Perjalanan Menuju Pertanyaan

Sabtu pagi di Palangka Raya. Matahari belum sepenuhnya menguasai langit ketika sebuah mobil melaju dari halaman Rumah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Jalan Beliang. Di dalamnya, kami berempat—Mahtia Safitri, Wena Helda, Yumero, dan saya sendiri—duduk dalam diam yang berisi. Tujuan kami adalah Desa Muara Mea, sebuah titik kecil di punggung Kalimantan Tengah yang jarang muncul di peta, nyaris seperti bisikan.
Nama Muara Mea mungkin terdengar samar, bahkan bagi sebagian besar warga Kalimantan sendiri. Tapi bagi yang tinggal di sana, ia adalah pusat semesta. Dan bagi kami yang akan datang berkunjung, ia adalah dunia yang dijanjikan akan mengubah cara pandang tentang tanah, air, dan manusia.
Pak sopir memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang sudah lelah dilalui waktu. Beberapa kali saya terbangun karena mobil menghantam lubang aspal. Sisa perjalanan saya habiskan dalam setengah sadar—tidak tahu percakapan apa yang mengalir di antara rekan-rekan saya dan sopir, hanya sesekali terdengar tawa, lalu saya tenggelam lagi dalam kantuk.
Sekitar sembilan jam kemudian, kami tiba di Rumah Pengurus Daerah AMAN Barito Utara. Rasyid, staf Infokom yang sudah menunggu sejak sore, menyambut kami dengan senyum hangat. Kami mandi, makan malam, dan langsung beristirahat. Perjalanan kami baru saja dimulai.
Pagi berikutnya datang dengan perlahan. Saya dan Yumero baru tidur menjelang subuh, sementara Mahtia dan Wena sudah lebih dulu terjaga. Di luar, Muara Teweh mulai hidup. Kami bersiap menyambut etape selanjutnya menuju Lampeong—perjalanan darat yang katanya bisa ditempuh dalam waktu empat jam. Tapi di Kalimantan, waktu seringkali punya ukuran sendiri.
Perjalanan menuju Lampeong ternyata lebih dari sekadar perpindahan tempat. Jalanan berkelok dan menanjak, menyusuri kontur bukit-bukit yang masih hijau. Kadang pemandangan berubah drastis: barisan sawit menjulang monoton, memecah harmoni hutan. Tapi tak cukup untuk menghilangkan kekaguman kami pada lanskap alam Muller-Schwener yang agung dan sunyi.
Selama perjalanan, saya memilih diam. Memandangi setiap lekuk bumi yang terasa begitu tua, begitu sabar. Angin masuk perlahan lewat jendela yang terbuka sedikit. Suara mesin berpadu dengan deru sunyi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kami berhenti sejenak di Benangin, kota kecil yang menjadi pusat Kecamatan Teweh Timur. Di warung kayu sederhana, kami menyeruput kopi panas dan merokok pelan. Di sana saya berbincang singkat dengan Imansyah, seorang pemuda 25 tahun yang lahir dan besar di tempat itu. Tidak ada topik berat—hanya cerita tentang hujan yang tak menentu dan pekerjaan harian. Tapi dari cara bicaranya, saya bisa merasakan kedalaman yang tak diucapkan. Percakapan semacam itu, justru yang membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.
Mobil kami kemudian menanjak, melewati jalan curam yang disebut warga sebagai “bukit tujuh tingkat”. Nama itu bukan metafora. Tikungan demi tikungan mendaki membawa kami ke puncak tempat lanskap Kalimantan terbuka begitu luasnya: hamparan bukit dan lembah seakan tak berujung, diselimuti hijau lebat yang tak terganggu.
Kami semua terdiam. Bahkan Yumero, yang biasanya penuh cerita, tak berkata apa-apa. Kami hanya memandang, mendengarkan hutan yang sedang bicara dengan caranya sendiri. Saat itu saya sadar, kadang keheningan adalah satu-satunya cara untuk benar-benar mendengarkan alam.
Tak sampai dua jam kemudian, kami sampai di Desa Lampeong. Di bengkel milik Pak Mamanto, kami meminjam dua sepeda motor untuk menempuh rute terakhir menuju Muara Mea. Tapi tidak semuanya berjalan mulus. Saya dan Yumero kebagian motor modifan yang sudah tua, tanpa rem depan. Kami hanya bisa tertawa kecut—tidak ada pilihan lain selain tetap melaju.
Dengan motor itu, kami menerobos rintik hujan yang perlahan turun. Jalan beton licin, sempit, dan tikungan tajam menjadi bagian dari ujian. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami tiba di rumah Pak Mantung—warga yang kemudian menjadi titik awal pertemuan kami dengan Muara Mea.
Sambutan di rumah Pak Mantung begitu hangat. Rumah kayu sederhana itu seketika berubah menjadi ruang cerita dan perkenalan. Kami menyampaikan maksud kedatangan kami, bahwa kami ingin belajar tentang perladangan, kehidupan, dan cara masyarakat menjaga tanah mereka.
Dalam perbincangan yang berlangsung lama dan hangat, Pak Mantung tiba-tiba melontarkan satu kalimat yang menggugah:
“Banyak orang yang datang dan hendak mengenal kami, tapi tak kami tahu mana kongkritnya.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti tamparan halus. Ia tidak sedang mencurigai, hanya jujur. Bahwa sudah terlalu sering orang datang—dengan niat baik, dengan kamera, dengan buku catatan—namun pergi tanpa jejak. Mereka hadir, tapi tidak pernah sungguh-sungguh tinggal. Tidak menyatu. Tidak kongkret.
Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar sindiran. Ia adalah pertanyaan tentang komitmen, tentang ketulusan, dan tentang bagaimana kita selama ini memperlakukan komunitas yang kita sebut “lokal”—seolah mereka hanya latar dari proyek yang kita bawa.
Muara Mea bukan tempat yang mudah dijangkau. Tapi barangkali justru karena itu, ia menyimpan cara hidup yang tak mudah ditakar oleh logika dunia yang serba cepat. Di desa ini, tanah bukan sekadar benda, tapi tubuh hidup yang harus dijaga. Air bukan komoditas, tapi warisan. Hutan bukan cadangan ekonomi, tapi rumah yang bernapas.
Perjalanan ini belum selesai. Tapi dari perjalanan ini, saya belajar bahwa hadir saja tak pernah cukup. Datanglah dengan niat, tinggallah dengan hormat, dan pulanglah dengan tanggung jawab. Atau, seperti yang dikatakan Pak Mantung—pastikan ada “kongkrotnya”.
Di Antara Sungai dan Aliran Cerita

Di sebuah pagi yang lembut, kopi hitam mengepul pelan di cangkir yang sederhana. Saya dan Yumero duduk di beranda rumah Pak Mantung, menikmati udara yang belum terkotori hari. Sementara matahari perlahan naik dari balik pohon karet, percakapan kami mengalir seperti aliran air: tenang, tidak tergesa. Tak lama kemudian, aroma mi sarden dan telur dadar buatan Mahtia dan Wena melengkapi pagi itu. Sarapan sederhana, tapi dalam kehangatan dan ketulusan, rasanya lebih dari cukup.
Hari itu dimulai dengan niat mencuci pakaian. Sungai Tewe, yang hanya selemparan batu dari rumah Pak Mantung, biasanya jadi tempat warga mencuci dan mandi. Tapi semalam hujan deras mengguyur, dan pagi ini sungai itu meluap. Airnya keruh kecokelatan, lanting tempat mencuci ikut miring, dan salah satu batang kayunya hanyut terbawa arus. Kami akhirnya memilih Sungai Kenui, aliran kecil yang jernih dan bersahabat, mengalir tenang di belakang rumah warga.
Usai mencuci, kami membagi diri. Mahtia dan Wena ikut Pak Mantung ke ladang, sementara saya dan Yumero menuju kantor desa untuk menyampaikan kehadiran kami sebagai tamu. Tapi kantor itu kosong, tak ada satu pun orang di dalamnya. Kami melangkah pulang perlahan, dan di sebuah rumah, kami menemukan sekelompok ibu sedang duduk mengobrol di teras. Dari situlah, lembaran cerita baru mulai terbuka.
Bu Ramah, Bu Mariana, Bu Meliana, dan Bu Rinati menyambut kami hangat. Mereka bicara tentang desa dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tinggal dan hidup dari tanahnya. Dari mereka kami tahu, Muara Mea dikepung air—tidak hanya oleh Sungai Mea, tapi juga Kenui, Tewe, Lomu, Temukur, Jonas, dan Kupang. Bahkan ada Danau Kahui, yang terletak sunyi di dalam hutan. Namun, dari semua itu, Sungai Mea adalah nadi utama. Dulu airnya bening, bisa langsung diminum. Sekarang? Tidak lagi.
“Airnya sudah kotor. Kami sekarang ambil dari Sungai Kenui. Kalau tidak cukup, ya beli galonan dari Lampeong,” kata Bu Mariana. Lampeong hanya berjarak sekitar tiga kilometer, tapi harus ditempuh dengan motor atau jalan kaki, menyeberang sungai, melewati kebun karet, hutan kecil, dan jalan beton yang licin bila hujan turun.
Sungai, yang dulunya menjadi sumber hidup, kini menjadi sumber kekhawatiran. Di hulu, tambang batubara menggali tanah dan mengirim limbah ke hilir. Air berubah warna, dan desa perlahan kehilangan kemerdekaannya atas air. Mereka yang tinggal di sini tidak meminta banyak—hanya air yang layak, tanah yang bisa ditanam, dan hutan yang masih bernapas.
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Anriani, pengrajin rotan yang tak hanya menenun bahan alam tapi juga semangat komunitas. Tangannya lincah membentuk pola demi pola anyaman. Ia bercerita tentang motif khas Muara Mea, yang tak sekadar dekoratif, tapi sarat makna. “Motif itu seperti jejak,” katanya. “Kalau kita tidak ajarkan ke anak-anak, nanti hilang.”
Di rumah itu, saya membeli dua gelang rotan dan sebuah tas anjat. Bukan sekadar oleh-oleh, tapi sebagai penanda bahwa saya pernah belajar dari tangan-tangan yang sabar. Bagi para perempuan di sini, anyaman adalah penghidupan. Tapi lebih dari itu, ia adalah cara untuk tetap berdiri di tengah dunia yang terus berubah.
Di perjalanan pulang, kami tak sengaja bertemu sekelompok remaja yang baru saja menjelajahi Sungai Tewe untuk mengunjungi air terjun atau disebut jantur. Mereka tertawa, bercerita, lalu berpamitan. Tak lama setelah itu, kami berhasil menghubungi Mahtia dan Wena dan sepakat untuk bertemu di sebuah warung di Lampeong 2. Warung itu milik pasangan—sang istri dari Kalimantan Selatan, sang suami dari Gunung Purei. Dari racikan kopi dan percakapan ringan, kami kembali disadarkan bahwa perpaduan selalu mungkin, dan pertemuan antar-budaya bisa terjadi bahkan dari meja sederhana.

Malam harinya, di bengkel Pak Mamanto, obrolan menjelma jadi pelajaran linguistik. Ia menjelaskan tentang bahasa Tewoyan—bahasa ibu warga Muara Mea. “Tewoyan ini bahasa induk,” katanya. “Dari sini lahir Bentian, Benuaq, Ma’anyan, Dusun. Kalau orang Tewoyan dengar, mereka paham. Tapi belum tentu sebaliknya.” Bahasa bukan hanya alat tukar pesan, tapi juga jembatan waktu. Ia membawa warisan kerajaan, kolonialisme, dan jejak peladang berpindah dari masa ke masa.
Desa ini, menurut Mamanto, sudah ada sejak abad ke 14 dan ada di sejarah Kerajaan Banjar. Bahkan pernah jadi tempat pengungsian keluarga istana. Warga Taboyan—subrumpun Dayak Tewoyan—menjaga sejarah mereka bukan lewat buku, tapi lewat ladang, bahasa, dan dongeng.
Salah satu dongeng itu saya dengar di teras rumah Bu Marina. Mereka menyebutnya Batingkoi—seni bercerita untuk menidurkan anak. Kisah yang paling diingat adalah legenda jamur yang membuat sebuah keluarga kehilangan bahasa yang sama. Setelah menyantap jamur, mereka tertidur, dan saat bangun, mereka tak lagi saling mengerti. Hanya si bungsu yang tidak ikut makan, yang tetap bicara dalam bahasa Tewoyan. Mereka akhirnya berpisah, menyebar ke berbagai penjuru, dan dari situ lahirlah banyak bahasa.
Cerita lain datang dari tepi Sungai Mea. Warga menyebutnya legenda Uwet Pujut. Di atas batu di seberang desa, konon pernah tinggal makhluk gaib bernama Pujut. Ia bisa membantu membuat motif anyaman, asal tidak diintip saat bekerja. Suatu malam, seorang lelaki melanggar syarat itu. Pujut pun pergi, dan sejak saat itu ia tak pernah kembali. Sejak saat itu pula, warga harus membuat motif sendiri, dengan ingatan dan kreativitas mereka sendiri.
Dalam cerita, dalam bahasa, dan dalam air yang mengalir, Muara Mea bicara kepada siapa pun yang mau mendengarkan.
Dan dari semua kisah yang saya dengar, satu kalimat dari Pak Mantung tetap melekat paling dalam:
“Banyak orang datang hendak mengenal kami, tapi tak kami tahu mana kongkrotnya.”
Itu bukan keluhan, bukan pula sindiran. Hanya sebuah kebenaran yang dilontarkan pelan. Banyak yang datang dengan niat baik—membawa kamera, buku catatan, harapan. Tapi tak semua datang dengan keberanian untuk tinggal, mendengar, dan menanggapi dengan komitmen nyata.
Karena di desa ini, hadir saja tak cukup. Harus ada jejak. Harus ada kongkrotnya.













































