Pegunungan Meratus merupakan bentang alam hutan hujan tropi, membentang di Provinsi Kalimantan Selatan. Masyarakat Dayak Meratus, pada kawasan ini memiliki sistem bertani yang telah turun-temurun dan terintegrasi dengan alam. Kedaulatan pangan mereka tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga pada hasil hutan dan palawija.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan vital bagi masyarakat Dayak Meratus yang menerapkan sistem pertanian tradisional (berladang gilir balik). Ketahanan pangan di kawasan ini bertumpu pada kearifan lokal, keragaman pangan gogo. Sistem ini didasarkan pada pengetahuan lokal mengenai rotasi lahan untuk menjaga kesuburan tanah tanpa pupuk kimia dan pelestarian hutan. Bahkan, di masa pandemi dan krisis pangan, kearifan lokal Meratus terbukti mampu menjaga kedaulatan pangan lokal. Mereka memiliki kedaulatan pangan mandiri dengan lumbung padi (banih) yang tahan bertahun-tahun.
Sistem Pertanian dan Kearifan Lokal (Pilar Ketersediaan)
Dalam beberapa catatan, Masyarakat Meratus menerapkan system Merode pertanian Tradisional dengan mengunakan metode manugal (menanam padi di lubang tugal) pada ladang yang kering. Berfokus pada pelastarian hutan dan tanah, bukan eksploitasi besar-besaran. Kemudian, setiap keluarga umumnya memiliki lumbung padi yang mampu menyimpan gabah selama 3 sampai 7 tahun, menjamin ketersediaan pangan meski gagal panen.
Selain itu, pangan tidak tergantung pada beras saja. Tatapi juga kebun campur dan hasil hutan non kayu. Mereka melestarikan bahan pangan lokal seperti jewawut (setarika italika) atau bahasa lokalnya jantan. Jantan ini juga bisa di pakai sebagai bahan ritual adat.
Salah satunya, kearifan lokal seperti aruh bawanang (pesta panen), aturan zonasi adat, dan larangan ekspolitasi berlebihan menjaga kelestarian ekosistem. Ladang Meratus 100% organik, tidak menggunakan pupuk kimia atau herbisida. Nutrisi tanah didapat dari humus hutan dan abu sisa pembakaran terkendali.
Akan tetapi, kedaulatan pangan ini terancam oleh industri pertambangan, sehingga masyarakat setempat aktif memperjuangkan perlindungan hutan meratus.
Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya
Kebiasaan yang telah turun menurun, Masyarakat Dayak Meratus menggunakan rasi bintang untuk menentukan waktu bertani. Pada kondisi bentang alam, masyarakat membagi Kawasan hutan menjadi Ketuan Larangan (hutan keramat /tidak boleh ditebang), Bakabun durian, jengkol, durian, cempedak, gatah, (perkebunan) dan pehumaan (area berladang).
System perladangan “Gilir Balik” merupakan teknik yang di lakukan dengan membuka lahan, menanam, dan kemudian meninggalkan lahan tersebut untuk Kembali menjadi hutan (Bera) agar tanah Kembali subur secara alami.
Sebelum membuka lahan, Masyarakat melaksanakan Ritual dan Hutan Pamali. Dimana kepercayaan terhadap Balian (roh leluhur) di hutan keramat (Hutan Mamali) membatasi aktifitas ekonomi di era sakral tertentu, menjaga ekosistem tetap lestari. Meski telah mandiri, beberapa faktor mengancam kedaulatan pangan Dayak Meratus. Perubahan Iklim telah menyebabkan kekeringan ekstrim yang memengaruhi hasil panen padi gogo.
Bahkan, kondisi tekanan terhadap penduduk dan pembatasan wilayah ladang membuat jeda gilir balik lebih singkat, menyebabkan tanah kurang subur. Kemudian, ancaman dari perluasan perkebunan sawit dan pertambangan yang mengurangi luas hutan adat. Selain itu, lokasi geografis yang terisolasi membuat pemasaran produk lokal sulit dan menghambat akses barang dari luar.
Penutup
Ketahanan pangan di Pegunungan Meratus didasarkan pada kearifan lokal yang ramah lingkungan dan keragaman hasil pertanian organik. Namun, keberlanjutannya terancam oleh alih fungsi lahan dan penurunan produktivitas. Pertahanan kedaulatan pangan di Meratus membutuhkan perlindungan hutan adat dan adopsi teknik pertanian berkelanjutan yang menghormati budaya setempat.
Untuk itu, Pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan pendampingan yang tidak menghilangkan tradisi berladang Dayak, melainkan memperkuatnya dengan teknik agroforestry dan pemetaan wilayah adat untuk mencegah alih fungsi lahan yang merusak.






























