Dikala senja, sang cinta mencumbui uluh hati manusia
Entahlah, rasa-rasanya begitu hampa tanpa warna
Aih, aku gelisah ingin mendesah dengan yang kuasa
Ketika rinai hujan tertahan suatu mega dan cakrawala.
Sendiri, sepi, terkulai lunglai aku berlari
Tersesati mimpi yang tak menemui tepi
Asu asu, haruskah aku berdiam diri disini
Ditertawai pelangi di penghujung senja, ingin berlalu dan pergi.
Gelap dan bayanganmu beradu, sesak-sesakan di semestaku
Rona wajahmu, bibir basah mu, masih tak terurai di mimpiku
Kau tau, sengaja kugoreskan tajamnya warna itu
Tak kusangka, sekejam itu pula kau goreskan luka di dadaku
Ketika merindu canda dan tawamu adalah rindu
Saat lampu temaram Palangka Raya kian semakin sendu
Bahkan aksara dan karsa tak lagi saling bersatu
Di saat itulah hati ku luruh, klimaks dan jatuh termangu.
Aku tersungkur jatuh, nafasku masih menggapaimu
Tapi tenanglah sayangku,
Aku menunggumu
Aku ingin selalu menyentuh mu
Jangan takut sayangku
Aku ingin membuktikan padamu
Akulah orang perkasa yang sangat mencintai mu.
Bodoh, tak apa jika itu sematan pada ku
Otak ini, ku letakkan di dengkul kaki ku,
Untuk bertekuk lutut meminta maaf pada mu
Mengemis senyum dan kasih sayang dari dirimu.













































