Disebuah betang tua yang telah berdiri selama tujuh generasi, kehidupan selalu bergerak pelan namun penuh makna. Rumah kayu panjang itu masih kukuh menopang jejak waktu—setiap sudutnya menyimpan cerita, termasuk dapurnya yang setia pada tradisi memasak dengan kayu bakar meski kini ditemani kompor gas mungil bermerek tabung hijau.
Di antara rak perabotan yang tertata rapi, ada dua cangkir tua yang menjadi saksi perjalanan generasi. Cangkir pertama diwariskan dari sang ayah, dan cangkir kedua pemberian ayah mertua. Sejak itu keduanya menjadi teman setia pemilik rumah—bahkan menemani fajar yang dingin dan senja yang perlahan meredup. Mereka bernama Sura dan Kaphi (nama yang terilhami dari bahasa Sanskerta).
Tujuh generasi telah mereka bersamai, menjadikan sepasang cangkir bersahabat bak pinang dibelah dua. Di antara keheningan dapur, mereka kerap berbincang tentang apa yang mereka lihat—percakapan metaforis tentang manusia dan waktu. Namun suatu hari, pembicaraan mereka berubah serius ketika memperhatikan keadaan seorang pemuda penghuni betang itu.
“Kaph, coba lihat pemuda itu,” lirih Sura.
“Iya, Sur. Sudah seminggu ini aku memperhatikannya,” jawab Kaphi pelan.
“Untuk sekadar berjalan ke toilet saja ia harus merangkak.”
“Bahkan merokok di atas kloset pun seperti perjuangan yang menyakitkan,” sahut Kaphi.
“Lihat luka di kaki kanannya itu… menjijikkan sekali,” gumam Sura.
“Sur, santai sedikitlah. Kata-katamu itu agak-agak gimana gitu. Luka itu pasti sangat menyiksa,” bantah Kaphi
“Ahahaha, oke maaf-maaf. Tak kutampikkan bahwa dia selalu meringis jika kakinya harus terjulur ke bawah.”
Mereka berdua menyadari, bahwa pemuda itu rupanya terluka karena kebodohannya sendiri—ia menenggak air dari wadah Sura berkali-kali pada suatu malam. Dalilnya beban pekerjaan, percintaan dan interpersonal yang sering mengganggu sebagai mahluk sosial. Malam itu ia berbeda dari tradisi leluhur yang hanya meminum satu tegukan sehari saat matahari bersinar dari Kaphi, dan satu tegukan saat senja datang dari Sura. Air yang ia minum berulang kali itu dari wadah Sura masuk ketenggorokannya dengan warna cairan yang berbeda-beda, berubah aroma, memadamkan kesadaran dan akhirnya menjatuhkannya pada rasa sakit yang panjang ketika tengah malam tiba.
“Ya dia itu, wajahnya boleh saja segar, penampilan rapi dan modis bahkan tongkrongan yang dibawa kerumah juga lebih muda dari usianya,” ujar Sura.
“Betul, raut wajah, tampilan dan tongkrongan boleh masih tetap merasa muda. Tapi tubuhnya tak bisa bohong toh, ia telah banyak dipaksakan sesuai beban generasinya hingga usia saat ini,” sahut Kaphi
“Wops, kenapa kau lebih menenggelamkan kali ini Kaph?” tanya Sura heran.
“Itu bukan ungkapan ku kali, itu adalah ucapan pemuda itu sendiri. Saat dia menyeruput air dari wadahku di teras rumah sambil menantikan sang fajar,” jawab Kaphi jujur.
Tampaknya dia memang menyadari ya Kaph, luka memang membawa makna.” guman Sura.
—
Lima hari setelah percakapan itu, ketika matahari tepat di atas kepala, Sura tampak gusar. Kedua cangkir itu kembali berdialog tentang rasa rindu mereka kepada pemuda itu.
“Ada apa Sur? Sepertinya kau gelisah sekali,” tanya Kaphi.
“Aku rindu pada sentuhan jarinya,” jawab Sura pelan.
“Aku masih dipakainya tiga hari lalu, meski hanya sekali,” kata Kaphi.
“Pantas aku merasa kehilangan. Apa ia marah padaku?” tanya Sura sambil bingung.
“Tidak, Sur. Kita harus memberi ruang. Air kita punya efek besar bagi tubuh—kebaikan bila sedikit, penyakit bila berlebihan.” jawab Kaphi dengan bijak.
Mereka terdiam sejenak, mengenang generasi dulu yang meminum dengan penuh kesadaran. Dulu tubuh manusia berkeringat oleh kerja keras, tulang mereka kuat menghadapi beban hidup. Kini generasi berubah—kekuatan fisik berganti dengan pekerjaan dan aktifitas yang tidak berkeringat, tapi tubuh dipaksa bekerja dan tetap menanggung akibatnya.
Tiba-tiba Sura berkata dengan nada berbeda dari biasanya,
“Kaph, kau benar. Pemuda itu telah memaknainya.”
“Maksudmu?”
“Ia kini memilih meneguk air darimu setiap hari. Bukan karena tak membutuhkan aku, tapi karena ia sadar tubuhnya harus memilih untuk bertahan.”
Kaphi terdiam mendengar pengakuan itu.
“Ini bukan cemburu,” lanjut Sura.
“Aku mendukung pilihannya. Setiap manusia pada akhirnya harus menentukan apa yang menyembuhkan dan apa yang menghancurkan dirinya.”
Kaphi tersenyum lembut.
“Suatu hari nanti, ketika generasi berganti, mungkin ia akan memakai kita berdua lagi dalam satu hari. Boleh jadi juga memang harus memilih salah satu. Itu bukan akhir, Sur—itu perjalanan.” kata Kaphi menutup.
Dan di antara aroma kayu bakar dan napas betang tua yang tak pernah tidur, kedua cangkir itu kembali berdiam. Menunggu, menjaga, menjadi saksi perjalanan hidup, luka, dan kesadaran seorang pemuda-anak manusia.
Selesai.
Jl. G.OBOS, 24 NOVEMBER 2015 (03:40)































