1. Pendengar yang Sepi
Aku pernah menjadi tempat banyak cerita berlabuh…
Tentang lelah yang tak sempat diceritakan… Tentang dilema antara bertahan dan melangkah…
Tentang rencana-rencana yang hanya berbisik di antara kopi dan jam pulang…
Aku mendengarkan, seperti batu mendengar sungai…
Tak bisa menahan arus, tapi tahu bagaimana bunyinya…
Lalu setelah itu, hening…
Aku adalah yang tinggal…
Bukan karena tak punya luka…
Tapi karena aku tak ingin berlari sebelum benar-benar mengerti dari mana aku mulai…
Aku bertahan membawa waktu…
Waktu yang melambat ke cepat,
yang menggali lebih dalam daripada sekedar “kenapa”
Waktu yang menelanjangi alasan-alasan semu itu…
2. Dalam(an) Terhantam Hujan
Hari ini,
Aku percaya pada langit…
Berharap terang adalah jaminan dan panas adalah janji
Bahwa air tak akan jatuh dari langit…
Lucunya langit, ia seperti nasib…
Tak tunduk pada logika insan
Pakaian ku, berjemur dengan keyakinan rapuh
Harapan kecil, hari ini akan baik-baik saja
Keputusan ini sederhana, bisa mengendalikan semesta.
Tapi alam…
Ia tidak tunduk pada harap..
Rinai hujan pun datang dengan lembut
Tiada petir yang memperingatkan, ia hanya lewat bulir
Turun menusuk, merajam dengan pasti…
Aku termenung
Memikirkan air dan sempak basah, aku merasa kalah…
Oleh sesuatu yang tak bisa kupegang…
Akhirnya, saat itu aku sadar
Hidup bukan tentang menebak hujan,
Bukan tentang menolak basah…
Tetapi ini tentang menerima
Bahkan dalam niat paling sederhana,
Kita tak pernah sepenuhnya berkuasa..































