Nast Khotbah : Lukas 4:31-37
“31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.”
“32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa.”
“33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:.”
“34 Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”
“35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya.”
“36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.”
“37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.”
Beberapa ayat di atas dikutip langsung dari Alkitab. Disampaikan Pdt Marko Mahin dalam khotbahnya di Gereja Jemaat GKE Sakatik, Palangka Raya, Minggu (2/2/2025). Lewat tulisan ini, saya mencoba menyampaikan kembali apa yang saya tangkap dari khotbah Pdt Marko Mahin.
Di awal khotbahnya, Markon Mahin bertanya kepada jemaat, “siapa yang suka nonton film azab, seperti ‘Beranak Dalam Kubur’ dan ‘Suster Ngesot’?.”
“Nah, biasanya di film-film Indonesia, yang namanya setan itu tinggal dimana?… Tentu di kuburan, lorong-lorong yang gelap, dan atau di rumah kosong, itu adalah gambaran dalam film kita.”
Marko Mahin merasa orang Indonesia itu aneh. Bayangkan, hanya sekedar untuk ditakut-takuti, mereka rela untuk masuk ke bioskop, lalu bayar lagi. Menurutnya, Kalau hanya sekedar untuk di takut-takuti, sebenarnya gampang, tengah malam datang saja ke kuburan, pasti dapat tegangnya.
Marko Mahin bertanya lagi, mengapa bayangan kita, kalau berbicara tentang setan identik dengan kuburan?. Atau selalu digambarkan, dicitrakan, dituturkan, bahkan difilmkan, tempatnya kuburan, lorong yang gelap, atau rumah yang kosong. Namun, dalam firman Tuhan, setan itu ada dimana. Setan itu di luar manusia atau di dalam manusia?.
Jawabannya, di dalam manusia.
Dikatakan, ada seseorang dirasuki oleh setan. Sekali lagi Marko Mahin bertanya kepada jemaat, dimana orang yang dirasuki setan itu?. Di rumah perjudian, diskotik, rumah pelacuran, atau dimana?.
Jawabannya, di dalam rumah ibadah.
Dari apa yang disampaikan Marko Mahin dalam khotbahnya, Penulis memahami, ada dua kebenaran yang kita dapati dari firman Tuhan ini. Pertama, setan itu bisa berada di dalam diri manusia, dan manusia yang dirasuk setan itu tidak identik harus berada di diskotik, ditempat perjudian, atau tempat pelacuran, tetapi orang yang dirasuki setan itu bisa berada di dalam gereja atau rumah ibadah.
Lukas, penulis Injil, menggambarkan orang yang dirasuki setan dengan jelas, orang yang dirasuki setan itu hadir di dalam rumah ibadah, setan ikut beribadah. Artinya, yang namanya setan terkadang tidak takut dengan rumah ibadah, nyanyian, khotbah-khotbah, hingga ayat firman Tuhan.
Artinya, jangan berpikir kalau orang lagi kerasukan setan, lalu dibacakan ayat firman Tuhan, kemudian setan itu keluar, belum tentu. Buktinya, firman Tuhan menyatakan setan tenang-tenang saja.
Manusia itu hadir ke rumah ibadah, padahal di dalam dirinya ada setan, atau roh jahat, kata firman Tuhan. Tidak dijelaskan, bagaimana orang yang dirasuki setan ini ikut beribadah pada waktu itu, apakah dia rutin tiap minggu atau pada waktu itu saja. Namun, yang dikatakan adalah, Tuhan Yesus datang ke Kapernaum untuk beribadah, dan tidak hanya beribadah, Tuhan Yesus juga menyampaikan firman Tuhan.
Dan, dikatakan, pada saat Yesus Kristus menyampaikan firman Tuhan, semua orang terkagum-kagum, Kenapa?. Karena, Ia menyampaikan firman Tuhan penuh dengan wibawa dan kuasa. Berbeda dari guru-guru yang lain, sebab guru-guru yang lain menyampaikan hukum taurat, hukum syariah, tidak boleh ini dan itu. Sedangkan Yesus Kristus ketika mengajar, Ia berbicara tentang kerajaan Allah, damai sejahtera, dan pembebasan yang muncul dari kuasa Allah.
Nah, pada saat Ia mengajar seperti itu dikatakan, ada orang menjerit dan berteriak. Lalu, dijelaskan juga bahwa orang yang menjerit dan berteriak ini juga dirasuki oleh setan. Dan, yang menarik adalah apa yang diucapkan oleh setan itu. Di Lukas 4 : 33-34 berbunyi : “33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras:
“34 Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”
Bukan orang itu yang menjerit, tetapi setan yang ada didalamnya. Tetapi, firman Tuhan bagian ini sangat menarik, terlebih jika kita bawa ke dalam konteks pasal yang sedang diberitakan ini, sebab sebelum Tuhan Yesus melayani di Kapernaum, Ia melayani di Nazaret yang merupakan kampung halamannya Tuhan Yesus. Dia (Yesus Kristus) dilahirkan di Betlehem, namun dibesarkan di Nazaret, Dia tumbuh besar dan punya kawan dari kecil, remaja, hingga menjadi seorang pemuda.
Tetapi, apa yang terjadi saat Ia pulang ke Nazaret, orang satu kampung dengan Dia, bahkan dalam kitab Markus dikatakan bahwa saudara-saudara-Nya sendiri menolak Dia atau tidak percaya bahwa Dia seorang Mesias, menolak bahwa Dia lah yang perwujudan Allah dan diutus oleh Allah ke dunia. Semua orang menyangkal dan menolak itu, dan mereka mengatakan siapa Dia, Dia hanyalah anak Yusuf yang merupakan tukang kayu, kenapa Ia harus menjadi Mesias atau perwujudan inkarnasi Allah.
Di Nazaret, Tuhan Yesus mengalami yang namanya penolakan, karena ia menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Apa yang bisa kita simpulkan, orang yang dekat, satu panci, satu rumah dengan Dia justru menolak atau tidak mengakui.
Amin…!!!
Dari khotbah yang disampaikan Pdt Marko Mahin, dapat kita pahami bahwa setan itu, tidak hanya berada di tempat yang dipandang negatif. Tapi juga di tempat suci seperti rumah ibadah. Bahkan, bisa jadi mereka yang saat ini duduk di kursi pemerintahan saat ini, ada setan di dalam dirinya. Mereka bisa saja melakukan korupsi atau membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat.
(Oleh : Mulia Gumi, Jurnalis di Palangka Raya)































