
WALHI: 20.788 Titik Api Terpantau di Indonesia, Di Kalimantan Tengah Mayoritas Berada di Konsesi Perusahaan Sawit
Palangka Raya, 29 Juli 2025 — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melaporkan bahwa sepanjang 1 hingga 28 Juli 2025, telah terpantau sebanyak 20.788 titik api (hotspot) di seluruh wilayah Indonesia. Temuan ini diungkap dalam siaran pers bertajuk “Karhutla dan Impunitas: Negara Terus Lindungi Korporasi Pembakar Hutan dan Lahan.”
Berdasarkan tingkat intensitasnya, sebanyak 639 titik api dikategorikan dalam level tinggi, 19.656 pada level sedang, dan 493 berada di level rendah. Dari total tersebut, WALHI menemukan 373 hotspot level tinggi berada dalam wilayah konsesi Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan dan izin kehutanan (PBPH) milik perusahaan.
Sebanyak 231 perusahaan tercatat memiliki hotspot dalam wilayah konsesinya. Bahkan, sejumlah perusahaan tersebut diketahui berulang kali mengalami kebakaran pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2015, 2019, 2023, dan 2024.
Sementara itu, data dari Majalah Sawit Indonesia mencatat bahwa Kalimantan Tengah merupakan provinsi dengan perkebunan sawit terluas kedua di Indonesia setelah Riau. Sekitar 88,28 persen lahan perkebunan sawit di provinsi tersebut dikelola oleh swasta.
Analisis terbaru WALHI Kalimantan Tengah dengan menggunakan data VIIRS NOAA menunjukkan terdapat 446 hotspot tersebar di 14 kabupaten/kota di provinsi tersebut. Titik api tertinggi terpantau di Lamandau (75), Gunung Mas (66), Katingan (56), Kapuas (52), dan Kotawaringin Timur (46).
Dari total tersebut, sebanyak 119 hotspot teridentifikasi berada dalam 51 konsesi perkebunan sawit. Enam perusahaan yang mengalami karhutla berulang dalam maupun sekitar konsesinya antara lain PT Maju Aneka Sawit, PT Borneo Subur Prima, PT Rimba Sawit Utama Planindo, PT Borneo Eka Sawit Tangguh, dan PT Katingan Mujur Sejahtera.
Selain itu, ditemukan pula 34 hotspot berada dalam wilayah izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK-HT) yang tersebar di 14 konsesi hutan tanaman industri (HTI). PT Ramang Agro Lestari tercatat memiliki delapan hotspot dan juga mengalami kejadian kebakaran berulang di tahun 2019 dan 2023.

Manager Advokasi, Kajian, dan Kampanye WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman P, menyatakan bahwa Kalimantan Tengah tergolong wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di area konsesi perkebunan dan HTI.
“Pemerintah perlu segera menetapkan kebijakan mitigasi dan pemetaan area rawan untuk skema antisipasi dan penanganan intensif,” ujar Janang.
Ia menambahkan, negara tidak boleh lalai dalam menangani karhutla yang hampir terjadi setiap tahun. Penegakan hukum harus dijalankan secara adil dan tidak berpihak, agar rakyat kecil tidak terus menjadi korban sementara korporasi terus luput dari sanksi tegas.






























