Desa Barunang adalah salah satu desa di pedalaman Kalimantan yang menyimpan ironi menarik. Letaknya jauh dari hiruk-pikuk kota, akses jalannya sulit, dan di sekelilingnya terbentang kawasan tambang batu bara. Namun, di balik keterpencilan itu, warganya justru memperlihatkan gaya hidup yang terasa begitu modern, terutama dalam urusan kesehatan. Fenomena ini menarik karena menantang pandangan umum bahwa masyarakat pedalaman lebih mengandalkan pengobatan tradisional daripada medis.
Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Desa Barunang, saya menemukan kehidupan yang nyaris tak pernah lepas dari bayang-bayang tambang. Sebagian besar warga menggantungkan hidup di sektor pertambangan ada yang bekerja langsung di perusahaan, ada pula yang menjadi tenaga pendukung di sekitarnya. Ekonomi tambang menjadi nadi kehidupan mereka, mulai dari penghasilan sehari-hari hingga fasilitas sosial yang diberikan perusahaan. Salah satu fasilitas yang cukup menonjol adalah rumah sehat, semacam klinik sederhana yang rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan bagi warga. Dari sinilah tampak bahwa akses terhadap layanan medis formal jauh lebih mudah dijangkau dibandingkan pengobatan tradisional.
Namun, di sisi lain, jarak menuju puskesmas atau rumah sakit umum tetap jauh. Secara logis, kondisi seperti ini seharusnya membuat masyarakat bertumpu pada pengetahuan lokal dan tanaman obat keluarga. Tapi kenyataannya justru sebaliknya hampir tak ada warga yang menanam toga (tanaman obat keluarga) di halaman rumah mereka. Bahkan di lahan pertanian kecil yang masih dimiliki, tanaman obat nyaris tak dijumpai. Masyarakat lebih memilih menanam komoditas ekonomi yang dianggap lebih menguntungkan.
Gaya hidup praktis yang terbentuk dari roda ekonomi tambang tampaknya memengaruhi cara mereka memandang kesehatan. Penghasilan tetap dan rutinitas kerja yang padat membuat warga lebih memilih jalan cepat ketika sakit. Alih-alih meracik obat alami, mereka mendatangi rumah sehat atau menunggu jadwal pemeriksaan dari tim medis tambang. Kepercayaan terhadap pengobatan modern jauh lebih tinggi dibandingkan pengobatan tradisional.
Banyak warga dengan yakin berkata, “kalau sudah dibawa ke medis, pasti sembuh” sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan perubahan besar dalam cara mereka memaknai sakit dan sembuh.
Tingkat pendidikan yang rendah turut memperkuat pola pikir ini. Minimnya pengetahuan kesehatan dan terbatasnya ruang untuk berinovasi membuat masyarakat sulit melihat alternatif di luar sistem medis formal. Pengobatan tradisional dianggap kuno dan tidak pasti hasilnya. Padahal, secara historis, masyarakat Kalimantan dikenal memiliki pengetahuan luas tentang ramuan obat, yang erat kaitannya dengan sistem kepercayaan Kaharingan. Namun di Barunang, warisan itu perlahan memudar, tergeser oleh pandangan modern yang masuk bersama aktivitas tambang dan arus informasi dari luar.
Hal yang menarik, meski hidup di pedalaman, warga Barunang memiliki kesadaran kebersihan yang cukup baik. Hampir semua rumah sudah memiliki toilet pribadi, dan kebersihan lingkungan relatif terjaga. Ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang sanitasi dasar kemajuan yang jarang dijumpai di desa terpencil. Meski begitu, masih ada kebiasaan yang berseberangan dengan prinsip hidup sehat, seperti membuang sampah ke sungai yang juga digunakan untuk mandi dan mencuci. Di sinilah tampak bahwa pemahaman mereka tentang kesehatan belum sepenuhnya menyatu antara pengetahuan dan praktik sehari- hari.
Dalam hal penyakit, masyarakat Barunang tergolong jarang mengalami gangguan kesehatan berat. Penyakit yang paling sering muncul adalah asma, kemungkinan besar akibat paparan debu dari area tambang. Menariknya, belum ada ramuan tradisional yang digunakan untuk mengobati penyakit ini. Warga sepenuhnya bergantung pada obat medis. Satu-satunya warisan pengobatan alami yang masih bertahan adalah rebusan pucuk daun jambu untuk meredakan sakit perut pengetahuan sederhana yang diwariskan turun-temurun.
Dari seluruh pengamatan ini, tampak bahwa modernitas di Desa Barunang tidak lahir dari pembangunan infrastruktur, melainkan dari perubahan nilai dan kebiasaan akibat interaksi dengan dunia tambang. Tambang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang tubuh, penyakit, dan kesembuhan. Mereka hidup di wilayah yang terpencil, tetapi berpikir dengan cara yang modern: percaya pada medis, menjaga kebersihan, dan perlahan meninggalkan sebagian tradisi pengobatan lokal.
Namun, modernitas ini menyisakan pertanyaan penting: apakah ketergantungan pada fasilitas tambang membuat mereka kehilangan kemandirian dalam mengelola kesehatan?
Di tengah derasnya arus uang dan gaya hidup praktis, pengetahuan lokal yang dahulu menjadi bagian dari identitas masyarakat pedalaman perlahan menghilang. Desa Barunang pun menjelma menjadi cermin paradoks tempat terpencil yang modern, namun juga rapuh. Sebuah modernitas yang tumbuh di antara suara mesin dan debu tambang, tapi berisiko kehilangan akar budayanya sendiri.































