di lorong-lorong ini, Tuhan
kupungut serpihan doa yang rontok
dari mulut yang lapar, akan kasih
seperti anak yatim memungut kelereng
di halaman gereja sunyi
setiap malam kudengar doa
merangkak di tembok-tembok kesepian
mencari celah masuk ke dalam dada
yang telah kau tutup pintunya
dengan gembok waktu
di manakah engkau sembunyikan kunci-kuncinya?
di antara rosario yang putus
atau di sela anggur yang mengering
seperti bibir-bibir yang lupa bersukur?
aku berlari ke pelabuhan
mencari kapal yang membawa pulang
serpihan-serpihan diriku yang tercecer
di dermaga kenangan
tapi kutemukan hanya ombak
yang terus berbisik: kemana kau pulang?
maka di sini aku berdiri
di antara denting piring kosong
dan gelas-gelas menunggu isi
mencoba menghitung berapa lama lagi
kutahan lapar ini
setiap sujud kuulang pertanyaan
yang sama pada-Mu:
mengapa kesepian ini
terasa seperti doa
yang tak kunjung selesai?
di sudut kamar
ku hitung yang tersisa
sambil mengenang wajah
yang telah Kau panggil, meninggalkan aku
dengan kitab yang masih tergelar
dengan sujud yang entah
kapan akan ku sempurnakan
Tuhan,
jika memang kesepian ini adalah cara-Mu
mengajariku makna
mengapa Kau titipkan dia
di ruang yang sempit
dalam dadaku?







































