Dulu ia berdiri di bawah terik matahari, berpeluh, berteriak hingga urat leher menegang. Megafon adalah pedangnya, poster-poster lusuh adalah perisainya. Ia, sang aktivis, konon adalah suara rakyat kecil, yang katanya tak akan pernah tunduk pada tirani.
Kini, ia duduk di kursi empuk berlapis beludru. Mikrofon di tangannya bukan lagi untuk teriak “Turunkan penguasa!”, melainkan untuk melantunkan puji-puji bak qasidah politik. Rakyat yang dulu ia sebut “kawan seperjuangan” kini hanya menjadi latar foto untuk unggahan media sosialnya.
Inilah epos modern, metamorfosis dari “singa jalanan” menjadi “kucing peliharaan penguasa”.
Tak ada yang lebih heroik daripada seorang aktivis di usia mudanya. Ia adalah sosok yang berani menantang aparat, yang rela diangkut truk polisi, yang bangga dengan lebam di keningnya. Ia mengutip Marx di warung kopi, mendeklamasikan Chairil Anwar di persimpangan jalan, dan menolak segala bentuk kompromi.
Masa mudanya adalah legenda kecil, tidur di sekretariat kumuh, makan mi instan tiga kali sehari, bercita-cita mengubah negeri dari akar sampai ke pucuk. Di dada, berkobar api suci idealisme; di kepala, penuh dengan teori revolusi.
Namun, idealisme punya musuh yang tak kalah Tangguh yaitu kenyataan.
Kenyataan itu sederhana, perut lapar lebih berisik dari toa demonstrasi. Aktivis yang dulu menolak gaji negara, lama-lama tergoda juga dengan honor rapat, perjalanan dinas, dan uang saku seminar.
Mula-mula ia bilang, “Aku masuk lingkaran kekuasaan demi mengontrol dari dalam.”
Tak lama kemudian, kalimatnya berubah menjadi, “Kalau bukan kita yang duduk, orang jahat yang mengisi kursi itu.”
Dan setelah kursi empuk jadi kebiasaan, ia tak lagi bicara tentang rakyat, melainkan tentang “stabilitas politik” dan “pertumbuhan ekonomi.” Kata-kata keramat yang dulu ia anggap sihir busuk penguasa kini ia kunyah dengan lahap.
Lihatlah, dulu ia berteriak “Reformasi belum selesai!”
Kini ia berkata “Kita butuh resolusi, bukan revolusi.”
Apa bedanya? Revolusi menuntut perubahan radikal, resolusi hanyalah hasil rapat tahunan yang penuh basa-basi. Aktivis yang dulu menolak kompromi kini lihai menulis notulen.
Ia berubah dari penantang rezim menjadi konsultan rezim. Dari penggagas aksi jalanan menjadi penyusun press release kekuasaan.
Konon ia pernah menulis puisi. Tentang rakyat jelata, tentang petani yang diusir dari tanah, tentang buruh yang dipukul pentungan. Puisinya menggema di forum-forum mahasiswa.
Kini puisinya hanya berdebu di laci. Pena yang dulu menuliskan kemarahan kini menuliskan naskah pidato untuk pejabat yang sama sekali tak peduli.
Rakyat yang dulu ia bela hanya muncul kembali saat kampanye, sebagai latar eksotis untuk janji manis.
1. Seni Menjilat yang Anggun
Jangan salah. Menjilat penguasa bukanlah pekerjaan remeh. Itu sebuah seni.
Lidah harus lentur, seperti bendera yang bisa berkibar ke arah mana pun angin berembus. Mulut harus pandai meramu kata-kata, agar pujian terdengar seperti analisis, dan sanjungan menyerupai kritik membangun.
Dulu ia pandai memaki. Kini ia lebih pandai memuji. Transformasi lidah ini bukanlah degradasi, melainkan “inovasi karier”.
Kawan-kawan seperjuangan menatapnya dengan getir. Mereka ingat betapa lantang ia berteriak “Lawan!” dulu. Kini, kata “Lawan” itu ia gunakan hanya di debat media, sekadar bumbu penyedap diskusi.
Aktivis yang dulu berjalan bersama kini hanya ia panggil saat butuh massa demonstrasi tandingan.
“Kalian tetap penting,” katanya, “sebagai ornamen demokrasi.”
Ornamen, ya, hiasan belaka. Seperti pot bunga di ruang tamu istana.
Seorang aktivis sejati selalu punya janji suci: janji kepada rakyat, kepada sejarah, kepada cita-cita. Tapi janji adalah komoditas yang bisa diperdagangkan.
Janji reformasi? Bisa dibarter dengan posisi komisaris.
Janji perjuangan? Bisa ditukar dengan tiket perjalanan dinas ke luar negeri.
Janji perubahan? Bisa digadai untuk kontrak proyek infrastruktur.
Dari janji mulia, ia berubah jadi makelar janji.
Sisa-sisa kritik masih ia simpan. Namun kritik itu kini mandul, steril, dan penuh syarat. Kritiknya hanya muncul di forum tertutup.
Ia pandai menjaga diri, mengkritik tanpa pernah benar-benar mengganggu. Seperti menggonggong di kejauhan, sekadar notice, agar rakyat ingat bahwa ia masih “berani.”
Namun ketika penguasa menepuk pundaknya, kritik itu mendadak raib, seolah tak pernah lahir.
Kisah aktivis yang jadi penjilat bukanlah kisah baru. Ia adalah pola abadi, siklus yang berputar di setiap generasi.
Tiap rezim selalu punya dua jenis aktivis, yang tetap di jalanan dan terus dipukul aparat, serta yang memilih pindah ke ruang ber-AC dan dipukul rasa kenyang.
Dan ironisnya, keduanya saling menuding, yang di jalan menuduh yang di istana pengkhianat, yang di istana menuduh yang di jalan hanya pengganggu.
Sejarah pun tertawa. Sebab kelak, sebagian dari yang masih di jalan akan naik juga ke istana.
Pada akhirnya, kita tahu. Mereka mungkin diam, mungkin pasrah, tapi kita tahu. Bahwa sang aktivis kini bukan lagi suara mereka, melainkan pengeras suara penguasa.
Dan sejarah punya lidah yang lebih tajam daripada megafon mana pun. Ia akan menulis nama mereka yang menjilat sebagai catatan kaki, sekadar pengingat betapa mudahnya idealisme dijual dalam lelang kekuasaan.
Karena dari segala macam dosa politik, barangkali dosa terbesar adalah mengkhianati janji pada rakyat yang dulu membuatmu ada.
Seorang aktivis yang berubah menjadi penjilat penguasa adalah kisah klasik negeri ini. Dari jalanan menuju istana, dari teriak lantang menuju bisikan manis, dari sumpah setia menuju sumpah palsu.
Satire ini bukan sekadar ejekan untuk mereka, tapi juga peringatan bagi kita semua, idealisme itu bukan barang sekali pakai. Ia bisa layu, bisa busuk, bahkan bisa dijual. Tetapi ia juga bisa dijaga, kalau kita berani membayar harganya.































