Sahabat, malam ini semuanya hening. Jangkrik pun tak kudengar di kejauhan. Semuanya diam, sunyi. Lalu, aku putuskan untuk menulis surat padamu.
Sahabat, seperti kau tahu sebelumnya, aku punya hal-hal yang membuatku sebagai manusia menjadi sempurna: seorang kekasih, rumah, pekerjaan, dan teman-teman. Semuanya ada, meski tak berkelebihan.
Lalu, pada suatu pagi, dengan peristiwa yang sederhana, semuanya berubah dan hilang. Semuanya pergi, semuanya hancur. Dan aku sendiri. Tak hanya yang terlihat, yang kudoakan untuk terus ada bersamaku, bersemayam di hatiku pun pergi. Semua hilang. Aku tak punya apa-apa lagi. Benar-benar tak punya apa-apa, bahkan alasan untuk tetap ada sebagai seorang manusia pun tak ada.
Hari demi hari berganti. Jauh jalanku, melalui hutan sepi, berkelok dan berlumpur. Mencari alasan, mencari persinggahan, mencari jawaban: untuk apa aku ada? Tahukah kamu, jawaban apa yang kupunya sekarang? Untuk sendirian…
Sahabat, malam ini, melalui surat ini, kutanyakan padamu: apa misteri dari kehidupan manusia? Penghentian yang seperti apa? Surga seperti apa yang dijanjikan kepada insan yang menderita? Atau, hidup seperti apa yang akan didapatkan seseorang yang, ketika tiada alasan, menjadikannya alasan untuk terus berjalan menuju jawaban?
Sahabat, pernah suatu malam, di bawah mandian cahaya bintang dan bulan yang begitu indah, aku menangis selepas-lepasnya. Tak bisa kujelaskan. Aku tak punya pembenaran. Hanya saja, air mataku menyeruak, memaksa untuk membanjiri dunia yang kini kering ini. Apakah terlalu banyak sakitku hingga tak kutahu untuk apa air mata itu?
Sahabat… Pernahkah engkau bertanya, untuk apa sebenarnya kita ada? Apakah hanya untuk menderita lalu kemudian bersujud pada Sang Pencipta, meminta belas kasih untuk secuil bahagia? Apakah Sang Alfa dan Omega sekejam itu? Jika tidak, lalu apa misteri di balik semua ini?
Sahabat, maafkan aku bertanya, meski tak ada jawabmu. Aku tahu, di sudut hatimu ada tanya yang sama.













































