Derap langkahku bergemuruh
Pulang ku, reruntuhan kelam tak berpenghuni
Cahayamu, menuntunku membingkai serpih
Ku bentangkan setiap harap
Tergantung doa, bergurat namamu
Entahlah, aku di persimpangan sunyi
Pergi mu, jejak yang tak dapat ku hapus
Angin berbisik, ia sepi, lirih, dan aku tertatih
Gulungan kerinduan yang kau berikan teranyam indah, membekas dalam pula
Pergi mu, menuntunku di persimpangan waktu
Kau beranjak pergi, aku masih tak terhenti
Ku susuri serpihan jejakmu, mengingatmu lagi
Sebab pulang, kini tak kita, tetapi aku
Tentang harap yang tetap ada
Di ujung sana, mentari telah menanti
Menyinari jejakku yang memulai berdikari
Meski kini, sadar ku bukan lagi sadar mu
Jalan pulang ku, tetap mengarungi samudera waktu
Harus ku sampaikan, teranyam sendu namamu































