Swarapena, Palangka Raya – Suara ketukan itu datang silih berganti. Dari jalanan menuju gedung-gedung pemerintahan, denting aspirasi rakyat tak pernah benar-benar berhenti. Di negeri demokrasi ini, pintu-pintu kekuasaan terus digedor, bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan harapan, kemarahan, dan doa.
Bagi banyak orang, gedung pelayanan rakyat seharusnya menjadi tempat di mana suara ditampung, lalu diolah menjadi kebijakan. Namun, realitas yang tampak sering berbeda. Kantor-kantor itu kini lebih sering menjadi tembok bisu yang harus digedor keras agar mau mendengar.
Ketukan yang datang tidak selalu damai. Ada luka dan darah yang tercatat dalam perjalanan. Nama Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, menjadi saksi bisu bagaimana jalanan demokrasi kadang berubah menjadi jalan sunyi menuju kematian.
Di dalam gedung, wajah para pelayan rakyat tampak beragam. Ada yang berusaha tenang mendengar suara-suara di luar, ada pula yang gusar, merasa riuh itu mengganggu kenyamanan. Tetapi pertanyaan besar menggantung di udara: sampai kapan pintu ini bisa menahan gelombang ketukan yang datang tanpa henti?
Sementara itu, di luar tembok, pemandangan kontras hadir. Kawat berduri terentang, barisan aparat berjaga rapat dengan tameng dan helm hitam mengilap. Barikade logam menutup jalan, seolah memberi pesan: suara rakyat tetap harus melewati lapisan penjagaan yang ketat sebelum sampai pada telinga penguasa.
Namun, ketukan itu tak pernah benar-benar padam. Dalam langkah kaki para demonstran, Ibu Pertiwi seakan ikut berjalan, menuntun mereka untuk terus bergerak maju. Poster, spanduk, bahkan simbol perlawanan berupa kepala babi dibawa, bukan hanya sebagai tanda protes, tetapi juga sebagai jeritan batin terhadap kerakusan yang mereka rasakan.
Di sela-sela teriakan “Hidup Rakyat” dan “Merdeka,” doa-doa juga dipanjatkan. Harapan sederhana terus disuarakan: agar pintu kekuasaan benar-benar terbuka, bukan semakin tebal dengan tembok dan barikade.
Di bawah terik matahari, bendera-bendera organisasi dan kelompok berkibar bersama Merah Putih. Meski berbeda latar, warna, dan tujuan spesifik, mereka menyatu dalam satu cita: menuntut keadilan, kesejahteraan, dan perbaikan hidup bagi semua.
Tak jauh dari kerumunan, para jurnalis sibuk dengan kamera dan catatannya. Mereka merekam, menulis, lalu mengabarkan pada dunia—agar suara dari jalanan tidak hilang, agar ketukan di pintu kekuasaan tidak tenggelam dalam diam.
Pada akhirnya, ketukan itu adalah simbol sederhana, tapi sarat makna: rakyat ingin didengar. Sebab, suara rakyat tak bisa dipagari selamanya. Ia akan selalu menemukan jalan, meski harus melalui ketukan yang berulang dan teriakan yang menggema di jalanan negeri demokrasi.































