Jika benar lelaki hanya jatuh cinta sekali,
Dan aku datang setelah hatimu terlanjur pergi,
Maka biarlah aku mencintaimu dalam sunyi,
Lalu biarkan cinta lamamu menjadi puisi.
Aku tahu, di balik tatapmu yang teduh,
Ada nama lain yang terbisikkan di antara sepi dan lelahmu.
Aku mengerti, di sela genggaman jemarimu,
Ada bayang tangan lain yang tak pernah benar-benar berlalu.
Tak apa…
Aku tak akan memaksamu melupakan,
Karena melupa bukanlah perkara paksaan.
Biarkan ia tinggal di sudut hatimu,
Sebagai lukisan lama yang tak perlu kusentuh.
Aku tak ingin menjadi penghapus ingatan,
Hanya ingin menjadi rumahmu di masa depan.
Tempat dirimu pulang meski hari hujan,
Tempat dirimu tenang dalam segala keraguan.
Jaga aku dengan baik, itu saja pintaku…
Meski kutahu ada ruang yang tak pernah bisa kutuju.
Biarlah aku mencintaimu dengan cara yang sunyi,
Biarlah ia menjadi kenangan yang dirimu simpan sendiri.
Cintailah aku dengan cara yang bisa dirimu beri,
Meski mungkin tak seutuh mimpi di masa lalu itu.
Aku akan tetap di sini,
Menjadi nyata dari apa yang dirimu sebut rindu.
Aku tak meminta lebih,
Hanya ingin menjadi titik di akhir kisahmu,
Meski tak seindah kalimat pertama yang dirimu tulis dahulu.































