Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • SEMUA
    • Non Fiksi
    • Prosa
    • Puisi
    apa kabar?

    apa kabar?

    Ilustrasi Meta AI

    Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

    Makna Waktu

    Yu …

    Ilustrasi Ruang Waktu (Sumber: AI)

    Sunyi Menggema Kata

    Pemuda pengumpul sampah

    pemuda tukang sampah

    Mikrofon kekuasaan

    Dari Megafon ke Mikrofon kekuasaan

    Padahal kau Dayak

    Ilustrasi Kondisi Desa Barunan

    MODERN TAPI TERPENCIL

    Ilustrasi Cangkir Tua Sumber: Meta AI

    Sura dan Kaphi

    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar

    Api di Tanah “Tuan Kebun”

    BUMN Bukan Lagi Penyelenggara Negara: Perubahan atau Celah Baru?

    Tangisan Ibu Pertiwi

    Lumbung Pangan

    Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

  • Pena Artikel
    Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme

    Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

    kerusakan lingkungan Indonesia

    Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.

    Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

    Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

    IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

    Perlindungan Gambut Masih Lemah

    Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

    Kedaulatan pangan Dayak Meratus

    Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

    Ilustrasi Kondisi Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah

    Dinamika Ekologi dan Perspektif Lingkungan Hidup di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi masyarakat adat Dayak Laman Kubung di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, berdiri di kawasan hutan dan sungai yang diduga terdampak kebakaran, banjir, alih fungsi lahan, dan aktivitas industri ekstraktif.

    Subsistensi Dayak Tomun Hadapi Ekspansi Industri

    Ketahanan Pangan

    Janji Palsu Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah

  • Pena Opini
    Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

    PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

    Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

    Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

    Ilustrasi sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang terlihat berunjuk rasa di ruang publik dengan membawa poster bertema keadilan iklim, penyelamatan bumi, dan penolakan deforestasi, berlatar kawasan industri, hutan, serta energi terbarukan.

    Merebut Keadilan Lingkungan dari Perspektif Perempuan

    Ilustrasi Hutan Potensi Hutan Desa

    Pengelolaan Hutan Desa Melalui Skema Menjaga Hutan Sembari Menjaga Ketahanan Pangan

    Ilustrasi masyarakat adat dan pegiat lingkungan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, membawa spanduk “Selamatkan Meratus” dengan latar hutan, satwa liar, dan simbol penolakan pembalakan serta kebijakan konservasi yang dinilai tidak adil.

    Menjaga Meratus dengan Keadilan Ekologis

    Ilustrasi Ruang Aman Perempuan dan Anak.

    RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

    Mengapa Pilkada Melalui DPRD Bukan Solusi Tepat ?

    Ilustrasi Feudal Power in Indonesian Public Space.

    Personalisasi Kekuasaan dan Penyakit Klasik Warisan Feodalisme

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal: Penindasan Sistemik Masyarakat Adat Kalimantan

    Kebijakan Negara vs Kearifan Lokal

No Result
View All Result
Swara Pena
No Result
View All Result

Superiority Complex dan Narsisme

“Apakah Itu Kamu?”

KrisanOLEHKrisan
Mei 15, 2025
0 0
Share on FacebookShare on Twitter

Menurut Syfa A. N dkk dalam jurnalnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi tempat yang subur bagi orang-orang dengan kecenderungan untuk menampilkan kehebatan diri. Berbagi platform memberi ruang luas bagi individu dengan gangguan superior kompleks dan narsistik untuk menonjolkan capaian-capaian mereka, bahkan kerap kali bertujuan untuk memperoleh validasi sosial.

Kemudian menurut Rhenald Kasali—seorang guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia—kita memasuki era baru yang disebut esteem economy, yaitu suatu kondisi di mana individu-individu sangat mendambakan pengakuan dari orang lain sebagai bentuk pencapaian diri.

Era manusia baru, erat kaitannya dengan teknologi. Perlahan menunjukkan fenomenanya tersendiri. Tulisan ini tidak memfokuskan pembahasan tentang esteem economy, melainkan fenomena mental superior complex dan narsisme yang terjadi pada manusia baru. Istilah yang digunakan ini, yaitu manusia baru bukanlah tertuju pada satu generasi saja. Akan tetapi, individu-individu lintas generasi, jenis kelamin, gender, dan status lainnya yang kini menggunakan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

1 Mengenal Superiority Complex

Ilustrasi Mental Superior Complex (Sumber: Chat GPT)

Pembukaan tulisan ini, Bustle (2021) telah memperkenalkan sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh orang dengan superiority complex. Adapun ciri-ciri tersebut antara lain:

  • Mencari validasi eksternal secara terus-menerus. Individu semacam ini merasa bernilai hanya jika dinilai positif oleh orang lain. Dr. Sanam Hafeez, seorang neuropsikolog dari Universitas Columbia, menjelaskan bahwa mereka tidak mampu meyakinkan diri sendiri bahwa mereka pantas, sehingga pujian pun hanya memberi efek sesaat.
  • Sulit mengakui kesalahan. Mereka cenderung merasa diri selalu benar dan menolak sudut pandang orang lain.
  • Rentan terhadap perubahan suasana hati. Psikoterapis Kimberly Perlin mengatakan bahwa mereka yang memiliki superiority complex biasanya mengalami fluktuasi emosi yang tinggi.
  • Suka mengontrol. Mereka merasa harus mengendalikan keadaan dan mudah merasa kesal ketika kehilangan kendali.
  • Sering membandingkan diri dengan orang lain. Rasa percaya diri mereka sangat bergantung pada bagaimana posisi mereka dibandingkan dengan orang lain, sehingga mereka kerap menampilkan diri secara berlebihan untuk terlihat lebih unggul.

2 Mengenal Narsisme

Ilustrasi Mental Narsisme (Sumber: Chat GPT)

Istilah narsisme pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud sebagai bentuk cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Dijabarkan kembali oleh Hardjanta dan Philip bahwa mencintai diri sendiri dalam kadar wajar dapat dianggap normal, tetapi jika berlebihan dapat berkembang menjadi gangguan kepribadian.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM V) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, NDP (Narcissistic Personality Disorder) ditandai dengan rasa superioritas yang berlebihan. Gejala dari NPD meliputi:

  • Berkhayal tentang kesuksesan, kekuatan, kecantikan, atau cinta ideal.
  • Menganggap dirinya sebagai sosok istimewa.
  • Membutuhkan pujian dan kekaguman secara terus-menerus.
  • Merasa berhak diperlakukan secara spesial.
  • Tidak memiliki empati terhadap orang lain.
  • Memanfaatkan hubungan antarpribadi untuk keuntungan pribadi.
  • Cemburu pada orang lain dan percaya bahwa orang lain juga iri padanya.
  • Bersikap sombong dan arogan.

3 Mengidentifikasi dengan Hati-Hati

Pendapat Nitya Santi melalui penelitiannya, di media sosial saat ini. Perilaku narsistik kian semakin tampak. Di mana individu dengan kecenderungan ini, lebih aktif dalam komunitas daring dibandingkan dalam interaksi nyata. Kemudian, mereka sering membagikan konten yang menonjolkan pencapaian pribadi dalam berbagai aspek kehidupan, dengan harapan mendapatkan validasi dan pengakuan dari audiens yang lebih luas.

Walaupun demikian, pengenalan Superior Kompleks dan Narsistik perlu kehati-hatian dalam mengidentifikasi diri dan orang lain. Gejala-gejala yang dijelaskan di atas, tentunya dapat menjadi suatu pengetahuan untuk lebih bijak mengenal diri sendiri dan orang lain sebagai bentuk kesadaran navigasi ego dan emosi. Kehati-hatian dibutuhkan untuk menciptakan ruang aman dalam kondisi sosial yang penuh perasaan empati tanpa adanya manipulasi dan dominasi.

Menciptakan kebahagiaan bersama adalah tugas setiap individu sebagaimana diriwayatkan bahwa “sebaik-baiknya manusia ialah dia yang bermanfaat bagi sesamanya”. Kualitas lingkungan sosial adalah tanggung jawab bersama sebagai makhluk sosial, didalam pertemanan, komunitas, keluarga, organisasi dan bahkan pekerjaan merupakan bagian tidak terpisah dalam menciptakan ruang aman.

Sebagai rujukan, beberapa ayat kitab suci yang menentang mentalitas Superior Kompleks dan Narsistik ialah berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (Al Quran, surah Al-Hujurat 49: 11).

“Ketahuilah bahwa kelak pada akhir zaman akan datang masa yang sukar. Orang-orang akan mengasihi dirinya sendiri dan mencintai uang. Mereka akan membesarkan diri, sombong, mengumpat orang, durhaka terhadap ibu dan bapaknya, tidak tahu berterima kasih, tidak suci, tidak menaruh kasih, tidak mau berdamai, suka memfitnah orang, tidak bisa mengendalikan diri, garang, membenci kebaikan, membelot, bersikap sembrono, congkak, lebih menyukai kenikmatan duniawi daripada Allah. Mereka kelihatan seperti orang-orang yang taat beribadah, padahal sebenarnya mereka menolak kuasanya. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang demikian itu!” (Alkitab, Surat 2 Timotius 3: 1-5).

4 Menjadi Diri Sendiri

Ilustrasi Syspus-Manusia dan Batu (Sumber: Chat GPT)

Barang kali, menjadi diri sendiri yang bertanggung jawab dapat lebih mudah dipahami dari percakapan isi buku “Berani Tidak Disukai-Ichiro Kishimi & Fumitake Koga”. Di halaman 167-168, terdapat dialog antara dua (2) orang berikut ini:

Pemuda: Kecenderungan diri?

Filsuf: Ya, ini adalah hasrat naluriah seseorang, hasrat inpulsifnya. Sekarang, kalau seseorang mengatakan hidup itu seperti batu yang menggelinding turun dan membiarkan kecenderungannya sebagai “kebebasan”, dia keliru. Hidup dengan cara demikian hanyalah hidup yang diperbudak oleh Hasrat dan dorongan hatinya. Kebebasan sejati adalah sikap yang mirip dengan upaya mendorong diri sendiri naik.

Pemuda: Mendorong diri sendiri naik?

Filsuf: Batu tidak punya kekuatan. Begitu mulai menggelinding turun, batu itu akan terus bergulir sampai terbebas dari hukum gravitasi alam dan inersia. TAPI KITA BUKAN BATU. Kita bisa menghentikan diri kita yang sedang menggelinding turun dan memanjat naik. Hasrat untuk diakui mungkin adalah Hasrat alami. Jadi, apakah engkau akan terus menggelinding turun demi menerima pengakuan dari orang lain? Apakah engkau akan membuat dirimu sendiri aus seperti batu yang sedang menggelinding pergi, sampai semua permukaan menjadi mulus? Ketika yang tertinggal hanyalah satu bola bundar kecil, apakah itu akan menjadi “aku yang sejati”? Tidak mungkin.

Pemuda: Apakah maksudmu melawan naluri dan dorongan hati itu adalah kebebasan?

Filsuf: Seperti yang berulang kali kunyatakan, dalam teori psikologi Adler, kita berpikir bahwa semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Dengan kata lain, kita berupaya melepaskan diri dari hubungan-hubungan interpersonal tersebut. kita berupaya untuk bebas dari semua itu. Akan tetapi, benar-benar mustahil untuk hidup seorang diri di ala mini. Mengingat apa yang telah kita diskusikan hingga saat ini, kesimpulan yang kita raih tentang “apa itu kebebasan?” seharusnya sudah jelas.

Pemuda: Apa itu?

Filsuf: Singkatnya, “kebebasan berarti tidak disukai oleh orang lain”.

Dengan demikian, menjadi manusia yang manusia. Kita harus tetap belajar, agar proses memanusiakan manusia menjadi tanggung jawab bersama oleh setiap individu. Sebuah proses menjadi manusia setara yang tidak terbuai dengan teknologi, tidak kaku dalam perbedaan generasi, dan status gender yang inklusi. Sebagai penutup, rasa percaya diri adalah suatu keharusan, asalkan tidak berlebihan hingga menjadi superior kompleks dan narsistik.

Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia Yayasan Betang Borneo Indonesia
Krisan

Krisan

Si gondrong yang fakir ilmu, senang dengan #SafariAkal sebagai pelarian hidup untuk merawat akal, batin dan kehidupan. Belajar menulis sebagai penulis lepas kategori fiksi dan non-fiksi, dijadikan peninggalan yang terhormat bagi umat manusia.

Terkait Pos

Perempuan Remaja Penggerak Keadilan Iklim Dunia, Manifestasi Ekofeminisme menjadi Eko-Anarkisme
Pena Artikel

Eko-Anarkisme: Greta Thunberg. Sang Pelopor Gerakan Keadilan Iklim Dunia

Februari 11, 2026

Dunia saat ini, sedang berada dalam fase kritis yang oleh para ilmuwan disebut sebagai The Anthropocene—sebuah epos geologis di mana...

kerusakan lingkungan Indonesia
Pena Artikel

Kepunahan Alam Semesta, Menuntut Pertanggungjawaban Oligarki

Februari 10, 2026

  Selama IPTEKS tidak merdeka, seperti juga politik negaranya, maka kekayaan sumberdaya alam Indonesia tidak akan menjadikan penduduknya sejahterah, melainkan...

Ilustrasi masyarakat adat Dayak berdiri di wilayah hutan adat dengan latar aktivitas penebangan, alat berat, dan kebakaran, menggambarkan konflik lingkungan, alih fungsi lahan, serta upaya perlindungan tanah ulayat.
Pena Artikel

Lingkungan Hidup Pada Perspektif Masyarakat Adat Dayak

Februari 10, 2026

Penetapan status kawasan hutan di Kalimantan Tengah telah menempatkan Masyarakat adat dayak dalam posisi dilema dalam mengeloal wilayah hidupnya, karena...

Ilustrasi pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dengan latar hutan dan aktivitas manusia, menggambarkan konflik antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Pena Artikel

IKN dan Logika Pembangunan yang Homosentris

Februari 10, 2026

Pembangunan Ibu Kota Nusantara sejak 2022 dinilai mengedepankan kepentingan manusia dan ekonomi, dengan risiko serius terhadap lingkungan Kalimantan Timur.

Perlindungan Gambut Masih Lemah
Pena Artikel

Bakar Gambut Dalam Kebijakan Yang Abu-Abu

Februari 10, 2026

Peraturan perundang-undangan sektor lingkungan masih menimbulkan banyak diskursus. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH),...

Kedaulatan pangan Dayak Meratus
Pena Opini

Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Pegunungan Meratus

Februari 9, 2026

Pegunungan Meratus merupakan bentang alam hutan hujan tropi, membentang di Provinsi Kalimantan Selatan. Masyarakat Dayak Meratus, pada kawasan ini memiliki...

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

Desember 12, 2024

Menyimak Perdebatan Tiga Elemen dalam Pikiran: Menuju Kesadaran Nyata

Juni 2, 2025

Kita Adalah “Pembunuh” yang Lain

Maret 4, 2025

Teranyam Sendu Namamu

Juni 9, 2025

Malam yang Mengubah Sebuah Janji

0

Kematian si Bisu dan Lima Butir Peluru

0
Lumbung Pangan

Proyek Lumbung Pangan, dari Solusi jadi Ancaman

0
Beberapa mahasiswa di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggelar Aksi Kamisan untuk mengingatkan kembali kasus pelanggaran hak asasi manusia, Kamis (18/1/2024). FOTO: KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Ketika Polisi Menjadi Pelaku Kekerasan

0
Ilustrasi peluru berisi wajah korban perang anak, ibu, dan tentara di tengah kota yang hancur akibat konflik.

PELURU TAK PUNYA HATI BERBELAS KASIH

April 17, 2026
apa kabar?

apa kabar?

Maret 4, 2026
Ilustrasi Meta AI

Setiap Orang Memiliki Panggungnya Masing-masing

Februari 17, 2026
Foto : Ilustrasi ruang hidup masyarakat adat yang semakin sempit (Meta AI).

Kuasa Ruang Hidup Menyempit, Potensi Ancaman Hilangnya Identitas Budaya Dayak Yang Beradab

Februari 17, 2026

  • Sejarah
  • Dapur
  • Menjadi Suara Melalui Tulisan
  • Galeri Kami

Copyright © SwaraPena - Komunitas Menulis Borneo

No Result
View All Result
  • Kelas Menulis
  • Pena Sastra
    • Prosa
    • Puisi
    • Non Fiksi
    • Cerita Rakyat
    • Naskah Drama
  • Pena Kabar
  • Pena Artikel
  • Pena Opini

Komunitas Menulis Borneo - Swara Pena

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In