Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
No Result
View All Result
BERANDA Pena Opini

ILUSI MASKULINITAS

"BULAN KESEHATAN MENTAL LAKI-LAKI"

Agus Satria Wijaya G BahenOLEHAgus Satria Wijaya G Bahen
Juli 14, 2025
0 0
Share on FacebookShare on Twitter

Pria tidak bercerita, (“pria tidak menangis” dan “pria tidak boleh lemah”). Benar, itu statement yang sering kita jumpai di media massa maupun pada kehidupan nyata. Bahkan, kita pasti memegang standar maskulin tersebut. Pria maskulin harus memiliki karakter yang kuat (tahan banting), memiliki hati yang tangguh dan otentik. Simbol maskulinitas selalu digunakan untuk menunjukkan karakter pria sejati yang memiliki dominasi dan cenderung akan otoriter.

Apakah anda memegang prinsip maskulin seperti statemen di atas?

Selamat! Anda sudah keliru untuk menjadi seorang pria. Ini bukanlah gambaran pria sejati seutuhnya, maskulinitas seperti itu hanyalah ilusi yang dibangun oleh budaya dari zaman ke zaman.

“Maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Maskulin pada Laki-laki tidak dilahirkan begitu saja secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Hal yang menentukan sifat perempuan dan laki-laki adalah kebudayaan” (Barker, dalam Nasir, 2007:1).

Kutipan dari Barker ini, ingin menjelaskan bahwa pada dasarnya maskulinitas itu tidak lahir secara alami. Justru ia lahir karena budaya, dimana budaya membentuk sifat laki-laki dan juga pada akhirnya menentukan sifat perempuan. Barker juga menyatakan bahwa sifat-sifat yang dianggap maskulin itu, seperti kekuatan, kekuasaan, dan kemandirian, ditentukan oleh budaya yang berlaku dalam masyarakat.

1. Toxic Masculinity

Ilustrasi Masculinity pada laki-laki (Sumber: MetaAI)

Toxic masculinity adalah maskulinitas yang rusak.

Sisi-sisi maskulinitas seperti keberanian, ketegasan dan tanggung jawab dimanipulasi dan dipelintir untuk menyakiti orang lain bahkan diri sendiri. Toxic Masculinity ini merupakan pertumbuhan dari maskulinitas tradisional. Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA), norma maskulinitas tradisional bisa berkontribusi pada isolasi emosional, stres, dan depresi. Pria dipaksa untuk harus berkuasa (dominan), tidak menunjukkan kelemahan serta harus menyembunyikan emosi. Hingga pada akhirnya sisi superior dan temperamen menjadi perilaku yang umum terjadi pada pria.

Pria seperti diciptakan menjadi makhluk tak berperasaan dan tak berwelas asih, sampai sekarang fenomena Toxic Masculinity marak terjadi diberbagai tempat. Tatkala korbannya selalu anak-anak dan wanita, tetapi perlu digaris bawahi juga bahwa pria adalah korban sejati dari maskulinitas yang toxic. Untuk itu, mari kita tinjau ciri-ciri Toxic Masculinity. Sebagaimana berikut ini:

Menolak Emosi yang Dianggap “Lemah”

“Cowok sejati gak boleh nangis”

Ciri pertama, toxic masculinity adalah denial terhadap perasaan emosional. Mereka memaksakan pikiran untuk menekan rasa sedih dan tangis agar tidak terlihat lemah. Didalam pikiran mereka menjadi kuat adalah dengan menolak untuk menangis yang berarti kesedihan, luka batin dan ketakutan itu harus dihilangkan. Justru sebenarnya mengambil langkah seperti ini sama saja artinya mereka tidak jujur terhadap diri sendiri. Akibatnya fatal, justru memendam emosi terlalu lama dan terlalu dalam itu mengakibatkan stres. Lalu membuat amarah menjadi tak dapat dikontrol, sehingga seseorang dapat mengalami depresi yang tidak disadari.

Agresif dan Konfrontatif

“Masalah laki-laki diselesaikan dengan tangan, bukan dengan bacot”

Ciri kedua, mengandalkan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Kecenderung berpikir bahwa masalah jika diselesaikan dengan kekerasan adalah jalan yang terbaik, seakan-akan berbicara hanyalah membuang waktu saja. Menggunakan otot daripada otak, memiliki kesabaran yang sangat rendah dan mudah tersinggung adalah salah satu sikap yang diambilnya.

Lelaki berpikir, bahwa dengan kekuatan fisik mereka memiliki keberanian. Justru orang-orang seperti ini adalah para penakut yang bila kalah dalam berargumen, maka kepalan tangan adalah kunci untuk menutupi rasa malu dan rasa takutnya. Selain dengan kekerasan fisik, intimidasi adalah ciri-ciri lelaki yang mengalami toxic Masculinity. Justru ini bukanlah suatu keberanian, intimidasi dan ancaman adalah mekanisme perlindungan diri dari rasa takut dan rasa kegagalan saat kalah ataupun menghadapi suatu masalah.

Superiority pada Pasangan

“Tempat cewek itu di dapur, gak usah kerja cukup di rumah aja”

Ciri keempat, menganggap perempuan hanyalah alat yang dapat dikontrol. Perempuan bagi penilaian mereka itu seperti barang transaksional,  seakan-akan hanya layak berada di dapur, kasur dan sumur. Berdalih bahwa “perempuan itu tugasnya melayani”.

Kecendrungan orang-orang toxic masculinity, tidak bisa menerima perempuan yang cerdas, independen dan memiliki prinsip. Para lelaki ini akan menghindari perempuan dengan karakter kuat, karena merasa takut akan kalah dalam dominasi. Sehingga, dalam hubungan akan memiliki karakter selalu kasar, posesif dan over protective terhadap pasangannya. Sikap manipulatif dengan embel-embel “aku kaya gini karena aku tuh sayang sama kamu,” padahal yang sebenarnya terjadi ialah untuk mengambil kontrol penuh atas pasangannya.

Untuk para perempuan, sekali anda terjebak dengan orang seperti ini maka akan sulit untuk keluar. Lelaki seperti ini akan membuat banyak drama untuk menahanmu agar tidak pergi meninggalkan mereka.

Seksisme

“Cowok gak boleh feminim. Harus laki banget”

Ciri kelima, menolak adanya karakter lembut pada pria. Pria yang memiliki sikap feminim, sensitif dan lembut selalu dianggap tidak normal. Penolakan pada keberadaan sisi feminim lelaki, justru dianggap aib bagi sebagian besar orang. Faktanya, sisi feminim tidak selalu berkaitan dengan penyimpangan. Feminim, lembut dan penyayang pada lelaki adalah suatu keseimbangan dalam kepribadian individu manusia yang juga makhluk hormonal.

Carl Gustav Jung, seorang psikolog terkemuka. Memperkenalkan konsep anima dan animus, yang menggambarkan aspek feminin dalam pria dan aspek maskulin dalam perempuan. Menurut Jung, setiap individu memiliki kedua aspek tersebut dalam dirinya, dan kesehatan psikologis dicapai melalui integrasi keduanya. Ia menyatakan bahwa “perempuan atau laki-laki yang mengembangkan kedua sifat tersebut lebih sehat secara psikologis.”

Jung menggambarkan “anima” sebagai sisi feminin tak sadar seorang pria, yang mewakili prinsip-prinsip seperti kelembutan, emosi, dan intuisi. Kemudian “anima” ini juga tidak terbatas pada perilaku eksternal, tetapi juga pada pengalaman batin dan inner voice seorang laki-laki.

Egois pada diri sendiri

“Ngapain ke psikolog? Gua cowok, kuat kok”

Ciri keenam, menganggap sepele kesehatan mental adalah kebiasaan dari para toxic masculinity. Kondisi dorongan stress dan depresi itu hanyalah overthinking biasa yang bisa hilang saat tertidur, kesehatan mental bagi mereka itu adalah bullshit. Sayangnya, orang seperti ini justru tidak menyadari bahwa mereka sendiri sedang mengalami pergumulan, karena selalu menahan segala bentuk masalah dan emosi sendirian.

Dalam ciri ini, pria toxic masculinity cenderung impulsif dan egois terhadap diri sendiri. Bahkan, selalu merasa tidak butuh pertolongan dari siapapun dan menganggap bantuan itu hanyalah untuk orang yang lemah. Tanpa disadari mereka sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan orang lain, namun mereka selalu menolaknya karena harga diri.

Curhat, self care, ataupun emotion release selalu dianggap sebagai suatu kelemahan dan tidak layak bagi lelaki “untuk bercerita” tentang apapun yang dialami. Sebenarnya perasaan ini bukanlah karena seseorang itu kuat, justru ketidakmampuan untuk bercerita/curhat serta self care untuk menunjukan bahwa mereka masih belum berdamai dengan diri mereka sendiri. Menolak untuk mengungkapkan perasaan, sama saja mengakui kelemahan laki-laki. Itulah yang terjadi pada lelaki “tidak bercerita.” Menolak minta tolong, bahkan saat sedang sakit atau stres berat.

Perilaku egois pada diri sendiri, bagi para toxic masculinity tidak hanya berdampak pada kesehatan mental. Ini juga berpengaruh kepada kesehatan fisik, karena mengabaikan penyakit agar terlihat tangguh. Adanya rasa enggan untuk pergi ke dokter untuk memeriksa penyakitnya, lalu selalu memaksakan diri untuk terus bekerja agar dapat dilihat sebagai “pria tangguh” yang produktif. Merupakan suatu gengsi hingga lupa untuk menjaga kesehatan tubuh.

2. Dampak dari Toxic Masculinity

Toxic masculinity memiliki dampak yang luas dan merusak, baik bagi individu laki-laki itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Secara pribadi, laki-laki yang terjebak dalam pola toxic masculinity cenderung menekan emosi, memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat, dan menolak menunjukkan kerentanan. Akibatnya, mereka sering mengalami stres, kesepian, depresi tersembunyi, hingga kesulitan membangun hubungan emosional yang sehat.

Dalam relasi sosial, toxic masculinity melahirkan perilaku dominatif, agresif, dan merendahkan orang lain—terutama perempuan dan laki-laki yang dianggap “kurang maskulin.” Hal ini bisa menciptakan hubungan yang penuh kekerasan verbal maupun fisik, memperparah ketimpangan gender, serta memupuk budaya patriarki yang menyuburkan diskriminasi.

Dalam skala masyarakat, toxic masculinity dapat menghambat upaya kesehatan mental. Akibatnya merusak iklim kerja dan komunitas, serta menormalisasi kekerasan sebagai bentuk kejantanan. Banhkan yang paling menyedihkan, laki-laki yang terus hidup dalam pola ini seringkali kehilangan kesempatan untuk menjadi pribadi manusia utuh, yang sehat secara emosional, dan penuh kasih—karena mereka terjebak dalam gambaran palsu tentang “menjadi laki-laki sejati.”

3. Bulan Kesehatan Mental Pria

Ilustrasi lelaki bahagia (Sumber: MetaAI)

Kepada para pria, Toxic Masculinity adalah belenggu tak kasat mata yang memaksa lelaki menolak sisi manusianya demi ilusi kejantanan. Ia bukan cermin kekuatan, tapi tanda bahwa seseorang telah kehilangan haknya untuk jujur pada diri sendiri. Bagi lelaki yang sedang mencari jati diri, ingatlah:

Menjadi lelaki sejati bukan soal kerasnya suara atau kuatnya genggaman, melainkan keberanian untuk mencintai, mendengar, dan bertumbuh. Bagi kawan-kawan swara yang sedang terjebak dalam toxic masculinity, ketahuilah—melepaskan topeng bukan berarti kalah, melainkan pulang. Pulang pada dirimu yang sejati, yang diciptakan bukan untuk menjadi mesin tempur. Akan tetapi untuk menjadi terang bagi dunia, dan damai bagi jiwa sendiri.

Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia
Agus Satria Wijaya G Bahen

Agus Satria Wijaya G Bahen

Mahasiswa Ilmu Psikologi dan Pegiat Kesehatan Mental Remaja

Terkait Pos

Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme
Pena Artikel

Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

Februari 11, 2026

Dunia saat ini, sedang berada dalam fase kritis yang oleh para ilmuwan disebut sebagai The Anthropocene—sebuah epos geologis di mana...

kerusakan lingkungan Indonesia
Pena Artikel

Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

Februari 10, 2026

  Selama IPTEKS tidak merdeka, seperti juga politik negaranya, maka kekayaan sumberdaya alam Indonesia tidak akan menjadikan penduduknya sejahterah, melainkan...

Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.
Pena Artikel

Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

Februari 10, 2026

Penetapan status kawasan hutan di Kalimantan Tengah telah menempatkan Masyarakat adat dayak dalam posisi dilema dalam mengeloal wilayah hidupnya, karena...

Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Pena Artikel

IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

Februari 10, 2026

Pembangunan Ibu Kota Nusantara sejak 2022 dinilai mengedepankan kepentingan manusia dan ekonomi, dengan risiko serius terhadap lingkungan Kalimantan Timur.

Perlindungan Gambut Masih Lemah
Pena Artikel

Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

Februari 10, 2026

Peraturan perundang-undangan sektor lingkungan masih menimbulkan banyak diskursus. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH),...

Kedaulatan pangan Dayak Meratus
Pena Opini

Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

Februari 9, 2026

Pegunungan Meratus merupakan bentang alam hutan hujan tropi, membentang di Provinsi Kalimantan Selatan. Masyarakat Dayak Meratus, pada kawasan ini memiliki...

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

Desember 12, 2024

Menyimak Perdebatan Tiga Elemen dalam Pikiran: Menuju Kesadaran Nyata

Juni 2, 2025

Kita Adalah “Pembunuh” yang Lain

Maret 4, 2025

Teranyam Sendu Namamu

Juni 9, 2025

Malam yang Mengubah Sebuah Janji

0

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

0
Lumbung Pangan

Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

0
Beberapa mahasiswa di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar Aksi Kamisan untuk mengingatkan kembali kasus pelanggaran hak asasi manusia, Kamis (18/1/2024). FOTO: KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Ketika Polisi Menjadi Pelaku Kekerasan

0
Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

April 17, 2026
apa kabar?

apa kabar?

Maret 4, 2026
Ilustrasi Meta AI

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026
Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

Februari 17, 2026

  • Sejarah
  • Dapur
  • Menjadi Suara Melalui Tulisan
  • Galeri Kami

Copyright © SwaraPena - Komunitas Menulis Borneo

No Result
View All Result
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar
  • Pena Artikel
  • Pena Opini

Komunitas Menulis Borneo - Swara Pena

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In