Saat scroll tiktok, salah satu akun membagikan video perlombaan lari marathon di salah satu negara Asia. Terlihat mencolok, seorang pria dewasa mengenakan outfit kaos singlet berwarna pink, kacamata hitam, berdiri gagah di barisan paling depan, penampilan yang nampak meyakinkan!
Doorrr! Letusan pistol berbunyi, pertanda mulainya perlombaan. Dengan kepercayaan diri berlebih, pria tersebut curi start dengan berlari sangat cepat dibandingkan peserta yang lain sembari tunjuk jari ke arah penonton. Sontak, penonton kagum sambil riuh bertepuk tangan. Tak lama, penonton menghentikan tepuk tangan, berubah jadi tawaan cekikikan, rasa kagum seketika hilang menjelma lawakan. Pria yang tadinya nampak meyakinkan, tak jauh, hanya sekitar 400 meter dari garis start muntah-muntah karena kelelahan. Wkwkwkwk… Aku pun tidak bisa tidak tertawa saat itu!
Lari itu olahraga fisik yang sangat melelahkan, butuh latihan konsisten, tubuh harus perlahan menyesuaikan, tidak bisa ngegassss langsung dari awal, jika demikian bisa dipastikan tubuh akan mudah lelah dan tak bisa bertahan, boro-boro mencapai garis finish, melihatnya saja tidak mungkin, pikirku yang bukan pelari ini, tetapi pernah berlari, wkwkwkw!
Begini. Aku yang awam tentang dunia lari ini mencoba memahaminya. Seorang pelari, tetapi bukan pelari kalcer yahhh, pasti akan menghargai proses. Ia akan berlatih tahap demi tahap, mulai dengan pelan dan jaraknya tidak terlalu jauh, continue terus sambil menambah kecepatan dan jarak tempuh. Nah, begitu semua memungkinkan, tubuh semakin kuat dan napas stabil ia akan berusaha untuk mempuh jarak yang panjang, target yang dinginkannya. Kisanak! Mustahil, seorang pelari pemula akan langsung menempuh jarak panjang dengan menggunakan kecepatan tinggi, tubuhnya tidak akan mampu. Maka, pelari tidak bisa mencurangi keadaan tubuhnya sendiri, meskipun dipaksakan.
Berbeda halnya dengan pelari, kebanyakan dari kita menghasrati capaian finish kesuksesan dengan cepat-singkat-kilat dan ahhh apalagi istilahnya itu, lebih-lebih lagi bumbu-bumbu qoute sebagian motivator bahwa untuk mencapai kesuksesan anda harus berlari, “kalo bisa cepat, mengapa harus lambat.” Akkhh… siapa sichh di dunia ini yang tidak ingin cepat sukses? Termasuk gue, wkwkwk!
Padahal guys, manusia tidak akan pernah sampai pada titik kesuksesan tatkala ia menafikkan sebuah proses. Jika anda berpikir bisa mencapai kesuksesan tanpa melewati proses, maka selamat aku ucapkan, anda berhasil membohongi diri sendiri, kawan!
Proses berjalan bersama waktu (yang tidak sebentar). Kita tidak bisa melompati waktu untuk sampai. Sukses sejatinya tidak dapat diraih dengan waktu yang singkat. Tidak ada jalan pintas dalam kesuksesan, karena jalan pintas akan banyak melanggar aturan dan norma, merusak tatanan, bahkan banyak jalan buntu dipersimpangan. Harapan yang tadinya ingin cepat sampai, faktanya menyebabkan kita putar balik haluan ke awal, bukannnya memangkas waktu, malah sebaliknya, mubazir waktu.
Nasib tragis bukan hanya melanda ia yang menggunakan cara singkat, juga berdampak pada keadaan kupu-kupu. Alkisah. Seorang perempuan berusia tidak jauh dari usiaku melihat kupu-kupu kepayahan untuk keluar dari rumah kepompong. “Terlalu lambat” gumamnya. Ia pun mulai meniup dengan lembut, perlahan. Akhirnya panas nafas mempercepat jalan pembebasan itu. Namun sayang, yang keluar bukan kupu-kupu cantik, melainkan suatu makhluk dengan sayap cacat. Dalam pertumbuhan ujar sang Guru, “mempercepat jalannya, berarti melakukan perusakan.” So, nikmatin aja alurnya guys, ntar juga terbiasa.
Orang Jawa mengatakan “alon-alon waton (asal) kelakon.” Semoga ini jadi obat penawar bagi anda yang sedang kerasukan hasrat sukses dengan cara singkat. Filosofi di atas mengutamakan kehati-hatian, ketenangan, serta proses terarah dalam mencapai tujuan. Langkah tak boleh tergesa-gesa, harus melalui pertimbangan matang agar hasil optimal dan berkelanjutan.
Tergesa-gesa hanya digunakan dalam situasi tertentu. Jangan jadikan untuk pedoman hidup dalam berproses menuju kesuksesan, saat anda tergesa-gesa, anda akan lebih dekat dengan kekeliruan, menguras energi, persentase gagalnya sangatlah tinggi. Santai saja kawan dalam proses, rasakan getirnya perjuangan, pahitnya pengorbanan, sembari peras keringat, karena saat anda belum berkeringat dan meneteskan air mata, usaha anda belum benar-benar maksimal.
Biarkan sedikit-sedikit itu menjadi bukit, perlahan terus konsisten, ia yang mampu bertahan sampai garis finish itu lebih bernilai, dibandingkan mereka yang menggebu-gebu dan cepat dari awal namun berhenti di persimpangan jalan, ini bukan tentang siapa yang cepat mendapatkan, tetapi tentang siapa yang terus bertahan.




























