Penulis dan Peneliti : Selvi Anggreani
Di era digital, media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang bagi individu untuk membangun, mengelola, dan menampilkan identitas diri. Salah satu platform yang paling banyak digunakan oleh generasi muda adalah Instagram. Menariknya, banyak mahasiswa kini tidak hanya memiliki satu akun Instagram, tetapi juga membuat akun kedua (second account) yang digunakan untuk tujuan berbeda dari akun utama. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial memiliki kebutuhan untuk memisahkan ruang publik dan ruang privat dalam kehidupan digital mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Selvi Anggreani, seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2024 dari UMPR. Mengangkat fenomena Generasi Z (Gen-Z) melalui pendekatan fenomenologi dengan tujuan memahami motif mahasiswa menggunakan akun Instagram kedua sebagai media ekspresi diri. Dengan mewawancarai lima orang mahasiswa sebagai informan, penelitian ini berusaha menggambarkan pengalaman subjektif mereka dalam memanfaatkan akun kedua sebagai bagian dari kehidupan sosial dan digital.
Akun Kedua sebagai Ruang Aman untuk Berekspresi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan utama mahasiswa menggunakan akun Instagram kedua adalah untuk memperoleh ruang yang lebih bebas dari penilaian sosial. Berbeda dengan akun utama yang umumnya diikuti oleh keluarga, dosen, rekan organisasi, hingga kolega, akun kedua biasanya hanya dapat diakses oleh teman-teman dekat yang dianggap dapat dipercaya.
Kondisi tersebut menciptakan rasa aman sehingga pengguna lebih leluasa mengungkapkan isi pikiran, perasaan, maupun aktivitas sehari-hari tanpa rasa khawatir terhadap komentar atau penilaian negatif. Bagi sebagian besar informan, akun kedua menjadi semacam ruang privat di tengah lingkungan digital yang semakin terbuka. Mereka dapat menampilkan sisi diri yang lebih santai, spontan, bahkan emosional, tanpa harus mempertimbangkan citra yang ingin dibangun di hadapan publik.
Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu dipandang sebagai ruang publik. Sebaliknya, pengguna mampu menciptakan ruang-ruang sosial yang lebih intim melalui pengaturan pengikut dan batasan akses terhadap konten yang mereka bagikan.
Perubahan Fungsi Akun Kedua
Penelitian ini juga menemukan bahwa fungsi akun kedua tidak bersifat tetap. Pada awalnya, akun kedua dapat dibuat untuk tujuan tertentu, tetapi seiring waktu mengalami perubahan sesuai kebutuhan penggunanya.
Salah satu informan, misalnya, mengaku awalnya membuat akun kedua hanya untuk mengunggah foto bersama pasangan. Namun dalam perkembangannya, akun tersebut justru berubah menjadi tempat berbagi berbagai konten acak, meme, cerita keseharian, maupun ekspresi pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa makna akun kedua bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti perubahan pengalaman sosial maupun psikologis penggunanya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar teknologi komunikasi, tetapi juga ruang yang terus dibentuk oleh pengalaman hidup setiap individu.
Akun Kedua Tidak Selalu Menjadi Identitas yang Paling Asli
Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah adanya pandangan yang berbeda mengenai identitas diri. Selama ini berkembang anggapan bahwa akun kedua merupakan tempat seseorang menampilkan jati diri yang sesungguhnya karena lebih bersifat privat. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu benar.
Dua orang informan justru merasa bahwa identitas mereka yang paling autentik terdapat pada akun utama. Menurut mereka, akun utama lebih mencerminkan siapa diri mereka sebenarnya karena digunakan untuk membangun citra yang sesuai dengan nilai dan karakter pribadi. Dengan demikian, akun kedua bukan selalu menjadi representasi diri yang paling asli, melainkan hanya salah satu ruang ekspresi yang digunakan sesuai kebutuhan.
Temuan ini memberikan perspektif baru terhadap teori dramaturgi Erving Goffman mengenai konsep front stage dan back stage. Dalam konteks media sosial, pembagian antara panggung depan dan panggung belakang ternyata tidak selalu identik dengan akun utama dan akun kedua. Identitas digital bersifat lebih kompleks, fleksibel, dan dipengaruhi oleh berbagai situasi sosial.
Akun Kedua sebagai Media Katarsis
Selain menjadi ruang ekspresi, akun kedua juga memiliki fungsi psikologis sebagai media katarsis. Beberapa informan mengaku merasakan kelegaan emosional setelah mengunggah cerita atau pengalaman di akun kedua.
Tekanan untuk mempertahankan citra positif pada akun utama membuat mereka lebih berhati-hati dalam memilih konten yang akan dipublikasikan. Sebaliknya, akun kedua memberikan kebebasan untuk mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut terhadap konsekuensi sosial yang mungkin muncul. Dalam kondisi ini, akun kedua berfungsi sebagai tempat pelepasan emosi sekaligus sarana menjaga kesehatan psikologis di tengah tingginya tekanan interaksi digital.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional penggunanya.
Analisis Berdasarkan Teori Komunikasi
Penelitian ini menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman sebagai landasan utama dalam memahami perilaku pengguna media sosial. Menurut Goffman, individu selalu mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain melalui konsep front stage dan back stage.
Adapun hasil analisis memperlihatkan bahwa praktik tersebut mengalami perubahan dalam konteks media sosial modern. Akun utama dan akun kedua tidak selalu mencerminkan pembagian panggung depan dan belakang secara mutlak.
Selain itu, penelitian juga menggunakan Analisis Tematik Braun dan Clarke untuk mengidentifikasi pola-pola pengalaman para informan, serta memanfaatkan konsep Johari Window untuk menjelaskan proses pengungkapan diri (self-disclosure).
Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa identitas digital mahasiswa bersifat dinamis, kontekstual, dan terus berubah sesuai lingkungan sosial yang dihadapi.

Adapun yang menjadi kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Selvi Anggreani, melihat Gen-Z yang memiliki akun kedua (second account) sebagai bentuk fenomena :
Penggunaan akun Instagram kedua merupakan strategi komunikasi yang dilakukan mahasiswa untuk mengelola identitas digital sekaligus memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka. Akun kedua memberikan ruang yang lebih aman untuk berekspresi, mengurangi tekanan akibat penilaian sosial, serta menjadi media pelepasan emosi.
Namun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa akun kedua tidak selalu menjadi tempat seseorang menampilkan identitas yang paling autentik. Bagi sebagian pengguna, justru akun utama lebih mampu merepresentasikan jati diri mereka. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa identitas digital tidak bersifat tunggal, melainkan dibentuk melalui berbagai ruang komunikasi yang berbeda sesuai dengan tujuan, relasi sosial, dan kebutuhan setiap individu.
Dengan demikian, fenomena akun Instagram kedua mencerminkan bagaimana generasi muda beradaptasi terhadap kompleksitas kehidupan digital. Mereka tidak hanya menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, tetapi juga untuk mengelola citra diri, membangun hubungan interpersonal, menjaga privasi, dan memenuhi kebutuhan emosional dalam kehidupan sehari-hari.




























