
Pernahkah anda membayangkan berada pada suatu aksi demontrasi yang mengguncang Indonesia dan mengubah sejarah?
Peristiwa tersebut, terjadi hari ini dan tepatnya pada 27 tahun silam. “Tragedi Berdarah” pada tanggal 12 Mei 1998 yang terjadi di Universitas Trisakti-Jakarta yang berakhir dengan penembakan dan merenggut nyawa sejumlah mahasiswa. Peran mereka yang memperjuangkan hak demokrasi, Tragedi Trisakti menjadi kenangan kelam dalam sejarah perjuangan mahasiswa di Indonesia.
Peristiwa Tragedi Trisakti, salah satunya dilandasi krisis yang membuat goyahnya situasi di Indonesia. Adapun situasi saat itu mengalami krisis ekonomi, politik, dan bahkan hukum. Akibatnya, para mahasiswa melakukan demostrasi menuntut Presiden saat itu “Soeharto” untuk mundur dari jabatannya. Namun, peristiwa ini mencapai puncaknya akibat penembakan polisi terhadap salah satu sang demonstran. Ia bernama Heri Hertanto, mahasiswa Trisakti yang memicu ketegangan dan situasi semakin memanas, kemudian disusul dengan jatuhnya korban lain.
Saat itu, para mahasiswa sudah melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Sayangnya, aksi para mahasiswa dihadang oleh pihak kepolisian kemudian disusul oleh kedatangan militer atau disebut ABRI. Setelah pukul 17.15, para mahasiswa mulai mundur, namun gerakan mundur ini diikuti dengan langkah maju aparat keamanan. Aparat pun mulai melepaskan tembakan ke arah para mahasiswa, suara tembakan dan peluru tajam itu memaksa massa aksi menjadi terpisah-pisah, di antaranya bersembunyi dan berlindung di dalam kampus Universitas Trisakti.
Situasi saat demo semakin memanas ketika aparat melakukan penembakan secara membabi-buta, menggunakan peluru karet dan peluru tajam yang diikuti dengan pemukulan fisik. Tak hanya itu saja, beberapa laporan juga menyebutkan bahwa sejumlah ABRI melakukan pelecahan seksual.
Kejadian itu, kekerasan para ABRI membuat empat(4) mahasiswa kehilangan nyawanya. Tiga dari mereka meninggal ditempat, sementara satu lainnya meninggal di rumah sakit.
Adapun para korbannya bernama Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto dan Hendriawan Sie. Selain itu juga sekelompok mahasiswa dinyatakan hilang saat demonstrasi berlangsung. Sialnya hingga ini, pihak yang bertanggung jawab atas penembakan mahasiswa tersebut belum terungkap dan diadili di meja pengadilan. Namun, nama-nama korban selalu dikenang sebagai Pahlawan Reformasi bagi bangsa dalam penegakan reformasi birokrasi di Indonesia.
Tragedi Trisakti yang telah 27 tahun itu, menumbuhkan luka mendalam. Penegakan hukum dan HAM di Indonesia atas maraknya praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) pada masa rezim orde baru adalah suara suci bagi demokrasi. Para demonstran yang menuntut Presiden Soeharto, justru berujung pada penembakan empat orang mahasiswa. Peristiwa ini melanggar konstitusi dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang merusak hubungan antara rakyat dan negara,
Meski demikian, Tragedi Trisakti memicu Gerakan Reformasi yang lebih luas diberbagai daerah di Indonesia yang pada akhirnya membawa angin perubahan secara signifikan dalam sistem politik Indonesia dan membuka jalan menuju demokrasi.
Tragedi Trisakti menjadi titik balik sejarah, mendesak kita bahwa penting langkah untuk meningkatkan lagi perlindungan dalam penegakan HAM bagi masyarakat Indonesia. Tragedi Trisakti adalah pelajaran pentingnya menjaga kebebasan berekspresi, penegakan hak asasi manusia, dan desakan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Tragedi ini juga mengingatkan kita tentang situasi krisis ekonomi yang berdampak terhadap ketidakpuasan sosial, stabilitas politik dan keamanan nasional akibat kegagalan pemerintah. Dalam hal ini, pemerintahan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Beberapa hal yang menjadi poin-poin penting dari kejadian 12 mei, Tragedi Trisakti pada tahun 1998 adalah:
- Pelanggaran HAM tragedi trisakti merupakan salah satu contoh nyata adanya kasus pelanggaran HAM, terutama hak untuk menyampaikan pendapat dan berkumpul secara damai. Aparat keamanan seharusnya melindungi hak-hak tersebut, bukanlah malah melakukan kekerasan terhadap mahasiswa yang sedang berdemonstrasi;
- Kekuatan Negara mengagendakan peran kekerasan dalam menekan aspirasi masyarakat dan kekuasaan dapat disalahgunakan untuk menekan hak asasi manusia;
- Dampaknya terhadap masyarakat menyebabkan trauma dan kekhawatiran, walaupun tragedi ini menjadi salah satu momentum penting dalam proses reformasi dan transisi menuju negara demokrasi;
- Pencarian keadilan tragedi trisakti terus menjadi fokus dalam upaya mencari keadilan dan kebenaran.
Pembelajaran sejarah ini, dari Tragedi Trisakti menjadi pelajaran penting bagi Indonesia tentang perjuangan dan pentingnya demokrasi. Sudut pandang Hak Asasi Manusia dan keberadaan negara menjadi satu kesatuan yang erat, dimana perlunya mencegah kekerasan negara terhadap masyarakat sipil.
Perjuangan Reformasi tersebut, salah satunya Tragedi Trisakti menjadi pemicu membuka jalan bagi perubahan sosial dan politik Indonesia. Dengan demikian, perlu kiranya peran serta masyarakat saat ini mendorong pemerintah untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang terjadi.
Hidup Korban, Jangan Diam, Lawan!































