Lebih dari seabad yang lalu, Rudolf Virchow, seorang dokter dan ilmuwan ternama, pernah berkata, “Medicine is a social science, and politics is nothing else but medicine on a large scale.” Artinya, kesehatan tidak hanya urusan tubuh manusia, tetapi juga hasil dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik di sekitarnya. Dengan kata lain, jika politik dijalankan dengan benar, maka sejatinya ia adalah bentuk “pengobatan” bagi masyarakat secara luas.
Selain hal tersebut, abat ini telah mengenalkan ilmu kedokteran berupa “Pengobatan Holistik”. Berdasarkan penjelasan dr. Syahrul (kawan seperjuangan) dalam diskusi singkat (12/11/2025) di kantor, bahwa indikatornya terdiri dari pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi yang mengutamakan layanan berkesinambungan dengan konsep pendekatan holistik, dimana hal tersebut harus mempertimbangkan aspek bio-psiko-sosial-kultural-ekonomi yang mempengaruhi kesehatan. Akan tetapi, hal ini masih belum cukup populer. Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP) yang menggunakan pendekatan holistik tersebut masih belum banyak di Indonesia.
Namun, salah satu faktor sosial yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia adalah “lingkungan”. Alam tidak mengenal kasta atau status sosial—ia memperlakukan semua makhluk dengan adil selama tidak dirusak oleh keserakahan manusia.
Di Kalimantan Tengah, Taman Wisata Alam (TWA) Tangkiling menjadi contoh nyata bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan. Terletak sekitar 34 km dari pusat Kota Palangka Raya, kawasan ini unik karena memadukan hutan, pemukiman warga, dan situs budaya dalam satu lanskap yang harmonis.
Tidak terlalu luas, tidak pula terlalu kecil, TWA Tangkiling menawarkan kesejukan alami yang semakin langka di tengah hiruk-pikuk kota.

Belakangan, TWA Tangkiling menghadirkan sesuatu yang berbeda. Di bawah gagasan para pecinta alam seperti Kak Mubarak, kawasan ini membuka diri untuk aktivitas yang menyehatkan tubuh sekaligus menenangkan jiwa — mulai dari olahraga lari di tengah rimbunnya pepohonan hingga kegiatan “memeluk pohon”, atau yang populer disebut tree hugging dan forest bathing.

Fenomena “memeluk pohon” mungkin terdengar sederhana, tapi manfaatnya luar biasa. Aktivitas ini bukan hanya menumbuhkan kesadaran ekologis, tetapi juga menjadi terapi alami yang bisa dilakukan siapa saja — tanpa memandang usia, profesi, atau status sosial.
Pohon tidak pernah menolak siapa pun yang datang untuk memeluknya. Ia menerima semua: pejabat, petani, pelajar, bahkan pengamen.
Secara ilmiah, memeluk pohon dapat menurunkan stres dan kecemasan karena meningkatkan kadar oksitosin, hormon yang dikenal sebagai “hormon cinta.” Paparan udara segar dan cahaya alami juga terbukti memperbaiki suasana hati, memperkuat sistem imun, menurunkan tekanan darah, hingga meningkatkan kesehatan jantung.
Dalam waktu yang sama, pohon-pohon itu pun “merasakan” manfaatnya — mereka mendapatkan perhatian, perlindungan, dan penghargaan dari manusia. Sebuah simbiosis mutualisme yang indah antara manusia dan alam.
Namun, muncul satu pertanyaan penting: “Bagaimana jika kelak tak ada lagi pohon yang bisa dipeluk?”
Kita hidup di dunia yang semakin dikuasai logika kapitalisme. Hutan-hutan ditebang demi industri dan perkebunan, sementara akses terhadap lingkungan sehat justru semakin eksklusif. Ironisnya, kelompok masyarakat yang paling rentan justru paling sulit menikmati fasilitas kesehatan dan alam yang bersih.
Padahal, seperti tubuh manusia, lingkungan pun punya sistem keseimbangan. Ketika satu bagian rusak, yang lain ikut sakit. Maka menjaga pohon bukan hanya tentang konservasi — tetapi tentang menjaga “kesehatan kolektif” umat manusia.
dr. Syahrul menegaskan kembali bahwa banyaknya penyakit cenderung hadir akibat stress. Dimana hormon kortisol (hormon stres) meningkat, salah satunya justru dapat membuat flak di pembulu darah (aterosklerosis). Sehingga, meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya.
Oleh sebab itu, aktivitas memeluk pohon cukup dianjurkan sebagai bentuk salah satu pengobatan holistik yang masuk indikator pencegahan.
Karena pada akhirnya, pohon bukan sekadar makhluk hidup yang berdiri diam di hutan; ia adalah penjaga kehidupan, penenang pikiran, dan penyembuh yang tak pernah meminta imbalan.
Selama kita masih bisa memeluk pohon, kita masih punya harapan untuk sembuh — bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai manusia yang utuh dan sadar akan keterikatannya dengan alam.































