Sakit yang Tak Sirna

Manifestasi Father Wound dalam Diri Jonathan – dan Kita Semua

Jadi WNI saat ini, di tengah kekalutan & konflik yang ada, rasanya kurang afdol kalau tidak membicarakan film terbaru Yandy Laurens—dan menurut saya, terbaik sejauh ini: Sore: IDAMAN. Saya pun ingin menyoroti satu hal saja tentangnya, yang sangat membekas—satu saja: rasa sakitnya Jonathan.

K
urang lebih dua minggu setelah menonton film Sore—didahului versi serial sebelumnya—aku baru ngeh terhadap luka menahun yang diidap Jonathan. Dia digambarkan sebagai perokok & peminum kronis, tidak pernah pikir-pikir kalau kebiasaan luar biasa buruk semasa mudanya bisa saja berimpact besar di masa depannya bersama istri yang ia cintai, Sore. Dan yap, dia pun mati muda di kehidupan pertamanya, meninggalkan luka mendalam bagi Sore yang rela mati & hidup berkali-kali untuk menyelamatkannya.

Yang aku lihat dari Jonathan adalah: dia kosong. Seumur hidup dia berusaha mengisi kekosongan itu dengan apa yang bisa ia raih: adiksi. Dia tidak tahu bisa & harus apa lagi. Tidak ada arah.

Klasik? Ya. Namun it hits different untuk yang hidup dengan father wound, yaitu luka emosional akibat ketidakhadiran sosok ayah secara batiniah atau hubungan yang bermasalah dengan ayah, yang acap kali membuat absennya ikatan kuat dengan orang tua (salah satu atau keduanya) ataupun keluarga. Makanya, saat ia akhirnya memaafkan ayahnya setelah lama menyimpan tanya & kepahitan tentang mengapa sang ayah meninggalkan keluarganya sejak ia berusia 4 tahun, Jonathan sembuh.

Semuanya kembali ke akar: orang tua. Now hear me out.

Psikiaterku selalu bilang di seeeemua sesiku untuk menerima & memperbaiki hubungan yang dari semula rumpang dengan orang tua. Mereka bukan tidak akur atau mengabaikan pertumbuhanku; mereka pun masih menghirup udara yang sama denganku. Justru peran yang timpang antara suami & istri yang membuat aku dibesarkan dengan gelas yang tumpah ruah di satu sisi namun kosong di sisi lainnya.

Secara fisik, aku tidak telat puber—bahkan dinilai lebih dewasa dari anak-anak lain seusiaku. Namun secara psikologis, sebaliknya. Aku baru menjadi remaja di usia 22 tahun, bahkan mungkin hingga sekarang. Alkohol adalah sahabat untuk mengisi kekosongan relung jiwa atau cuma demi tidur.

Sekarang sih aku sudah dalam pengobatan & psikoterapi aktif untuk pulih dari semua luka intergenerasi yang tumbuh subur dalam diri ini. Hanya saja, aku gemas dan sulit mencerna jika cara terbesarku untuk pulih adalah dengan memperbaiki hubunganku dengan orang tua, karena itu luar biasa sulit—like, anything but it, for heaven’s sake. Kami terpaut gap 30 tahun, dan aku rasa itu cukup menjelaskan perbedaan yang terlihat jelas di antara kami. Mereka bahkan bilang sendiri, sulit untuk belajar lagi karena semua yang mereka tahu sudah mengkristal dalam diri mereka.

“Dok, gak bisa (diperbaiki) sama adik-adik saya aja gitu? Harus sama mereka?” tanyaku, dengan hampir putus asa.
“Gak bisa,” jawabnya singkat.

Layaknya Jonathan, aku tumbuh menjadi marah dan kecut. Terus menyalahkan keadaan, menyimpan semua duka sendiri. Aku tahu cerita pada mereka hanya berujung kesalahpahaman dan ketidaksepakatan. Padahal, begitulah adanya berhubungan: tidak semuanya sepakat dan langsung mengerti. Namun karena rumahku menerapkan sistem feodalisme, aku belajarnya hubungan itu ya harus selalu setuju, seiya-sekata, tanpa dibicarakan dua arah.

Itu memberi pengaruh besar dalam hubunganku dengan pasangan. Aku jadi hanya manut dan bergantung—termasuk dalam meregulasi diri—merasa gagal saat harus agree to disagree, atau berontak ketika merasa diatur lebih ketat. Mengingatkanku pada Jonathan yang berkata, “Gak ada yang bisa ngatur aku, termasuk istri aku sendiri.”

Sepanjang hidup, Jonathan telah disetir oleh kesakitan & kesepiannya saat harus menavigasi hidup tanpa sosok ayah. Makanya, saat ada entitas lain yang ingin mengatur-ngaturnya, yaitu cinta dari Sore, yang dapat ia identifikasi hanyalah perasaan tidak aman dari ancaman terhadap kebebasannya. Aku tahu persis. Like the back of my hand.

SORE: Istri dari Masa Depan
SORE: Istri dari Masa Depan

Aku setuju dengan diskursus jika Jonathan akhirnya berubah bukan karena merasa takut akan masa depan—di mana ia mati muda—tapi karena dicintai oleh Sore. Mungkin aku sulit untuk membangun hubungan kembali karena aku belum memaafkan & merelakan yang telah lalu seperti Jonathan. Aku mau percaya jika aku sudah cukup dicintai selama ini, di luar seisi dunia yang bisa mereka berikan untukku.

Dari Jonathan, aku belajar untuk membabat perlahan luka yang seakan tak kunjung sirna dari kekosongan sosok penting bagi tumbuh kembangku. Apa yang sudah lewat di kehidupanku tidak bisa terulang seperti garis hidup & benang merah Sore–Jonathan yang menembus waktu. Namun, seperti kata psikiaterku, bisa dibangun ulang.

“Karena akar semua masalah kamu dalam berhubungan dan berfungsi sehari-hari adalah dari hubungan dengan orang tua kamu,” tambahnya. Tidak ada hubungan lain, bahkan asmara, yang bisa menggantikan perannya.

Aku mau percaya jika aku bisa seperti Jonathan: dikasihi & mengasihi sebegitu besar hingga dapat memulai kembali. Aku pun ingin seperti Sore: jatuh & bangun melaluinya berkali-kali.

BERIKUTNYA

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.