Kawan-kawan sekalian,
Di awal perjalanan kita, sebelum Swarapena menjadi sebuah domain yang lebih formal, kita sering bertemu, berbincang, kadang sambil ngopi atau sekadar menikmati waktu bersama. Dalam pertemuan itu, saya merasakan adanya kegelisahan di dalam hati kawan-kawan kita — mungkin banyak dari kita terlibat dalam organisasi, baik itu organisasi profesi maupun organisasi pemuda dan mahasiswa. Namun, seringkali kita menemui sekat-sekat yang membatasi. Organisasi satu dengan yang lainnya kerap kali memiliki eksklusifitas sendiri, dan tidak jarang terjadi pemisahan antara yang berorganisasi dan yang tidak.
Kawan-kawan jurnalis pun, dalam menjalankan tugasnya, tidak selalu bisa memakai perspektif aktivis. Ada banyak persoalan yang harus kita hadapi di tengah perkembangan media saat ini. Kegelisahan ini bukanlah hal yang sepele; dia nyata dan terasa di antara kita. Obrolan yang kita lakukan di sela-sela waktu tidak menguap begitu saja — kini semua itu mulai membuahkan hasil yang konkret dengan adanya wadah ini.
Swarapena bukan sekadar organisasi baru yang menampung cita-cita bersama. Lebih dari itu, saya ingin melihatnya sebagai oase di mana berbagai suara dan aliran dapat bersatu, bersaing, dan menciptakan sebuah simfoni. Dalam simfoni ini, setiap suara, setiap nada yang berbeda, ketika bersatu akan melahirkan sebuah lagu yang indah. Bayangan saya tentang Swarapena adalah tempat di mana kita bisa saling bertemu, berbagi ide, dan menguji nilai-nilai yang kita pegang.
Di sini, kita bukan sekadar sekelompok tentara yang harus mengikuti perintah, melainkan manusia-manusia merdeka yang membangun rumah singgah untuk bersama. Ruang ini dapat menjadi wahana untuk berpikir konstruktif dan dekonstruktif. Kita perlu menguji kebenaran, bahkan yang kita anggap benar hari ini. Ujian inilah yang akan menjadikan kebenaran sebagai kebenaran yang hakiki. Dengan membongkar kebenaran-kebenaran palsu, kita akan menemukan banyak hal baru.
Kita seharusnya tidak hanya memandang organisasi sebagai lembaga formal, tetapi sebagai rumah bagi ide-ide yang beragam. Di rumah singgah ini, kita bebas berekspresi, baik dalam bentuk seni, teori, maupun tulisan. Kita bukan hanya sekumpulan orang yang bertemu di dunia maya, tetapi lebih dari itu — kita adalah individu yang menjalin relasi dengan rasa tanggung jawab.
Ruang imajinasi adalah bagian penting dari kehidupan kita. Ketika kita membatasi ruang itu, kita akan kehilangan sisi kemanusiaan kita. Dinamika yang terjadi di antara kita, termasuk perbedaan pendapat, justru akan membangkitkan kreativitas. Kita harus membuka ruang untuk diri kita dan rekan-rekan, menemukan kemanusiaan di tengah perbedaan.
Setiap pertemuan, setiap obrolan, adalah langkah untuk membangun solidaritas. Di sini, kita membangun relasi sebagai sahabat, dan dari situlah solidaritas akan muncul secara alami. Mari kita terus berkumpul, berbagi ide dan perasaan, dan melakukan pertemuan-pertemuan yang berarti.
Terima kasih.













































