Sepatu yang awalnya tersusun rapi kini kembali kosong, ruang kelas kembali senyap, tapi getaran suara riuhnya seakan masih bergelora. Siang itu, hanya tersisa Anindyta dan Salim di perpustakaan, mereka berlatih untuk persiapan lomba tilawatil Qur’an.
“Dyta, aku keluar bentar ya” ucap Salim.
“Mau kemana? Jangan lama-lama ya, aku takut sendirian nih” jawab Dyta.
“Iya bentar doang kok!” jelas Salim sambil berguman.
Tak lama berselang, bzzzzt bzzzzt. Suara HP Dytaa bergetar dalam tasnya.
“Halo Dytaa”
“Haloo, ini siapa ya?”
“Ini mamanya Salim, kalian lagi latihan tilawah di Perpus ya?”
“Iya bu, ada apa ya bu?”
“Gak papa, cuma memastikan aja. Dyta, titip Salim ya, jagain”
“Oh iya bu”
Telepon kemudian terputus.
7 menit berlalu. Tuk Tuk Tuk, Terdengar suara sepatu Salim dari kejauhan.
Srakkk,
Pintu terbuka, Dyta yang melihat Salim sontak langsung menatapnya. Ia tak menahan, untuk menyampaikan pesan Ibu Salim.
“Salim tadi mama kamu nelpon aku” ucap Dyta.
“Apa kata mama?” Tanya Salim,
“Gak ada kok, cuma nanya aja bener latihan atau nggak” jawab Dyta.
“Terus kamu bilang apa tadi?” tanya Salim.
“Aku iya-in aja, emangnya ada apa sih Salim, kok kaya dijaga ketat gitu?” Tanya Dyta penasaran.
“Biasalahhhh” jawab Salim sambil tersipu.
“Dasar anak mama hahahahha….” Ledek Dyta.
Anindyta dan Salim memiliki hubungan pertemanan yang unik. Mereka sering bertengkar, tapi mereka juga memiliki kerja sama yang baik dalam segala hal.
Salim adalah anak yang terkenal tampan dan gagah disekolahnya. Kebalikannya, Anindyta adalah gadis natural vibes dengan pipi tembamnya.
Bagi Dyta, Salim adalah seseorang yang usil, sering menyembunyikan barang barang miliknya terutama sepatunya, mencoret bukunya bahkan Salim sering tertidur di mejanya.
Hal itulah yang membuat Anindyta melihat Salim sebagai anak yang pemalas dan amburadul. Di sisi lain, Anindyta adalah anak yang ceria namun gampang merajuk, sehingga membuat Salim suka bersikap usil padanya.
Hari demi hari berjalan, Salim memang anak yang ahli dalam hal tilawah, sedangkan Anindyta tidak. Anindyta justru berminat dalam Biologi.
Namun Anindyta ikut membersamai lomba tilawah, itupun ikut lomba ini karena Salim yang membujuknya, Salim berjanji bahwa ia akan mengajarinya selama latihan hingga bisa tampil di atas mimbar.
Hubungan pertemanan Anindyta dan Salim terkenal luas hampir satu sekolah. Guru-guru pun juga mempercayai mereka, sehingga jika ada kegiatan atau lomba, nama dua anak itu selalu masuk opsi yang diajukan.
Pagi itu, di parkiran sekolah terlihat Anindyta dan Salim bergegas ingin berangkat untuk kegiatan lomba hafalan juz 30.
“Jangan laju-laju ya Salim!” teriak Anindyta.
“Iya bawell!” sahut Salim.
Nyatanya, Salim mengendarai sepeda motornya lumayan cepat, sehingga Anindyta kehilangan jejak Salim dipersimpangan jalan.
“Aduh gimana nih, mana nih Salim, duhhh belok apa lurus ya? Belok aja deh” Gumam Dyta.
Setelah belok, Anindyta berhenti sejenak, bingung ke arah mana ia harus berjalan.
“Titt tit titttttt” suara klakson terdengar tepat di belakang Anindyta.
“Dytaaaa… kok belok sih, kan aku lurus!” teriak Salim.
“Kamu yang kemana, aku kan tadi udah bilang, jangan cepet-cepet!” balas Anindyta.
“Makanya kalo jalan itu pakai mata! yaudah ayo putar balik” ucap Salim meninggikan suara.
“Huhhhh! Nyebelin banget sih” guman Anindyta dalam hatinya.
Sesampainya di tempat lomba, Salim dan Anindyta mengikuti alur kegiatan dengan tertib. Mereka lumayan lama mengantri nomor urut tampil. Salim tampil lebih dulu dari Anindyta, namun sayangnya, Salim tidak bisa menjawab satu soal dari empat soal yang dibacakan. Sebaliknya, Anindyta dapat menyambung semua ayat dengan baik.
Besar harapan Salim dan Anindyta agar salah satu diantara mereka bisa membawa pulang piala ke sekolah, namun ternyata dua nama anak itu tidak sama sekali disebutkan saat pengumuman pemenang.
“Yahhh sia sia dehh, udah jauh capek lagi, eh tapi gak papa kan kita hari ini ga belajar hehe…” ucap Salim sambil berusaha menghibur Anindyta yang sejak tadi hanya terdiam.
Tanpa sepengetahuan Salim, di sepanjang perjalanan, Anindyta menangis. Sesampainya di sekolah, ia kemudian menghela nafas dan berusaha menghapus air matanya.
“Dytaa, mau kemana?” teriak Salim.
“Ke kelas dong, kemana lagi emangnya? jawab Dyta.
“Ke kantin aja yokk, aku laper, emang kamu gak laper?” bujuk Salim.
“Tapi kan lagi jam pelajarannya Pak Abdul” jelas Dyta.
“Aiiihh santai dulu lah, ayo donggg temani aku bentarrrr… nanti kalo Kamu masuk duluan aku pasti dicariin juga.” rengek Salim.
“Yaudah dehhh.” Jawab Dyta.
Di kantin, mereka berdua makan mie instan. Rasa kecewa Anindyta lebih berasa daripada rasa mie yang ia makan. Dyta hanya terdiam, sesekali ia mendengar suara riuh kelas sebelah yang sekilas ada menyebut namanya. Mie yang tidak berasa itu akhirnya tiba disuapan terakhir.
Anindyta kembali mengaktifkan ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk. Belum lama, sebelum ia lomba tilawah bersama Salim, ia ikut lomba membawa nama sekolah.
“HOOOOHHHHHH….” Anindyta terkejut saat membaca pesan whatsapp yang masuk diponselnya.
“SALIMMM AKU MENANGGG!” teriak Anindyta dengan girang.
“Menang apa?” tanya Salim.
“BIOLOGI JUARA SATUUUU WAAAAAAAA”
Gadis itu langsung berdiri dan meninggalkan Salim di kantin, ia berlari kegirangan menuju Kantor Guru. Suasana sekolah tampak jadi taman bunga baginya.
“IBUUUUUUUUU, DYTAAAA MENANGGGGG YEAYYYYY!” Teriak Dyta di depan pintu kantor.
Anindyta ikut lomba sains ini satu bulan yang lalu, ia tidak tahu kapan pengumumannya. Ternyata berita yang ia dengar ini menghapus seluruh kekecewaan dan kesedihannya sepanjang jalan. Beberapa hari setelahnya, Salim juga mendapatkan kabar bahagianya. Salim mendapatkan juara 3 pada lomba tilawah yang mereka ikuti kemarin. Ternyata ada kesalahan perengkingan diawal pengunguman, yang tidak menyebutkan satupun nama mereka.
Euforia kemenangan mereka bergelora hampir disetiap sudut sekolah, kebahagian sekolah tampak saat teman-temannya menyemangati mereka.
Anindyta harus bersiap kembali untuk mengikuti lomba sains tingkat provinsi, sedangkan Salim masih saja sibuk selalu mengganggu Anindyta.
“Kok sebelah doang?” tanya Anindyta sambil melihat ke rak sepatu.
“SALIMMMM, ulah kamu lagi kan ini, mana sepatukuuu!” rengek Anindyta, sambil melempar halus sepatunya kehadapan Salim.
Bangku-bangku sekolah, pot dan tanaman serta debu rak sepatu bahkan menjadi saksi bisu pertengkaran kecil mereka, di sisi lain justru hubungan merekalah yang memberikan sekolah makna yang sesungguhnya.
Setiap manusia diciptakan Allah dengan kelebihannya masing-masing, entah itu Salim, Anindyta atau siapapun. Kegagalanlah yang akhirnya membuat kita merasa manisnya perjuangan dan keberhasilan.






























