Persoalan lingkungan hidup sudah lama menjadi isu yang mendunia. Akan tetapi, pada persoalan lingkungan hidup suara perempuan diabaikan dalam ruang-ruang publik. Dimana ruang diskusi dan pengambilan keputusan sering kali dilakukan tanpa ada pertimbangan kebutuhan perempuan.
Relasi dan pengelolaan lingkungan hidup antara alam, telah digambarkan oleh Shiva (1988). Menurutnya, perempuan dalam ekonomi subsisten yang memproduksi. Mereproduksi kekayaan secara kemitraan dengan alam, perempuan merupakan ahli dalam pengetahuan holistis dan ekologis.
Perempuan secara praktiknya, dianugerahi secara khusus kemampuan mengelola alam. Terutama dalam kehidupan perempuan-perempuan Dayak, hidup harmonis dan selaras dengan alamnya yang selama ini memberikan ruang hidup, pengetahuan serta keberkelanjutan. Namun sayangnya, hal tersebut tidak pernah ada pelibatan yang berati bagi perempuan.
Dalam banyak kerja-kerja yang dilakukan selama ini, Negara tidak pernah memberikan ruang-ruang dialog untuk perempuan bersuara dan mengimplementasikannnya. Sebut saja salah satunya proyek certak sawah rakyat yang saat ini dilaksanakan di desa Kalumpang. Kegiatan ini, secara tidak langsung menghilangkan identitas perempuan Dayak dalam ruang-ruang pengetahuan yang diwarisinya selama ini. Karena dilakukan tanpa partisipasi perempun, masih lebih cendrung pada formalitas kehadiran gender. Hal tersebut semakin menempatkan perempuan bukan subyek pembanguan.
Perspsektif Feminis Lingkungan Hidup
Feminis lingkungan hidup adalah sebuah perspektif yang menitiberatkan pentingnya keadilan lingkungan hidup dan keadilan gender. Dalam perspektif feminis, Solidaritas Perempuan diartikan bahwa Perempuan tahu akan ketidakadilan yang terjadi, kemudian menjadi sadar dan bertindak untuk melepaskan.
Berkaitan dengan persoalan lingkungan hidup sering kali perempuan menjadi korban yang sangat terdampak dari peraturan dan program negara yang meminggirkan dari ruang-ruang produksi, identitas budaya, dan kekayaan alam yang selama ini sangat lekat dengan kehidupan perempuan.
Merebut Isu Lingkungan Hidup di Ruang Publik
Perempuan dengan perspektif feminis, harus mampu merebut isu lingkungan di ruang public dengan cara yang selama ini telah dilakukan dalam kerja-kerja Solidaritas Perempuan. Adapun beberapa cara yang telah dilakukan:
Pertama, Mengorganisir perempuan akar rumput. Dengan melakukan diskusi kampung bersama perempuan akar rumput untuk bertukar informasi, membangun kesadaran kritis, memberikan pengetahuan-pengetahuan berdasarkan situasi yang dihadapi perempuan pada kehidupan sehari-hari.
Kedua, Advokasi kebijakan. Perempuan yang memilki pengetahuan tentu memilki posisi tawar. Perempuan setelah diberikan pengetahuan tentang lingkungan hidup dan berdaya, maka akan mampu menyampaikan situasi yang dihadapinya dan melakukan perjuangan kolektif bersama perempuan pemimpin dengan berbagai entitas dan bergerak secara kolektif.
Ketiga, Membangun pengetahuan Perempuan. Dengan cara memberikan kapasitas kepada perempuan-perempuan pemimpin untuk lebih terinformasi tentang persoalan lingkungan hidup.
Strategi Merebut Isu Lingkungan
Ketika membicarakan situasi dan persoalan perempuan maka hal ini tidak bisa dilakukan sendiri, namun dengan cara membangun koalisi dan jaringan yang punya cara pandang sama terhadap persoalan perempuan dan lingkungan yang dihadapainya.
Perempuan yang sudah memilki kesadaran tentunya akan dapat memanfaatkan media sosial yang di miliki untuk menyampaikan situasi dan menggalang solidaritas. Hal tersebut tentu harus dilakukan dengan menggunakan bahasa yang inklusif dan tidak diskriminatif gender tentang persoalan lingkungan hidup
Perempuan-perempuan yang bersolidaritas, kemudian mengangkat isu yang sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan Perempuan itu sendiri, terutama yang terhubungan dengan kearifan local. Dengan kemajuan yang ditawarkan hari ini, penggunaan teknologi untuk meningkatkan kesadaran dan memperjuangkan keadilan gender adalah salah satu pilihan alat perjuangan.
Penutup
Perjuangan merebut isu lingkungan hidup, tentu tidak dapat dilakukan sendiri. Namun harus secara kolektif, berbagai strategi dapat dilakukan dalam merebut ruang-ruang public tersebut. Ruang Publik hari ini, seharusnya penuh dengan isu lingkungan hidup dengan perspektif feminis. Karena ini sangat penting untuk menciptakan keadilan gender dan antar generasi yang berkelanjutan.
Perempuan dengan perspektif feminis mampu mengorganisir perempuan lainnya dalam memperjuangkan lingkungan hidup yang sesuai dengan kebutuhannya. Sebab, pengalaman ketubuhan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam semesta.































