Berseberangan dengan siapa kamu berpihak?
Di sebuah bar kecil yang dipenuhi aroma lavender dan alkohol, tiga pria tengah menikmati keheningan malam yang penuh kekalutan. Di meja bundar itu, ada seorang pria tangguh berjiwa liar dan kasar, pria idealis yang nyentrik, dan seorang pria tua yang kharismatik sekaligus bijak, seorang filantropis.
Percakapan ringan di antara mereka tiba-tiba terganggu oleh kehadiran seorang remaja dengan gitar usang. Remaja itu menyanyikan lagu “Can’t Help Falling in Love” milik Elvis Presley, namun petikan gitarnya terdengar cukup semrawut.
Pria kasar memecah keheningan. “Ini mengganggu! Aku ingin memukul anak itu dan mengusirnya agar kita bisa minum dengan tenang!” katanya tegas.
Pria nyentrik di sebelahnya menimpali, “Tidak perlu membuat keributan. Biarkan saja dia bernyanyi sampai bosan, nanti dia pergi sendiri.”
Namun, pria tua yang bijak memberikan pandangannya.
“Tidak perlu gegabah, tapi juga jangan bersikap acuh. Ada cara yang lebih baik.”
Ia menatap tajam ke arah pria kasar. “Kalau kau memukul anak itu, kau hanya akan menimbulkan keributan. Kita mungkin akan diusir dan kehilangan tempat ini. Belum lagi, anak itu akan terluka, baik fisik maupun mentalnya.”
Kemudian, ia menoleh ke pria nyentrik. “Lihatlah dia. Dia bernyanyi demi mengisi perut kosongnya. Jika kau tidak peduli, dia tetap akan lapar. Beri dia uang, setidaknya dia bisa pergi dengan sesuatu.”
Pria nyentrik pun memandang remaja itu lebih saksama. Tangan kurusnya dan pakaian lusuh yang dikenakan seolah bercerita. Ia bangkit, berjalan menghampiri si remaja, lalu memberikan dua lembar uang.
Dengan mata berbinar, remaja itu mengucapkan terima kasih sambil membungkuk sedikit. Ia melangkah keluar bar, menemui adiknya yang lebih muda sedang memeluk boneka lusuh di luar pintu. Remaja itu menggenggam tangan adiknya, lalu pergi meninggalkan bar.
Sang pria kasar, yang menyaksikan semua itu, menghisap rokok dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke langit-langit. Diam-diam, ia merasa menyesal atas pikirannya tadi. Meski suasana kini kembali hening, pemandangan singkat itu akan tetap ia ingat.
Tiga Elemen dalam Pikiran
Kisah di atas adalah analogi dari tiga elemen psikologis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud: Id, Ego, dan Superego. Elemen-elemen ini selalu “berdebat” untuk menentukan tindakan kita dalam berbagai situasi.
1 Id: Si Pria Kasar
Id adalah elemen paling primitif dalam kepribadian. Ia mewakili dorongan instingtual dan kebutuhan dasar, seperti makan, kenyamanan, dan kesenangan. Id tidak mempedulikan norma sosial atau moral, hanya ingin kepuasan instan.
Contohnya, saat kamu lapar di tengah pelajaran, Id akan mendorongmu untuk makan meski itu melanggar aturan kelas. Id bisa memaksamu untuk menyuap makanan secara diam-diam, atau bahkan terang-terangan.
Namun, Id tidak selalu negatif. Ia adalah alarm tubuh yang memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, seperti tidur saat tubuh lelah atau makan saat lapar.
2 Ego: Si Pria Nyentrik
Ego adalah elemen yang bertindak sebagai penyeimbang antara Id dan Superego. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, mencari solusi rasional yang dapat diterima secara sosial untuk memenuhi kebutuhan Id.
Misalnya, dalam kisah cinta, kamu mungkin dihadapkan pada dua pilihan: balikan dengan mantan yang sering menyakitimu, atau menerima cinta teman yang hanya kamu anggap sebagai saudara. Ego akan menganalisis risiko dan konsekuensi dari kedua pilihan itu. Jika ego bekerja dengan baik, kamu mungkin memilih untuk tidak menerima keduanya demi kebahagiaanmu sendiri.
3 Superego: Si Pria Bijak
Superego adalah elemen moral yang berurusan dengan norma, etika, dan nilai sosial. Ia mendorong tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan sering disebut sebagai “kata hati”.
Misalnya, saat melihat seseorang membutuhkan bantuan di jalan, Superego mendorongmu untuk menolong, meski kamu sedang lelah. Superego belajar dari pengalaman, didikan orang tua, atau rasa penyesalan akibat melanggar norma.
Keseimbangan Tiga Elemen
Id, Ego, dan Superego seperti tiga anggota parlemen yang sering berdebat untuk menentukan kebijakan. Keseimbangan antara ketiganya sangat memengaruhi kepribadian dan tindakan kita.
Ketiganya tidak selalu sepakat, tapi diskusi mereka adalah bagian dari perjalanan menuju kesadaran nyata. Kepribadian kita terbentuk dari hasil diskusi panjang ini, mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.
Jadi, ketika ketiga elemen ini berdebat dalam pikiranmu, berpihaklah pada keseimbangan. Karena di sanalah letak kedewasaan dan kebijaksanaan.







































