, dia sudah tahu sejak lama. Sejak senyumanku selalu gugup tiap menatap matanya, sejak aku berhenti bicara hanya untuk mendengarkan dia bercerita, bahkan sejak aku diam-diam menyemangatinya lewat hal-hal kecil yang mungkin tak pernah dia sadari.

Tapi dia nggak pernah berubah. Dia tetap seperti Fani yang aku kenal sejak awal. Mungkin itu caranya menjagaku. Atau mungkin… itu bentuk cinta yang paling jujur darinya.

Dan aku pun begitu. Tetap diam. Aku takut jika aku mulai bicara, menakuti semuanya berubah. Senyumnya akan menjauh, tawa ringan yang biasa ia lempar padaku akan menghilang.

***

Nilai UAS telah keluar, aku mendapatkan IPK 3,4 semester ini… sebagian orang mungkin lihat itu sebagai kerja keras. Tapi bagiku, itu janji. Janji yang pernah ku ucap diam-diam pada dia, dan pada diriku sendiri.

Benar, aku berjanji bahwa aku akan jadi lebih baik. Untukku. Untuknya. Kepada perasaan yang tak pernah terungkapkan walaupun ku tau telah kosong, kepada seorang yang ku pandang istimewa. Seistimewa Nirmala, dia lah duniaku.

Aku berteriak, aku berhasil. Entah senang atau sedih, aku bingung dengan perasaan ini. Setelah keberhasilan yang tercapai atas sebuah pembuktian, aku memilih untuk diam. Dan diam.

Diam ku memang sikap pengecut. Tapi itu lebih baik kulakukan, aku lebih takut kehilangan pandangan dan mood swingnya, daripada tidak akan pernah memiliki sepenuhnya.

Di lorong sunyi, langkahku terhenti tepat saat langkahnya mendekat. Tapi dadaku gaduh. Perempuan mungil itu—dengan jaket cardigan coklat yang menua, mata yang selalu membuatku ingin memandanginya di waktu pagi. Bayangan yang ku nanti-nantikan lewat depan kampus, saat aku menghisap tembakau di warung samping pagar, dan senyum tipis yang entah kenapa membuatku seperti merasakan pelukan yang tertunda. Ia berhenti di hadapanku.

“Selamat ya,atas IPK-nya, aku senang melihat kamu semakin rajin sekarang dan makin pinter” katanya dengan nada lembut.

“Makasih ya fan, jelas aku kan sudah berjanji untuk jadi lebih baik” jawab ku sok keren sambil mengangguk, membalasnya dengan senyum yang nyaris tak berbentuk.

“Fani, aku minta maaf ya. Aku tau kamu kesal ke aku, ketika waktu lalu aku minum sama Jason”. Lanjutku untuk membiarkan obrolan lebih lama.

“Hhmm maafin gak yaa???” Candanya sedikit.

“Maafin lah masa iya aku sudah sekeren ini masih belum dimaafin” jawab ku tengil.

“Hehe iya deh aku maafin, karena kamu udah capai nilai dengan baik” Sambil tersenyum dengan manis yang semakin terlihat membuatku pangling.

“Sebenarnya aku udah mau minta maaf duluan, aku mau kasih coklat tapi waktu itu kamu dijemput pacarmu, ehh mantan maksudnya gak jadi deh ku kasih” Aku akhir berani meledek nya sekarang.

“Jaya!” Gedebuk!*

“Aduh, ngapasih dan baru juga minta maaf”.

“Kok gak bilang sih Jay dari awal? Kan bisa aja bilang minta maaf apa susahnya sih!”.

“Ya namanya juga patah hati, cemburu tapi merasa tidak berhak gimana yaa, dah jelas lah aku mundur”

“Terus cokelatnya ku kasih Jason hehe”

“Dih sinting”

“Iya maaf yea sekali lagi, gimana kalo kita beli eskrim aja? Mumpung booth nya mas Steven buka tuh”.

“Hihi beneran ya? Ayokk”.

“Ampun dah, dasar sendok nyam-nyam emang, giliran jajanan aja baru lembut”

Hari yang awalnya dingin menjadi hangat, aku menikmati senyuman indah mu yang sumringah itu, tapi di dalam kesesakan dada, aku beguman “Kamu alasanku bertahan. Kamu alasanku menang.”

Melihatmu tetap menjadi kamu, adalah bentuk paling jujur dari mencintai yang tak ingin kehilangan. Kadang cinta itu bukan soal memiliki, iya kan ya?. Tapi soal bagaimana kita menjaga seseorang tetap tinggal—meski dengan jarak yang tak pernah bisa untuk saling menyentuh.

Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia
Agus Satria Wijaya G Bahen

Agus Satria Wijaya G Bahen

Mahasiswa Ilmu Psikologi dan Pegiat Kesehatan Mental Remaja

Terkait Pos

apa kabar?
Puisi

apa kabar?

Maret 4, 2026

jadi kata kata favoritku sejak jabat tangan pagi itu. hey, kau yang datang sebentar tapi lama dilupakan, apa kabar? bahwa...

Ilustrasi Meta AI
Pena Sastra

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026

Sepatu yang awalnya tersusun rapi kini kembali kosong, ruang kelas kembali senyap, tapi getaran suara riuhnya seakan masih bergelora. Siang...

Makna Waktu
Pena Sastra

Yu …

Februari 17, 2026

Keajaiban tak perlu perjanjian, kan? seperti awan di atas sana seperti air di lautan seperti cinta seperti pertemuan mereka dan...

Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)
Pena Sastra

Sunyi Menggema Kata

Februari 1, 2026

Pendengar yang Sepi Aku pernah menjadi tempat banyak cerita berlabuh... Tentang lelah yang tak sempat diceritakan... Tentang dilema antara bertahan...

Pemuda pengumpul sampah
Puisi

pemuda tukang sampah

Januari 12, 2026

pada jam sebelum ayam berkokok asap kreteknya yang memekat sudah memecah embun yang jatuh karena jika terlambat, maka ikan kering...

Mikrofon kekuasaan
Pena Sastra

Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

Desember 18, 2025

Sorotan terhadap pergeseran idealisme aktivis jalanan yang kini memilih masuk ke lingkaran kekuasaan dan meninggalkan perjuangan rakyat demi stabilitas politik.

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

Desember 12, 2024

Menyimak Perdebatan Tiga Elemen dalam Pikiran: Menuju Kesadaran Nyata

Juni 2, 2025

Kita Adalah “Pembunuh” yang Lain

Maret 4, 2025

Teranyam Sendu Namamu

Juni 9, 2025

Malam yang Mengubah Sebuah Janji

0

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

0
Lumbung Pangan

Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

0
Beberapa mahasiswa di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar Aksi Kamisan untuk mengingatkan kembali kasus pelanggaran hak asasi manusia, Kamis (18/1/2024). FOTO: KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Ketika Polisi Menjadi Pelaku Kekerasan

0
Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

April 17, 2026
apa kabar?

apa kabar?

Maret 4, 2026
Ilustrasi Meta AI

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026
Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

Februari 17, 2026

  • Sejarah
  • Dapur
  • Menjadi Suara Melalui Tulisan
  • Galeri Kami

Copyright © SwaraPena - Komunitas Menulis Borneo

No Result
View All Result
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar
  • Pena Artikel
  • Pena Opini

Komunitas Menulis Borneo - Swara Pena

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In