“Mereka menyebut tanah ini ‘tanah liar’ dan mengatakan kita sebagai manusia berhati domba yang lembut. Kemudian kita diberadabkan dan dikampungkan. Jepang sudah habis. NICA sudah habis. Tanah ini tetap saja disebut tanah liar. Apakah kita tetap berhati domba yang lembut? Oh, bahkan bulan pun enggan muncul di langit kita malam ini,” Kata seorang tetua, menutup tengah malam sembari memadamkan api unggun dan membawa cucu-cucunya masuk ke dalam rumah betang.
***
Sungai Seruyan berwarna cokelat-keemasan dan membentang ratusan kilometer, dimulai dari Pegunungan Schwaner kemudian dilumat habis Laut Jawa tanpa erangan, hanya terdengar kesiur angin dari kejauhan. Dari langit, tampaklah sungai ini menjadi semacam tali tambang atau rantai besi yang berkarat, berkelok-kelok, begitu besar dan panjang yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan kehidupan orang-orang di Pulau Kalimantan bagian Barat dan bagian Tengah.
Orang-orang kebanyakan mengatakan, Sungai Seruyan merupakan makam terpanjang di bumi, entah kenapa. Dan, orang-orang lainnya memilih diam sembari terus bekerja mengambil emas yang tertimbun pasir putih-kecokelatan: kemudian mereka akan membawa oplah mereka selama berbulan-bulan bekerja untuk pergi ke kota dan menghabiskannya dalam semalam suntuk.
Saban hari, sinar matahari yang kering membuat permukaan Sungai Seruyan berkilauan dan sekali dua perahu kayu berjuang membelah arus, menuju ke suatu tempat. Di sepanjang bantaran sungai, pohon rasau, bakau, dan belangeran tetap tumbuh berdamai dengan merkuri serta perkampungan yang tampaknya mulai berprilaku sebagai kota.
Sebagaian orang memilih membangun rumah-rumah beton setelah berhektar-hektar tanah dijual, sebagian lagi memilih menyimpan sertifikat rumah mereka ke bank demi sebuah kuda besi, dan sebagian lainnya memilih menjadi buruh perkebunan kelapa sawit atau menjadi kriminal yang membentuk komplotan-komplotan kecil untuk menjarah perkebunan tempat orangtua mereka bekerja—sama seperti para penambang emas, mereka juga akan pergi ke kota untuk berjudi dan mabuk.
Bangkal adalah sebuah kampung tua dan kecil yang dapat kau jumpai ketika kau menyusuri Sungai Seruyan di bagian tengah. Di masa penjajahan Jepang, saat kampung-kampung di sepanjang bantaran Sungai Seruyan mengalami krisis pangan, Bangkal menjadi salah satu kampung yang tidak eksodus untuk sekadar bertahan hidup. Orang-orang Bangkal telah diwarisi kemampuan berladang dari leluhur mereka.
Alhasil, orang-orang dari kampung terdekat memilih untuk belajar dengan mereka tentang tata cara berladang agar tak mati kelaparan. Ada pula orang-orang yang memilih untuk menikah dengan perempuang-perempuan di sana dangan alasan yang sama pula, yaitu tak ingin mati kelaparan karena, bagi mereka, mati akibat lapar adalah kematian yang menjijikan.
Seorang tetua pada masa itu berkata, “Jagalah tanah ini, karena kelak ketakutan pada rasa lapar-lah yang akan merebut tanah ini dan manusia akan saling membunuh satu dan lainnya.”
Berabad kemudian, kehidupan dipenuhi kabut tebal dan berbau busuk. Bukan. Bukan karena musim api yang membakar jutaan hektar hutan hujan tropis yang manis atau musim hujan membuat orang-orang tiba-tiba menjadi amnesia, tetapi di balik kabut tebal dan berbau busuk itu kau akan menemukan orang-orang yang harganya hanya delapan puluh lima ribu rupiah serta kelahiran anak-anak cacat, karena ibu-ibu mereka masih meminum air Sungai Seruyan yang berwarna cokelat-keemasan yang mengalir bersama merkuri dari tangan para penambang liar.
Dan cerita sesungguhnya telah dimulai.
***
Seorang perempuan paruh baya berdiri seperti patung—kaku dan dingin—di antara kerumunan yang terisak-isak, menangis. Akan tetapi, tak setetes pun air matanya gugur ke bumi dari sepasang matanya yang sendu. Dari air mukanya, dapatlah kau lihat betapa kesedihan, kemarahan, dan kekalahan berkecamuk hingga menjadi barah yang menyakitkan. Oh, tak seorang pun mampu mengungkapkan kata-kata tentang perasaan si perempuan paruh baya. Bagaimanapun pandainya mereka berkata-kata!
Dan, musik kecapi terus dimainkan tak jauh dari kerumunan.
“Bedebah!” Celetuk seorang lelaki muda dalam kerumunan.
Kemudian Ia melanjutkan, “Mereka telah menganggap kita sebagai penjarah, setelah mereka menjarah apa yang kita miliki. Sungguh, betapa pun ini akan berjalan, kita harus menyelesaikan mereka!”
“Diam!” Kata seorang tetua dalam kerumunan yang sama, “Kau tak pantas berkata demikian saat ini. Kau harus menghormati ibunya dan menghantarkan ruhnya ke Sorga. Jadi, jangan bertingkah seperti pemilik kebun yang seakan-akan tahu tentang kita. Sekarang, cepat angkatlah peti mati dan bawa ke sini!”
Dan air mata adalah para pemberontak yang bengal, betapapun kuasanya perempuan paruh baya itu menahan air matanya untuk tak keluar. Akhirnya, Ia menangis saat peti mati terbuka dan tertutup, kemudian dibawa ke suatu tempat.
“Kuatkan dirimu,” kata seorang perempuan tua kepada si perempuan paruh baya.
Perempuan paruh baya itu tak menggubris. Ia bergeming dan air matanya terus berguguran.
“Mereka telah merampasnya dari kita semua. Tak hanya kau seorang!” Kata si perempuan tua, “Ia adalah lelaki yang pemberani. Tak ada yang meragukan itu. Tapi, oh, bagaimana aku bisa menghibur hatimu? Terkutuklah bandit-bandit itu!”
Si perempuan baya tetap tak menggubris. Ia berjalan perlahan mengikuti arak-arakan kematian itu hingga di suatu titik matanya berkunang-kunang kemudian tubuhnya yang kurus terperanjat ke tanah. Tak sadarkan diri.
***
Tujuh hari sebelumnya di bulan Oktober yang gerah. Burung enggang gading gajah Afrika telah selesai menghabiskan musim kawinnya. Angin berhembus membawa debu-debu dari tanah merah yang membentang ratusan kilometer ke padang ilalang. Api-api dari dalam tanah senantiasa bergerak perlahan dan menghanguskan. Di sebuah rumah betang, berkumpulah orang-orang Bangkal, tua-muda. Mereka merumuskan cara-cara untuk membuat pemilik perkebunan.
Dan, terjadilah perdebatan pendek ini:
“Bagaimana mungkin kita dapat menerima tawaran dari pemerintah, Tetua? Bayangkan, tujuan kita adalah mengambil kembali tanah kita yang dirampas pemilik perkebunan, kemudian pemerintah menyuruh kita menernak ayam dan babi?! Oh, sungguh ini adalah suatu penghinaan!” Kata seorang pemuda.
“Oh, benar itu!” Susul pemuda yang lain.
Salah seorang tetua—yang dituakan dalam kerumunan itu—semringah.
Kemudian Ia berkata, “Kebodohan dan ketakberadaban rupanya telah tumbuh membersamai kalian, anak-anakku.”
Sepasang mata tuanya memerhatikan air muka orang-orang dalam kerumunan itu.
Ia melanjutkan perkataannya, “Pemilik perkebunan memiliki kuasa untuk membayar anjing-anjing cokelat yang kapan saja bisa memukul mundur kita. Mari kita pertimbangkan tawaran dari pemerintah. Tentu, ya, tentu saja mereka memiliki pertimbangan yang matang untuk kita.”
Rumah betang itu tiba-tiba hening. Tak seorang pun berucap.
Sepuluh menit kemudian, pemuda yang sama berdiri kemudian berkata, “Tetua, sungguhlah kau telah merendahkan harga diri orang-orang di sini. Kami tak ingin berbicara lebih banyak lagi. Beberapa hari kedepan, kami akan mengambil apa yang telah dirampas dari kita. Mengapa Tetua tiba-tiba menjadi amnesia dengan pesan ini: “Jagalah tanah ini, karena kelak ketakutan pada rasa lapar-lah yang akan merebut tanah ini dan manusia akan saling membunuh satu dan lainnya”? Kami akan melakukannya.”
Pemuda itu bergegas pergi dan pemuda lainnya mengikuti.
***
Sungai Seruyan berwarna cokelat-keemasan dan membentang ratusan kilometer, dimulai dari Pegunungan Schwaner kemudian dilumat habis Laut Jawa tanpa erangan. Di langit, awan bergerak malas seperti para buruh yang kehilangan jam lemburnya dan sinar matahari seperti kesetanan menyengat kulit mereka tanpa ampun. Sekali lagi, tanpa ampun.
Suatu waktu, terjadi semacam pesta yang besar dan meriah. Orang-orang berduyun memenuhi seantero jalan perkebunan: mereka membentu barisan yang padat semacam itulah hari terakhir mereka. Di sisi jalan yang lain, letupan senapan seperti menemukan kenikmatannya sendiri. Orang-orang lari berhamburan: ada yang masuk ke dalam selokan dan ada pula yang bersembunyi di balik pohon sawit. Sialnya, tiga orang tertembak dan satu orang mati—pemuda yang berdebat dengan seorang tetua beberapa hari lalu.
Ia mati. Peluru tajam menembus dadanya yang kurus.
Tak bisa tidak. Pemilik kebun telah membayar anjing-anjing cokelat lengkap dengan M16 mereka. Oh, Sungai Seruyan akan tetap mengalir. Kesiur angin membawa bau amis darah dan debu jalan merah ke suatu tempat yang jauh. Dan, seperti matahari yang bersinar kesetanan, suara letupan senapan akan membawa siapa saja yang berani maju.
Demikianlah, orang-orang itu telah menemukan jalan kematian mereka.
Dan di bulan yang sama, di sebuah beranda rumah kayu yang mulai lapuk dimamah sinar matahari dan waktu, seorang perempuan paruh baya duduk termangu memangku dagu. Sepasang matanya yang sembab dan sendu terpaku pada kepakan sayap seekor kupu-kupu yang rapuh. Bayangan bagaimana anak lelakinya yang Ia beri nama Gijik suatu waktu berlari-lari sepulang sekolah dan mengatakan bahwa Ia berhasil menghafal Pancasila, tiba-tiba muncul di benaknya. Gijik pernah bertanya: “Keadilan seperti apakah yang baik untuk kita, Bu?” Ia hanya tersenyum. Dan, betapa hancur perasaannya, ketika orang-orang membawa Gijik ke beranda rumahnya sebagai mayat yang kalah dengan lima butir selongsong peluru dan beberapa botol miras di pos jaga.
Ia menangis tak bersuara.
Dan kematian Gijik membuat orang-orang Bangkal teringat ini: “Mereka menyebut tanah ini ‘tanah liar’ dan mengatakan kita sebagai manusia berhati domba yang lembut. Kemudian kita diberadabkan dan dikampungkan. Jepang sudah habis. NICA sudah habis. Tanah ini tetap saja disebut tanah liar. Apakah kita tetap berhati domba yang lembut? Oh, bahkan bulan pun enggan muncul di langit kita malam ini,” Kata seorang tetua, menutup tengah malam sembari memadamkan api unggun dan membawa cucu-cucunya masuk ke dalam rumah betang.
Begitulah.
Sungai tetap mengalir dan angin tetap berhembus.
Kuala Pembuang, November 2023































