Melangkah dengan perasaan sakit hati, marah atau dendam tidak akan pernah mudah. Hal itu akan membuat kita selalu berpikir cara untuk menyakiti orang lain. Sama juga halnya dengan menapaki hidup dengan perasaan bersalah. Perjalanan kita akan selalu dipenuhi beban.
Kehidupan ini tidak memberi kita tombol “kembali” untuk mengulang suatu peristiwa. Menyesali yang sudah terjadi pun tidaklah menjadi sebuah solusi yang utuh. Terlebih dengan menyalahkan orang lain, itu hanya membuat kita tenggelam dalam dendam.
Pada suatu hari saya pernah melakukan kesalahan yang cukup besar. Hari-hari saya tidak mudah, pekerjaan terbengkalai, bahkan makan pun saya kehilangan selera. Namun, setelah berdiskusi dengan orang-orang yang sudah melewati banyak kepahitan, saya akhirnya memutuskan untuk meminta maaf.
Sesulit-sulitnya meminta maaf, mungkin lebih mudah ketimbang orang yang telah tersakiti hatinya untuk memaafkan. Namun tetap harus dilakukan karena kita tidak ingin hidup dalam penyesalan, dan, kita pun tak ingin orang yang telah kita sakiti diselimuti dendam.
Setelah mengumpulkan keberanian dan mempersiapkan diri untuk menghadapi semua yang mungkin terjadi, akhirnya permintaan maaf dari mulut saya terucap. Entahlah, setelah itu langkah terasa sangat ringan. Semuanya menjadi lebih mudah.
Namun suatu kali giliran saya yang kemudian disakiti. Tidak dianggap dan tidak dihormati. Ditinggalkan begitu saja. Rasanya sangat perih. Saya tidak tahu cara melukiskannya dalam bahasa tulisan. Beberapa waktu hati saya berkecamuk, saya dipenuhi marah, dendam dan kepahitan.
Sampai tiba waktunya saya ingat seorang sahabat pernah mengirimkan kutipan. Adapun kalimatnya kurang lebih berbunyi, “kau harus memutuskan bahwa permintaan maaf tidaklah diperlukan. Mungkin kau tidak akan pernah mendapatkannya, dan jika kau terus menunggu untuk sesuatu yang tidak pernah datang, kau tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup”.
Setelah melalui perenungan, saya memahami jika masih terus membawa luka itu, hidup pasti akan terasa berat. Tapi jika mau membuka hati sedikit saja untuk menerima perlakuan orang yang menyakiti, mengikhlaskan segala luka yang sudah dia beri, maka di situlah saya bisa memaafkan.
Memaafkan itu sesungguhnya bukan untuk orang yang melukai kita, tapi semata hadiah untuk diri kita sendiri. Agar jalan hidup ke depannya menjadi lebih terang. Meskipun prosesnya membutuhkan waktu.
Ketika kita tidak bisa memaafkan, maka hanya kita sendirilah yang dirugikan. Kita hidup dengan membawa beban yang berat. Beban yang kita ciptakan dan kita pikul sendiri.































