Keberanian milik ku, mendarat pada rezim dan aparat
Bibir dan suaraku, gema pendapat atas nama rakyat
Teriakan lantang ku ini adalah kebenaran, menembus tameng aparat bangsat
Takut ku telah hilang sekalipun terror menerkam dan fakta dibalik media laknat
Aku bersaksi, kekasih ku yang hilang tak perlu dipikirkan
Namun tak dapat ku tampikkan, aku membutuhkan kekasih pemikiran yang sejalan
Dia, seseorang yang dikenal tak takut melawan para bajingan
Ah, itu hanya impian. Malam-malamku hanya sepi tanpa seorang pujaan
Aku. Lelaki pemberani penuh dengan gagasan
Tetapi tiada arti tanpamu masa depan
Ia berkata padaku, wahai lelaki: tanpa permaisuri pun engkau tetaplah raja
Taik, taik, taik. Aku tetap tak sanggup melihatmu memilih hati lain
Katamu lagi, orang-orang pasti datang dan pergi silih berganti
Namun ini soal hati, tak terima kau pindah ke lain hati
Walaupun kau berteriak, aku tak layak engkau cintai
Tapi kau insan yang berhak untuk dicintai































