Apakah kamu pernah merasakan Perkataanmu atau bahkan Perkataan orang lain itu bisa menjadi suatu kenyataan? Di saat kamu berkata “aku pintar” maka kamu perlahan merasakan suatu kenyataan bahwa kamu pintar, bahkan sebaliknya saat kamu berkata “aku adalah orang yang bodoh” kamu seakan-akan menjadi rendah diri dan pikiranmu sulit untuk berkompromi sehingga “bodoh” itu menjadi kenyataan.
Mungkin kamu selalu bertanya-tanya “kok bisa omongan ku tadi beneran terjadi?” Atau bisa seperti ini “ternyata bener ya kata si-A kemarin, aku ini orang yang bodoh”. Kita akan membedah ini melalui pandangan psikologis bagaimana cara kerja ucapan itu bagaikan mantra sihir yang dapat menjadi kenyataan.
Perkataan adalah media komunikasi kita sebagai manusia yang menjadi ciri dari makhluk sosial. Pada mulanya hal bertutur pun sudah diajarkan sebagai media informasi turun-temurun dari nenek moyang. Adapun kita mendengar pepatah “mulutmu adalah harimaumu” atau “lidah bagaikan pedang bermata dua”. Dua pepatah ini selalu kita dengar sebagai peringatan untuk menjaga perkataan kita. Bahkan di kitab suci pun ajaran untuk menjaga lisan sangat ditekankan kepada kita sebagai penuntut agar hidup kita tetap dalam kebaikan.
Perkataan pada dasarnya mencerminkan perilaku seseorang. Orang baik akan terus berkata baik sedangkan orang yang dipandang tidak bermoral akan terus berkata kasar. Etika menjadi kunci utama kita dalam bertutur sebagai bentuk komunikasi kita kepada sesama.
untuk memulainya saya akan mengajak anda menggunakan reflektif dari kitab Amsal yang ditulis oleh Salomo sebagai guide-book orang-orang muda dapat bersikap menjadi manusia yang benar.
“Sebagai disclaimer saya sebagai penulis tidak bermaksud untuk mencondongkan agama tertentu, kutipan yang saya ambil dari kitab amsal adalah murni sebagai bahan reflektif dalam tulisan ini”
Mari kita breakdown singkat ayat ini
Amsal 10:11 TB
“ Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.”
“Mulut orang benar adalah sumber kehidupan” mengartikan orang yang benar ucapannya akan selalu berkata dengan bijak, lembut dan tulus. Perkataannya menyampaikan pesan untuk membangun dan menyembuhkan bukan untuk menghakimi.
Sedangkan “mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman” bermakna sebaliknya. Orang fasik digambarkan sebagai orang yang munafik berkepribadian buruk, manipulatif, bebal serta kasar.Dalam kehidupan sehari-hari, kelaliman bisa terlihat dalam bentuk kata-kata yang merusak — seperti fitnah, gosip, atau ucapan manipulatif yang tampak manis tapi menyakiti.
Cognitive-Behavorial Theory
Dalam pandangan psikologis kita akan menggunakan pendekatan ini sebagai kacamata kita untuk membedah “bagaimana perkataan bisa menjadi kenyataan?”.
CBT adalah gabungan dari dua pendekatan besar dalam psikologi:
1. Cognitive (Kognitif): Fokus pada pikiran dan kepercayaan seseorang
2. Behavioral (Perilaku): Fokus pada tindakan nyata dan kebiasaan yang bisa diamati
Teori ini menjelaskan “Cara kita berpikir mempengaruhi perasaan kita, dan perasaan kita mempengaruhi cara kita bertindak” Artinya adalah cerminan pikiran yang akhirnya menjadi perilaku, bahkan Perkataan juga menjadi pengaruh balik pada pikiran kita sendiri. Di saat kamu mengucapkan satu kalimat terus menerus itu akan menjadi core belief yang dalam akhirnya perkataan itu dapat menjadi suatu kenyataan. Inilah yang disebut dalam psikologi sebagai: Self-Fulfilling Prophecy “Apa yang kamu pikirkan dan ucapkan terus-menerus, akan kamu wujudkan lewat sikapmu.”
Coba kita bayangkan kalau ada “orang fasik” berbicara kepada kita “kamu mana mungkin bisa sukses, kamu aja gak sarjana cuman ijazah SMA”. Kita pasti akan kepikiran kalimat itu terus-menerus lalu kita akan menjadi rendah diri dan akhirnya pasrah lalu mengucapkan kalimat ini “ah aku kan cuman lulusan SMA mana mungkin aku bisa sukses sekarang”. Mungkin ada banyak kalimat lain lagi yang biasa menyerang kita seperti:
“Kalo nilai raport mu kaya gini kamu mana mungkin bisa lulus!” = Lalu respon kita adalah “ternyata aku sebodoh ini” Akhirnya kita merasa gagal dalam akademik sehingga kita tidak punya harapan untuk bertumbuh dan berkembang dalam intelektual kita.
“Eh gak usah dekat-dekat kita masa nongkrong di coffee shop gayanya gembel kaya gini?!” = Respon kita “iya sih aku kayaknya gak cocok di temenin” setelah itu Kita merasa dijauhi lalu kita menutup diri dari lingkungan karena kita berpikir bahwa nongkrong di coffee shop itu harus keren dan kita sendirian dan tidak memiliki teman dalam society
“Maaf ya aku nyarinya cowok yang matang, udah punya mobil dan rumah sama yang bisa biayain aku” = respon pikiran kita “aku memang gak layak untuk dicintai seseorang, hidupku aja seperti ini” penolakan yang kita terima membuat kita putus asa dan merasa kita rendah diri karena kita selalu berkutat dalam pikiran bahwa untuk mendapatkan pasangan harus memiliki standar yang tinggi sedangkan kita belum jadi apa-apa lalu kita akhirnya menjomblo seumur hidup *maaf curhatan penulis
Mau tau gimana hal itu bisa terjadi?
Neural pathway
Setiap kata yang kita ucapkan berulang-ulang akan membentuk jalur khusus dalam otak, yang disebut neuroplasticity.
Neuroplasticity adalah kemampuan luar biasa dari otak manusia untuk berubah, beradaptasi, dan membentuk ulang jalur-jalur sarafnya sepanjang hidup. Ini berarti otak kita tidak statis, melainkan dinamis dan lentur — ia bisa “belajar” dari pengalaman, kebiasaan, ucapan, pikiran, dan bahkan dari luka atau cinta yang kita alami. Setiap kali kita mengulang satu pemikiran, berbicara dengan cara tertentu, atau melakukan satu kebiasaan, otak akan memperkuat jalur saraf tertentu dan melemahkan jalur lain.
Jadi rumus nya begini :
Kata-kata negatif → memperkuat jalur pesimis & ketakutan
Kata-kata positif & membangun → memperkuat jalur optimis, harapan, dan keberanian
Untuk memperjelas cara kerjanya, penulis akan berikan contoh simpel :
“Aku bodoh, aku gagal.”
➡ Otakmu akan membuat jalur pikiran otomatis yang pesimis
➡ kamu mulai mengkonfirmasi kalimat itu dan mempercayainya
➡ Otakmu terbiasa untuk berpikir negatif output nya kamu susah untuk melangkah maju dan bangkit dari kegagalan, kamu yang harusnya bisa berproses menjadi lebih baik akhirnya tidak ada perubahan di hidupmu dan kamu terjebak dengan keadaan mu.
Sedangkan jika sebaliknya :
“aku tidak hanya perlu belajar lebih lanjut, aku pasti bisa berhasil melakukan ini”
➡ Otakmu mulai membentuk jalur optimis
➡ Emosi jadi lebih tenang karena kalimat yang kamu ucapkan dan apa yang kamu pikirkan tentang dirimu sifatnya membangun
➡ dengan pikiran yang positif kamu akhirnya bisa percaya diri dan yakin bahwa kamu dapat merubah keadaan
Nah sekarang coba bayangin kamu bertemu orang fasik tadi dan kamu mengubah jalan pikiranmu menjadi lebih optimis :
“iya benar nilai ku tidak sebagus yang diharapkan tapi aku punya potensi di satu atau dua pelajaran, ku hanya perlu belajar lagi secara perlahan aku yakin hasil nya akan membaik”
“outfit kaosan dan celana pendek kaya gini gak terlalu buruk aku lebih santai menikmati obrolan di tongkrongan tanpa harus memikirkan pakaian”
“aku mungkin bukan pewaris harta, tapi dengan terus bekerja dan ingin berkembang dengan belajar hal baru aku yakin aku bisa sukses”
Sudah pasti kita tidak akan terjebak dalam situasi jika kita menerima pandangan positif justru kita pasti akan terus mencoba untuk bertumbuh sampai di titik aktualisasi diri kita.
terlihatkan betapa berpengaruhnya kekuatan perkataan dalam pikiran kita? Kita bisa merubah segala sesuatu dalam waktu cepat atau lambat. Menjaga perkataan kita itu seperti “berjaga dengan pisau bermata dua” dan menjinakkan ”harimau” yang kita pegang. Ini memperjelas kutipan dari Amsal di atas jika kita bisa hidup dengan perkataan yang benar maka kita tidak hanya membangun dan menjaga diri kita sendiri, tapi kita dapat menyejukkan orang lain, menyembuhkan luka batin, memberikan rasa aman untuk yang merasa terpinggirkan dan menjadi “sumber kehidupan”. Sedangkan jika diri kita menjadi “orang fasik” maka yang keluar dari mulut kita adalah kutukan, kebencian, fitnah serta kelaliman yang lain akan memberikan kehancuran bagi orang-orang di sekitar kita bahkan diri kita sendiri.
Menjaga perkataan bukan hanya tentang moral dan etika tetapi tentang konsekuensi apa yang akan kamu hadapi setelah berucap. Baik-buruknya itu kita sendiri yang menerimanya karena :
“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21)































