Pria tidak bercerita, (“pria tidak menangis” dan “pria tidak boleh lemah”). Benar, itu statement yang sering kita jumpai di media massa maupun pada kehidupan nyata. Bahkan, kita pasti memegang standar maskulin tersebut. Pria maskulin harus memiliki karakter yang kuat (tahan banting), memiliki hati yang tangguh dan otentik. Simbol maskulinitas selalu digunakan untuk menunjukkan karakter pria sejati yang memiliki dominasi dan cenderung akan otoriter.
Apakah anda memegang prinsip maskulin seperti statemen di atas?
Selamat! Anda sudah keliru untuk menjadi seorang pria. Ini bukanlah gambaran pria sejati seutuhnya, maskulinitas seperti itu hanyalah ilusi yang dibangun oleh budaya dari zaman ke zaman.
“Maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Maskulin pada Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Hal yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah kebudayaan” (Barker, dalam Nasir, 2007:1).
Kutipan dari Barker ini, ingin menjelaskan bahwa pada dasarnya maskulinitas itu tidak lahir secara alami. Justru ia lahir karena budaya, dimana budaya membentuk sifat laki-laki dan juga pada akhirnya menentukan sifat perempuan. Barker juga menyatakan bahwa sifat-sifat yang dianggap maskulin itu, seperti kekuatan, kekuasaan, dan kemandirian, ditentukan oleh budaya yang berlaku dalam masyarakat.
1. Toxic Masculinity

Toxic masculinity adalah maskulinitas yang rusak.
Sisi-sisi maskulinitas seperti keberanian, ketegasan dan tanggung jawab dimanipulasi dan dipelintir untuk menyakiti orang lain bahkan diri sendiri. Toxic Masculinity ini merupakan pertumbuhan dari maskulinitas tradisional. Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA), norma maskulinitas tradisional bisa berkontribusi pada isolasi emosional, stres, dan depresi. Pria dipaksa untuk harus berkuasa (dominan), tidak menunjukkan kelemahan serta harus menyembunyikan emosi. Hingga pada akhirnya sisi superior dan temperamen menjadi perilaku yang umum terjadi pada pria.
Pria seperti diciptakan menjadi makhluk tak berperasaan dan tak berwelas asih, sampai sekarang fenomena Toxic Masculinity marak terjadi diberbagai tempat. Tatkala korbannya selalu anak-anak dan wanita, tetapi perlu digaris bawahi juga bahwa pria adalah korban sejati dari maskulinitas yang toxic. Untuk itu, mari kita tinjau ciri-ciri Toxic Masculinity. Sebagaimana berikut ini:
Menolak Emosi yang Dianggap “Lemah”
“Cowok sejati gak boleh nangis”
Ciri pertama, toxic masculinity adalah denial terhadap perasaan emosional. Mereka memaksakan pikiran untuk menekan rasa sedih dan tangis agar tidak terlihat lemah. Didalam pikiran mereka menjadi kuat adalah dengan menolak untuk menangis yang berarti kesedihan, luka batin dan ketakutan itu harus dihilangkan. Justru sebenarnya mengambil langkah seperti ini sama saja artinya mereka tidak jujur terhadap diri sendiri. Akibatnya fatal, justru memendam emosi terlalu lama dan terlalu dalam itu mengakibatkan stres. Lalu membuat amarah menjadi tak dapat dikontrol, sehingga seseorang dapat mengalami depresi yang tidak disadari.
Agresif dan Konfrontatif
“Masalah laki-laki diselesaikan dengan tangan, bukan dengan bacot”
Ciri kedua, mengandalkan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Kecenderung berpikir bahwa masalah jika diselesaikan dengan kekerasan adalah jalan yang terbaik, seakan-akan berbicara hanyalah membuang waktu saja. Menggunakan otot daripada otak, memiliki kesabaran yang sangat rendah dan mudah tersinggung adalah salah satu sikap yang diambilnya.
Lelaki berpikir, bahwa dengan kekuatan fisik mereka memiliki keberanian. Justru orang-orang seperti ini adalah para penakut yang bila kalah dalam berargumen, maka kepalan tangan adalah kunci untuk menutupi rasa malu dan rasa takutnya. Selain dengan kekerasan fisik, intimidasi adalah ciri-ciri lelaki yang mengalami toxic Masculinity. Justru ini bukanlah suatu keberanian, intimidasi dan ancaman adalah mekanisme perlindungan diri dari rasa takut dan rasa kegagalan saat kalah ataupun menghadapi suatu masalah.
Superiority pada Pasangan
“Tempat cewek itu di dapur, gak usah kerja cukup di rumah aja”
Ciri keempat, menganggap perempuan hanyalah alat yang dapat dikontrol. Perempuan bagi penilaian mereka itu seperti barang transaksional, seakan-akan hanya layak berada di dapur, kasur dan sumur. Berdalih bahwa “perempuan itu tugasnya melayani”.
Kecendrungan orang-orang toxic masculinity, tidak bisa menerima perempuan yang cerdas, independen dan memiliki prinsip. Para lelaki ini akan menghindari perempuan dengan karakter kuat, karena merasa takut akan kalah dalam dominasi. Sehingga, dalam hubungan akan memiliki karakter selalu kasar, posesif dan over protective terhadap pasangannya. Sikap manipulatif dengan embel-embel “aku kaya gini karena aku tuh sayang sama kamu,” padahal yang sebenarnya terjadi ialah untuk mengambil kontrol penuh atas pasangannya.
Untuk para perempuan, sekali anda terjebak dengan orang seperti ini maka akan sulit untuk keluar. Lelaki seperti ini akan membuat banyak drama untuk menahanmu agar tidak pergi meninggalkan mereka.
Seksisme
“Cowok gak boleh feminim. Harus laki banget”
Ciri kelima, menolak adanya karakter lembut pada pria. Pria yang memiliki sikap feminim, sensitif dan lembut selalu dianggap tidak normal. Penolakan pada keberadaan sisi feminim lelaki, justru dianggap aib bagi sebagian besar orang. Faktanya, sisi feminim tidak selalu berkaitan dengan penyimpangan. Feminim, lembut dan penyayang pada lelaki adalah suatu keseimbangan dalam kepribadian individu manusia yang juga makhluk hormonal.
Carl Gustav Jung, seorang psikolog terkemuka. Memperkenalkan konsep anima dan animus, yang menggambarkan aspek feminin dalam pria dan aspek maskulin dalam perempuan. Menurut Jung, setiap individu memiliki kedua aspek tersebut dalam dirinya, dan kesehatan psikologis dicapai melalui integrasi keduanya. Ia menyatakan bahwa “perempuan atau laki-laki yang mengembangkan kedua sifat tersebut lebih sehat secara psikologis.”
Jung menggambarkan “anima” sebagai sisi feminin tak sadar seorang pria, yang mewakili prinsip-prinsip seperti kelembutan, emosi, dan intuisi. Kemudian “anima” ini juga tidak terbatas pada perilaku eksternal, tetapi juga pada pengalaman batin dan inner voice seorang laki-laki.
Egois pada diri sendiri
“Ngapain ke psikolog? Gua cowok, kuat kok”
Ciri keenam, menganggap sepele kesehatan mental adalah kebiasaan dari para toxic masculinity. Kondisi dorongan stress dan depresi itu hanyalah overthinking biasa yang bisa hilang saat tertidur, kesehatan mental bagi mereka itu adalah bullshit. Sayangnya, orang seperti ini justru tidak menyadari bahwa mereka sendiri sedang mengalami pergumulan, karena selalu menahan segala bentuk masalah dan emosi sendirian.
Dalam ciri ini, pria toxic masculinity cenderung impulsif dan egois terhadap diri sendiri. Bahkan, selalu merasa tidak butuh pertolongan dari siapapun dan menganggap bantuan itu hanyalah untuk orang yang lemah. Tanpa disadari mereka sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan orang lain, namun mereka selalu menolaknya karena harga diri.
Curhat, self care, ataupun emotion release selalu dianggap sebagai suatu kelemahan dan tidak layak bagi lelaki “untuk bercerita” tentang apapun yang dialami. Sebenarnya perasaan ini bukanlah karena seseorang itu kuat, justru ketidakmampuan untuk bercerita/curhat serta self care untuk menunjukan bahwa mereka masih belum berdamai dengan diri mereka sendiri. Menolak untuk mengungkapkan perasaan, sama saja mengakui kelemahan laki-laki. Itulah yang terjadi pada lelaki “tidak bercerita.” Menolak minta tolong, bahkan saat sedang sakit atau stres berat.
Perilaku egois pada diri sendiri, bagi para toxic masculinity tidak hanya berdampak pada kesehatan mental. Ini juga berpengaruh kepada kesehatan fisik, karena mengabaikan penyakit agar terlihat tangguh. Adanya rasa enggan untuk pergi ke dokter untuk memeriksa penyakitnya, lalu selalu memaksakan diri untuk terus bekerja agar dapat dilihat sebagai “pria tangguh” yang produktif. Merupakan suatu gengsi hingga lupa untuk menjaga kesehatan tubuh.
2. Dampak dari Toxic Masculinity
Toxic masculinity memiliki dampak yang luas dan merusak, baik bagi individu laki-laki itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Secara pribadi, laki-laki yang terjebak dalam pola toxic masculinity cenderung menekan emosi, memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat, dan menolak menunjukkan kerentanan. Akibatnya, mereka sering mengalami stres, kesepian, depresi tersembunyi, hingga kesulitan membangun hubungan emosional yang sehat.
Dalam relasi sosial, toxic masculinity melahirkan perilaku dominatif, agresif, dan merendahkan orang lain—terutama perempuan dan laki-laki yang dianggap “kurang maskulin.” Hal ini bisa menciptakan hubungan yang penuh kekerasan verbal maupun fisik, memperparah ketimpangan gender, serta memupuk budaya patriarki yang menyuburkan diskriminasi.
Dalam skala masyarakat, toxic masculinity dapat menghambat upaya kesehatan mental. Akibatnya merusak iklim kerja dan komunitas, serta menormalisasi kekerasan sebagai bentuk kejantanan. Banhkan yang paling menyedihkan, laki-laki yang terus hidup dalam pola ini seringkali kehilangan kesempatan untuk menjadi pribadi manusia utuh, yang sehat secara emosional, dan penuh kasih—karena mereka terjebak dalam gambaran palsu tentang “menjadi laki-laki sejati.”
3. Bulan Kesehatan Mental Pria

Kepada para pria, Toxic Masculinity adalah belenggu tak kasat mata yang memaksa lelaki menolak sisi manusianya demi ilusi kejantanan. Ia bukan cermin kekuatan, tapi tanda bahwa seseorang telah kehilangan haknya untuk jujur pada diri sendiri. Bagi lelaki yang sedang mencari jati diri, ingatlah:
Menjadi lelaki sejati bukan soal kerasnya suara atau kuatnya genggaman, melainkan keberanian untuk mencintai, mendengar, dan bertumbuh. Bagi kawan-kawan swara yang sedang terjebak dalam toxic masculinity, ketahuilah—melepaskan topeng bukan berarti kalah, melainkan pulang. Pulang pada dirimu yang sejati, yang diciptakan bukan untuk menjadi mesin tempur. Akan tetapi untuk menjadi terang bagi dunia, dan damai bagi jiwa sendiri.














































