Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
No Result
View All Result
BERANDA Pena Opini

Terpisahnya Moral dan Kasih

Hakikat Moral yang Terlupakan

OLEHAgus Satria Wijaya G Bahen
Juli 29, 2025
0 0
Christ and women in adultery

Christ and women in adultery

Di masa sekarang, moralitas dijunjung tinggi, tetapi kasih justru ditinggalkan. Orang-orang sibuk mengurusi moralitas orang lain namun lupa berbelas kasih. Hujatan kebencian kemudian begitu mudahnya dilontarkan pada yang melakukan kesalahan. Di dunia yang serba cepat dan bebas ini orang bukan lagi menggunakan bibir untuk menghakimi, melainkan juga dengan jari mungil yang mengetuk layar handphone dan menyuarakannya di sosial media (sosmed). Perilaku main hakim sendiri dan penggiringan opini sangat marak terjadi akibatnya banyak yang mendapat sanksi sosial bahkan diseret ke ranah hukum dengan keadaan tidak terbukti bersalah. Sekalipun bersalah atas suatu kejadian manusia tetap saja tidak bisa menahan hasrat untuk menghujat, menghakimi secara verbal bahkan secara fisik.

“Saat ini pendosa bukan sosok yang mengerikan lagi justru yang berbahaya adalah sekumpulan manusia biasa yang dibalut dengan ego, kebencian, kedunguan, serta kesoktahuan yang dimana seketika dapat mengubah mereka menjadi hakim tanpa gelar sarjana hukum dan orang primitif yang membabi buta di saat  bersamaan.” -penulis

Banyak kejadian di dunia nyata maupun di dunia Maya persekusi dilakukan terus menerus tanpa mencoba menggali kebenarannya. Seperti sekumpulan orang farisi yang mengarak-arak seorang perempuan ketahuan berzinah, mempermalukannya di khalayak umum dan menghakiminya. Kebiasaan manusia untuk menjadi polisi moral sudah sedari dulu dilakukan dan mendarah daging hingga saat ini sehingga mereka lupa tindakan mereka akan memberikan dampak psikologis yang buruk bagi yang mengalaminya.

01
of 03
Kasus Main Hakim Sendiri

Di Pati, Jawa Tengah pada tahun 2024 seorang bos rental datang untuk mengambil mobil miliknya yang disewa namun tak dikembalikan. Ia datang hanya ingin mengambil kembali haknya dari orang yang tidak bertanggung-jawab. Tapi yang menyambutnya bukan keadilan, melainkan kerumunan yang lebih percaya pada omong kosong dari penyewa mobil tanpa mendengarkan kebenaran dari bos rental. puluhan bogem mentah serta pukulan benda keras dilayangkan pada korban. Dari jeritan yang menggema hingga lirih halus yang berbisik mengiring pada kematian. Tubuhnya kaku di tengah lapang, orang-orang masih memuaskan hasrat mereka untuk menginjak dan memukulinya, Mobilnya dibakar hingga hangus. Dan tak satupun dari pelaku merasa bersalah bahkan seorang influencer yang berada di kejadian masih sempat membanggakan diri di sosmed membuat video provokatif “Kita kasih paham buat orang yang kurang paham… kita hajar buat orang yang kurang ajar… Susokilo bos, jangan main-main di sini,” begitulah ucapnya.

Pada kasus diatas memperlihatkan sisi kebinatangan manusia yang tersimpan di dalam diri. Saat emosi berbaur secara kolektif ledakan massa pun dapat terjadi tanpa mencoba untuk berpikir dengan  otak seperti seonggok kotoran sapi. Saat berkumpul manusia akan menyatukan pikiran serta emosi yang sama. Dalam psikologi sosial inilah yang disebut dengan deindividuasi. Deindividuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger, epitone, And Newcomb, 1952).

Oleh karena itu banyak kasus main hakim sendiri itu dilakukan dengan pengeroyokan. Deindividuasi menunjukkan kondisi psikologis dimana seseorang kehilangan kesadaran diri dan identitas pribadi ketika berada dalam kelompok atau kerumunan. Dalam keadaan ini, individu cenderung berperilaku impulsif dan kurang bertanggung jawab, karena merasa anonim dan tidak perlu khawatir akan penilaian orang lain. Contoh lain dari deindividuasi adalah kerusuhan, tawuran, hingga perilaku agresif di sosial media dengan menggunakan akun anonim.

02
of 03
Self Righteousness

Bisa disebut juga dengan hasrat untuk menjadi benar, para polisi moral sangat menanamkan hal ini pada diri mereka. Self Righteousness mampu mengarahkan orang-orang menuju logical fallacy (kesesatan berpikir) seperti confirmation bias dan circular reasoning. Merasa paling benar sehingga tidak terbuka untuk mendengarkan orang lain karena menganggap nilai pribadi mereka paling benar pada pandangan agama, politik dan budaya. Self Righteousness memisahkan moralitas dan kasih serta menghilangkan kerendahan diri. Merasa ia memegang kebenaran moral dan adab tetapi sayangnya yang terjadi hanyalah penghakiman dan tuduhan. Fenomena ini banyak terjadi sekarang di dunia Maya dan dunia nyata.

Dalam dunia Maya fenomena ini sering ditemui pada komentar pedas oleh netizen. Contohnya kasus kekerasan seksual pada wanita yang diposting di suatu platform pasti ada komentar yang berbunyi “itu pasti karena korban yang mengundang gairah dengan berpakaian terbuka, coba saja dia lebih tertutup pasti gak akan mengalami pelecehan” bahkan ada yang melakukan pelecehan verbal seperti “kucing mah kalo di kasih ikan asin pasti doyan” seolah-olah korban pelecehan layak dijadikan objek seksualitas. Tentu saja ini akan menghancurkan perasaan korban dan melukai orang-orang yang pernah menjadi korban bahkan melukai hati perempuan lainnya. Trauma batin yang mendalam menghantui pikiran siapapun yang pernah dihakimi secara verbal maupun secara fisik.

Kasus self righteousness di dunia nyata pun pernah kita temui. seperti warga yang menghentikan kegiatan ibadah di komplek perumahan dengan alasan mengganggu dan tidak sesuai dengan adab di lingkungan tersebut bahkan penutupan tempat ibadah karena merasa lingkungan tersebut ditinggali oleh mayoritas agama tertentu dan mengganggu iman masyarakat. Dalam kasus lain ada juga yang mengusir waria atau orang LGBT di tempat ibadah karena tidak sesuai dengan norma agama. Banyak orang yang beragama merasa benar dengan keyakinan ada ajaran yang dipegangnya tetapi menghunuskan pedang pada sesama dan lupa melihat dengan hati yang penuh kasih.

03
of 03
Distorsi Kognitif

Pemisah moral dan kasih juga merupakan output dari distorsi kognitif. Dalam psikologi klinis Distorsi kognitif adalah pola pikir keliru, tidak realistis, atau menyimpang yang menyebabkan seseorang menafsirkan realitas secara salah dan sering kali merespons dunia secara emosional berlebihan atau keliru. Distorsi ini bisa muncul karena trauma, pengalaman masa kecil, tekanan sosial, atau pembelajaran lingkungan. Akibatnya banyak orang yang tidak bisa membedakan apa itu kasih dengan permisif (mengabaikan). Orang-orang yang tidak mengerti bentuk kasih sejati selalu tidak bisa membedakan apa itu kasih dan apa itu permisif (membiarkan orang yang melakukan kesalahan-kesalahan).

Andaikata kamu melihat arak-arakan yang membawa seorang wanita karena dituduh berzinah dengan suami orang dan wanita itu dipermalukan sepanjang jalan lalu kamu menghentikan arak-arakan itu dan seorang dari mereka berkata “kamu membela orang ini ya? Berarti kamu mendukung dan membiarkan dia melakukan zinah kan?” Padahal kamu merasa iba karena melihat orang itu dipermalukan di khalayak ramai dan kamu hanya ingin menolong tetapi kamu di justifikasi oleh para polisi moral ini. Inilah yang terjadi apabila orang itu berada di kondisi false dichotomy (salah satu distorsi kognitif). False dichotomy (atau dikotomi palsu) adalah bentuk kesesatan berpikir (logical fallacy) di mana seseorang memaksakan hanya ada dua pilihan ekstrem, padahal kenyataannya ada banyak pilihan atau spektrum di antaranya. False dichotomy adalah ketika sebuah argumen menyederhanakan persoalan yang kompleks dengan hanya menyajikan dua opsi seolah-olah tidak ada alternatif lain.

Lalu bagaimana moral dan kasih itu bisa sejalan? Yang perlu kita lakukan adalah berhenti terburu-buru mengedepankan moral lalu tepatkanlah kasih di depan sebelum lidah dan jari kita mengeluarkan ayat-ayat tuduhan. Terkadang kita perlu mereflektifkan diri kita dari keributan dunia ini. Tetap hidup berpegang pada kasih dan kerendahan hati. Di saat semua orang menunjuk dengan satu jari ulurkanlah  tanganmu ke depan dengan membuka telapak tangan untuk menggenggam hati yang remuk. Karena bentuk sejati moral itu adalah kasih. Maka tidak seimbang jika kita hanya punya moral tapi tak punya kasih dalam hati kita. Apa gunanya menggaungkan iman menggunakan bibir tapi tangan enggan untuk menyelamatkan?

Jika moral adalah jalan, maka kasih adalah cahaya yang meneranginya. Tanpa kasih, moral hanya menjadi alat penindas yang dibungkus kebenaran. Sudah waktunya kita tidak hanya bicara tentang benar dan salah, tetapi juga tentang manusia dan luka. Berhentilah menjadi hakim yang tidak diminta Karena satu tangan yang mengangkat, jauh lebih mulia daripada seribu mulut yang mencaci.

Tags: kasihmoralitaspsikologi
ShareTweetSendSendScan
Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia
SEBELUMNYA

Muara Mea, Jantung Terakhir Hutan

BERIKUTNYA

Api di Tanah “Tuan Kebun”

Agus Satria Wijaya G Bahen

Agus Satria Wijaya G Bahen

Mahasiswa Ilmu Psikologi dan Pegiat Kesehatan Mental Remaja

BERIKUTNYA

Api di Tanah "Tuan Kebun"

Kibarkan Bendera One Piece : Benarkah Usaha Pemecah Belah Bangsa?

  • Sejarah
  • Dapur
  • Menjadi Suara Melalui Tulisan
  • Galeri Kami

Copyright © SwaraPena - Komunitas Menulis Borneo

No Result
View All Result
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar
  • Pena Artikel
  • Pena Opini

Komunitas Menulis Borneo - Swara Pena

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In