Menurut Syfa A. N dkk dalam jurnalnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi tempat yang subur bagi orang-orang dengan kecenderungan untuk menampilkan kehebatan diri. Berbagi platform memberi ruang luas bagi individu dengan gangguan superior kompleks dan narsistik untuk menonjolkan capaian-capaian mereka, bahkan kerap kali bertujuan untuk memperoleh validasi sosial.
Kemudian menurut Rhenald Kasali—seorang guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia—kita memasuki era baru yang disebut esteem economy, yaitu suatu kondisi di mana individu-individu sangat mendambakan pengakuan dari orang lain sebagai bentuk pencapaian diri.
Era manusia baru, erat kaitannya dengan teknologi. Perlahan menunjukkan fenomenanya tersendiri. Tulisan ini tidak memfokuskan pembahasan tentang esteem economy, melainkan fenomena mental superior complex dan narsisme yang terjadi pada manusia baru. Istilah yang digunakan ini, yaitu manusia baru bukanlah tertuju pada satu generasi saja. Akan tetapi, individu-individu lintas generasi, jenis kelamin, gender, dan status lainnya yang kini menggunakan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
1 Mengenal Superiority Complex

Pembukaan tulisan ini, Bustle (2021) telah memperkenalkan sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh orang dengan superiority complex. Adapun ciri-ciri tersebut antara lain:
- Mencari validasi eksternal secara terus-menerus. Individu semacam ini merasa bernilai hanya jika dinilai positif oleh orang lain. Dr. Sanam Hafeez, seorang neuropsikolog dari Universitas Columbia, menjelaskan bahwa mereka tidak mampu meyakinkan diri sendiri bahwa mereka pantas, sehingga pujian pun hanya memberi efek sesaat.
- Sulit mengakui kesalahan. Mereka cenderung merasa diri selalu benar dan menolak sudut pandang orang lain.
- Rentan terhadap perubahan suasana hati. Psikoterapis Kimberly Perlin mengatakan bahwa mereka yang memiliki superiority complex biasanya mengalami fluktuasi emosi yang tinggi.
- Suka mengontrol. Mereka merasa harus mengendalikan keadaan dan mudah merasa kesal ketika kehilangan kendali.
- Sering membandingkan diri dengan orang lain. Rasa percaya diri mereka sangat bergantung pada bagaimana posisi mereka dibandingkan dengan orang lain, sehingga mereka kerap menampilkan diri secara berlebihan untuk terlihat lebih unggul.
2 Mengenal Narsisme

Istilah narsisme pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud sebagai bentuk cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Dijabarkan kembali oleh Hardjanta dan Philip bahwa mencintai diri sendiri dalam kadar wajar dapat dianggap normal, tetapi jika berlebihan dapat berkembang menjadi gangguan kepribadian.
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM V) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, NDP (Narcissistic Personality Disorder) ditandai dengan rasa superioritas yang berlebihan. Gejala dari NPD meliputi:
- Berkhayal tentang kesuksesan, kekuatan, kecantikan, atau cinta ideal.
- Menganggap dirinya sebagai sosok istimewa.
- Membutuhkan pujian dan kekaguman secara terus-menerus.
- Merasa berhak diperlakukan secara spesial.
- Tidak memiliki empati terhadap orang lain.
- Memanfaatkan hubungan antarpribadi untuk keuntungan pribadi.
- Cemburu pada orang lain dan percaya bahwa orang lain juga iri padanya.
- Bersikap sombong dan arogan.
3 Mengidentifikasi dengan Hati-Hati
Pendapat Nitya Santi melalui penelitiannya, di media sosial saat ini. Perilaku narsistik kian semakin tampak. Di mana individu dengan kecenderungan ini, lebih aktif dalam komunitas daring dibandingkan dalam interaksi nyata. Kemudian, mereka sering membagikan konten yang menonjolkan pencapaian pribadi dalam berbagai aspek kehidupan, dengan harapan mendapatkan validasi dan pengakuan dari audiens yang lebih luas.
Walaupun demikian, pengenalan Superior Kompleks dan Narsistik perlu kehati-hatian dalam mengidentifikasi diri dan orang lain. Gejala-gejala yang dijelaskan di atas, tentunya dapat menjadi suatu pengetahuan untuk lebih bijak mengenal diri sendiri dan orang lain sebagai bentuk kesadaran navigasi ego dan emosi. Kehati-hatian dibutuhkan untuk menciptakan ruang aman dalam kondisi sosial yang penuh perasaan empati tanpa adanya manipulasi dan dominasi.
Menciptakan kebahagiaan bersama adalah tugas setiap individu sebagaimana diriwayatkan bahwa “sebaik-baiknya manusia ialah dia yang bermanfaat bagi sesamanya”. Kualitas lingkungan sosial adalah tanggung jawab bersama sebagai makhluk sosial, didalam pertemanan, komunitas, keluarga, organisasi dan bahkan pekerjaan merupakan bagian tidak terpisah dalam menciptakan ruang aman.
Sebagai rujukan, beberapa ayat kitab suci yang menentang mentalitas Superior Kompleks dan Narsistik ialah berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (Al Quran, surah Al-Hujurat 49: 11).
“Ketahuilah bahwa kelak pada akhir zaman akan datang masa yang sukar. Orang-orang akan mengasihi dirinya sendiri dan mencintai uang. Mereka akan membesarkan diri, sombong, mengumpat orang, durhaka terhadap ibu dan bapaknya, tidak tahu berterima kasih, tidak suci, tidak menaruh kasih, tidak mau berdamai, suka memfitnah orang, tidak bisa mengendalikan diri, garang, membenci kebaikan, membelot, bersikap sembrono, congkak, lebih menyukai kenikmatan duniawi daripada Allah. Mereka kelihatan seperti orang-orang yang taat beribadah, padahal sebenarnya mereka menolak kuasanya. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang demikian itu!” (Alkitab, Surat 2 Timotius 3: 1-5).
4 Menjadi Diri Sendiri

Barang kali, menjadi diri sendiri yang bertanggung jawab dapat lebih mudah dipahami dari percakapan isi buku “Berani Tidak Disukai-Ichiro Kishimi & Fumitake Koga”. Di halaman 167-168, terdapat dialog antara dua (2) orang berikut ini:
Pemuda: Kecenderungan diri?
Filsuf: Ya, ini adalah hasrat naluriah seseorang, hasrat inpulsifnya. Sekarang, kalau seseorang mengatakan hidup itu seperti batu yang menggelinding turun dan membiarkan kecenderungannya sebagai “kebebasan”, dia keliru. Hidup dengan cara demikian hanyalah hidup yang diperbudak oleh Hasrat dan dorongan hatinya. Kebebasan sejati adalah sikap yang mirip dengan upaya mendorong diri sendiri naik.
Pemuda: Mendorong diri sendiri naik?
Filsuf: Batu tidak punya kekuatan. Begitu mulai menggelinding turun, batu itu akan terus bergulir sampai terbebas dari hukum gravitasi alam dan inersia. TAPI KITA BUKAN BATU. Kita bisa menghentikan diri kita yang sedang menggelinding turun dan memanjat naik. Hasrat untuk diakui mungkin adalah Hasrat alami. Jadi, apakah engkau akan terus menggelinding turun demi menerima pengakuan dari orang lain? Apakah engkau akan membuat dirimu sendiri aus seperti batu yang sedang menggelinding pergi, sampai semua permukaan menjadi mulus? Ketika yang tertinggal hanyalah satu bola bundar kecil, apakah itu akan menjadi “aku yang sejati”? Tidak mungkin.
Pemuda: Apakah maksudmu melawan naluri dan dorongan hati itu adalah kebebasan?
Filsuf: Seperti yang berulang kali kunyatakan, dalam teori psikologi Adler, kita berpikir bahwa semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Dengan kata lain, kita berupaya melepaskan diri dari hubungan-hubungan interpersonal tersebut. kita berupaya untuk bebas dari semua itu. Akan tetapi, benar-benar mustahil untuk hidup seorang diri di ala mini. Mengingat apa yang telah kita diskusikan hingga saat ini, kesimpulan yang kita raih tentang “apa itu kebebasan?” seharusnya sudah jelas.
Pemuda: Apa itu?
Filsuf: Singkatnya, “kebebasan berarti tidak disukai oleh orang lain”.
Dengan demikian, menjadi manusia yang manusia. Kita harus tetap belajar, agar proses memanusiakan manusia menjadi tanggung jawab bersama oleh setiap individu. Sebuah proses menjadi manusia setara yang tidak terbuai dengan teknologi, tidak kaku dalam perbedaan generasi, dan status gender yang inklusi. Sebagai penutup, rasa percaya diri adalah suatu keharusan, asalkan tidak berlebihan hingga menjadi superior kompleks dan narsistik.













































