Mahasiswa dan Buku
Oleh: Moza Claudia (Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palangka Raya)
Mahasiswa itu kaum intelektual! sudah berbeda dengan anak SMA sederajat. Tak mengenakan baju seragam sesuai hari lagi, aturan sekolah yang ketat, maupun jam belajar yang harus dimulai setiap pagi. Kebebasan yang dimiliki, menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri dalam mengatur waktu, menentukan prioritas, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Menjadi mahasiswa berarti menjadi pribadi yang haus akan ilmu, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta mampu berpikir kritis dalam melihat realitas sosial. Mahasiswa bukan hanya penghuni ruang kelas, melainkan juga penggerak perubahan yang diharapkan mampu menjadi suara bagi masyarakat, menyampaikan kebenaran, dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, mahasiswa bukan sekadar status, melainkan sebuah amanah. Amanah untuk terus belajar, menjaga integritas, berani menyuarakan kebenaran, dan menjadi generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa. Sebab, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga oleh kualitas intelektual, karakter, dan kepedulian para mahasiswanya.
Selain mempelajari ilmu sesuai bidangnya, mahasiswa juga perlu memperluas wawasan dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu lainnya, meskipun secara dasar. Mahasiswa harus mampu mencari literasi dan menganalisis informasi yang diperoleh, baik dari buku, jurnal, artikel, maupun berita yang kredibel. Dibandingkan dengan jenjang pendidikan sebelumnya, mahasiswa dituntut memiliki pola pikir yang lebih matang sehingga mampu membedakan serta memilah informasi yang penting dan tidak penting, sekaligus menentukan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan fakta dan pengetahuan.
Mahasiswa ideal itu bukan cuma soal IPK tinggi atau selalu juara di kelas, tapi juga tentang bagaimana ia memiliki karakter yang baik, peduli dengan lingkungan sekitar, dan bertanggung jawab atas setiap tugas serta perannya di kampus maupun di masyarakat. Sebelum bisa membantu orang lain atau membawa perubahan, mahasiswa harus bisa mengatur dirinya sendiri dulu, mulai dari mengatur waktu, menepati komitmen, sampai terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri.
Namun, realita di lapangan sering kali belum sesuai dengan gambaran mahasiswa ideal tersebut. Masih banyak mahasiswa yang suka menunda tugas sampai mepet deadline, kurang disiplin mengatur waktu, lebih sibuk scroll media sosial daripada membaca buku atau jurnal, bahkan ada yang kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat di kelas. Organisasi kadang dijadikan alasan melupakan kuliah, sementara kuliah juga sering dijadikan alasan untuk tidak aktif di organisasi. Motivasi belajar yang naik turun dan kemampuan berpikir kritis yang belum terasah juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Selain itu, masih banyak mahasiswa yang memiliki ide dan gagasan yang baik, tetapi memilih diam karena takut salah atau takut dikritik. Padahal, perubahan tidak akan lahir dari sikap pasif. Mahasiswa sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menjadi agen perubahan dengan berani menyampaikan pendapat, menghasilkan karya, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di masyarakat. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa Indonesia memiliki kondisi yang sama. Banyak mahasiswa Indonesia yang memiliki budaya literasi yang baik, aktif dalam penelitian, berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, serta mampu bersaing di berbagai bidang. Oleh karena itu, peningkatan minat baca, penguatan budaya literasi, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi menjadi langkah penting dalam menciptakan generasi mahasiswa yang lebih berkualitas, kritis, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Kalau melihat data literasi di Indonesia, masih ada banyak hal yang perlu menjadi perhatian. Berdasarkan hasil PISA 2022, skor literasi membaca Indonesia berada di angka 359 poin, turun dari 371 poin pada tahun 2018 dan masih berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin. Data ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami informasi masih perlu terus ditingkatkan.
Dari sisi akses informasi, sebenarnya mahasiswa Indonesia sudah sangat mudah mendapatkan sumber belajar. Penelitian menunjukkan bahwa 81% mahasiswa menggunakan smartphone sebagai media utama membaca dan 69% membaca setidaknya tiga kali dalam seminggu, meskipun durasi membacanya rata-rata hanya sekitar 15–30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap bahan bacaan bukan lagi menjadi hambatan utama.
Di sisi lain, penelitian juga menunjukkan bahwa 75% mahasiswa sering membuka media sosial dan 25% lainnya sangat sering menggunakannya, dengan sebagian besar lebih memilih konten hiburan dibandingkan konten edukasi. Akibatnya, waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu pengetahuan justru lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang kurang mendukung perkembangan akademik.
Sementara itu, mahasiswa di banyak negara maju juga aktif menggunakan media sosial dan teknologi digital. Namun, pemanfaatannya lebih banyak diarahkan untuk mencari referensi akademik, membaca jurnal ilmiah, berdiskusi, serta membangun jejaring keilmuan. Penelitian pada mahasiswa di India juga menunjukkan bahwa perpustakaan, buku cetak, dan sumber digital masih menjadi bagian penting dalam proses belajar mereka.
Menariknya, penelitian terhadap 306 mahasiswa Indonesia menunjukkan tingkat literasi digital mencapai 81,71%. Artinya, mahasiswa Indonesia sudah cukup mampu memanfaatkan teknologi, tetapi kemampuan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan budaya membaca dan literasi yang kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya soal akses informasi, melainkan bagaimana membangun kebiasaan membaca dan menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup mahasiswa.
Perbedaan mahasiswa yang gemar membaca buku dengan yang jarang membaca biasanya terlihat dari cara mereka berpikir, berbicara, dan menyelesaikan suatu masalah. Mahasiswa yang terbiasa membaca memiliki wawasan yang lebih luas, lebih mudah memahami materi perkuliahan, mampu menghubungkan berbagai konsep, serta lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat karena memiliki dasar pengetahuan yang kuat. Mereka juga cenderung lebih kritis, kreatif, dan mampu menghasilkan ide atau gagasan yang inovatif.
Sebaliknya, mahasiswa yang kurang memiliki kebiasaan membaca sering kali hanya mengandalkan informasi singkat dari media sosial atau penjelasan di kelas. Akibatnya, pemahaman terhadap suatu materi menjadi kurang mendalam, kemampuan berpikir kritis tidak berkembang secara maksimal, dan mereka lebih mudah menerima informasi tanpa melakukan analisis atau mencari sumber pembanding.
Membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan menganalisis, memperkaya kosakata, meningkatkan daya ingat, serta membentuk pola pikir yang lebih sistematis. Oleh karena itu, kebiasaan membaca menjadi salah satu ciri penting mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mampu berpikir luas, menyampaikan gagasan dengan baik, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Buku adalah jendela dunia.” Pepatah ini pasti sudah sering kita dengar sejak kecil. Maknanya sederhana, yaitu membaca buku menjadi salah satu kunci untuk membuka wawasan dan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa buku bukan hanya kumpulan kertas berisi tulisan, melainkan simbol dari pengalaman, ilmu pengetahuan, sejarah, bahkan pemikiran orang-orang hebat yang bisa kita pelajari tanpa harus bertemu langsung dengan mereka.
Lalu muncul pertanyaan, kenapa harus buku? Apakah buku masih penting di zaman ketika semua informasi bisa dicari dalam hitungan detik lewat internet? Jawabannya tentu masih sangat penting. Media sosial memang bisa memberikan informasi dengan cepat, tetapi buku memberikan pemahaman yang lebih utuh dan mendalam. Buku mengajarkan kita untuk sabar membaca, berpikir, menganalisis, dan memahami suatu persoalan dari berbagai sisi, bukan hanya melihat judul atau potongan informasi yang sedang viral.
Sayangnya, kebiasaan membaca buku di kalangan mahasiswa mulai tergeser oleh budaya scrolling media sosial. Banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam melihat konten hiburan, tetapi merasa berat jika diminta membaca beberapa halaman buku atau jurnal. Padahal, sebagai kaum intelektual, mahasiswa seharusnya menjadi kelompok yang paling dekat dengan budaya literasi. Kalau mahasiswa saja malas membaca, lalu siapa yang akan melahirkan ide, gagasan, penelitian, dan inovasi untuk masa depan?
Ironisnya, masih banyak mahasiswa yang merasa membaca hanya dilakukan ketika ada tugas atau menjelang ujian. Padahal, membaca seharusnya menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademik. Kampus juga perlu terus membangun budaya literasi melalui diskusi, bedah buku, pojok baca, hingga komunitas menulis agar mahasiswa terbiasa bertukar pikiran dan menghasilkan karya. Literasi tidak akan tumbuh hanya dengan imbauan, tetapi harus menjadi kebiasaan yang dibangun bersama.
Bukan berarti media sosial itu buruk. Justru media sosial bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Bayangkan jika waktu yang biasanya dipakai untuk scrolling tanpa tujuan diganti dengan membaca beberapa halaman buku setiap hari atau mencari referensi dari jurnal dan artikel ilmiah. Sedikit demi sedikit kebiasaan itu akan membentuk pola pikir yang lebih kritis, memperluas wawasan, dan membuat kita lebih siap menghadapi berbagai tantangan di dunia nyata.
Mungkin sekarang saatnya kita bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita benar-benar menyelesaikan satu buku sampai tuntas? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membaca dibandingkan waktu yang kita gunakan di media sosial? Tidak harus langsung membaca puluhan buku dalam sebulan, cukup mulai dari beberapa halaman setiap hari. Karena perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Jika mahasiswa ingin menjadi agen perubahan, maka budaya membaca bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Banyak orang berpikir bahwa membaca itu harus selalu buku pelajaran yang tebal atau jurnal ilmiah yang penuh istilah rumit. Padahal, membangun budaya membaca bisa dimulai dari bacaan apa saja yang kita sukai. Novel, cerpen, biografi, buku sejarah, hingga buku pengembangan diri juga merupakan sumber pengetahuan yang mampu memperluas cara pandang, melatih imajinasi, memperkaya kosakata, serta meningkatkan kemampuan memahami karakter dan kehidupan sosial. Tidak sedikit tokoh besar yang mengaku kecintaannya pada membaca berawal dari novel dan karya sastra.
Namun, sebagai mahasiswa yang menyandang predikat kaum intelektual, membaca novel saja tentu belum cukup. Novel dapat menjadi teman untuk mengisi waktu luang dan menumbuhkan kebiasaan membaca, tetapi jangan sampai membuat kita melupakan buku pelajaran, jurnal ilmiah, dan referensi akademik yang menjadi fondasi utama dalam proses belajar. Ilmu yang diperoleh dari buku akademik akan membantu mahasiswa berpikir lebih kritis, menganalisis suatu permasalahan berdasarkan fakta, serta menghasilkan ide dan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seorang mahasiswa yang baik mampu menyeimbangkan keduanya. Ketika merasa lelah dengan tugas atau materi kuliah, membaca novel bisa menjadi cara untuk menyegarkan pikiran tanpa meninggalkan kebiasaan membaca. Sebaliknya, ketika sedang memperdalam ilmu, buku pelajaran dan jurnal harus tetap menjadi prioritas utama. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga imajinasi yang kaya, empati yang tinggi, kemampuan berkomunikasi yang baik, serta pola pikir yang lebih terbuka.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah jenis buku yang dibaca, melainkan kebiasaan untuk terus membaca dan belajar. Karena setiap halaman yang kita baca akan menambah wawasan, setiap buku yang kita selesaikan akan membuka cara pandang baru, dan setiap ilmu yang kita pelajari akan menjadi bekal untuk menjadi mahasiswa yang lebih kritis, lebih bijak, dan lebih siap memberikan kontribusi bagi masyarakat. Sebab, mahasiswa yang berhenti membaca perlahan akan kehilangan daya pikirnya, sedangkan mahasiswa yang terus membaca akan selalu memiliki bekal untuk menghadapi perubahan zaman.





























