Tinta Otak, Racun Tinta

Teks tidak hadir dari ruang hampa. Ia membawa kepentingan, ideologi, dan kuasa pembuatnya.
Ilustrasi editorial "tulisan lebih tajam daripada peluru" tanpa orang, menampilkan buku, pena, dan cahaya keemasan yang menghubungkan mesin cetak kuno dan komputer di perpustakaan, sementara sebutir peluru menancap di papan sasaran.
EPISODE / KUTIPAN SPESIAL
“Peluru mungkin hanya mampu merusak satu raga di satu titik, tetapi tulisan mampu melintas ruang dan waktu, meruntuhkan atau membangun kesadaran jutaan manusia sekaligus.”

Jika Anda menembakkan peluru, ia akan menembus objek-manusia yang terbidik. Lain hal jika tulisan, ia akan menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Tulisan jauh melampaui batas fisik peluru atau senjata apapun. Peluru mungkin hanya mampu merusak satu raga di satu titik, tetapi tulisan mampu melintas ruang, waktu, serta mampu meruntuhkan atau membangun kesadaran jutaan manusia sekaligus. Perubahan dan peradaban dunia bermula dari teks, bahkan iman dan Tuhan pun hadir memperkenalkan diri kepada manusia melalui teks.

Sehingga, apabila Anda mengacuhkan dan mengabaikan teks, sama saja Anda menginginkan kemunduran. Setidaknya itu yang menjadi sekelumit indikasi masalah yang menembak kepala saya untuk tetap-terus mempertahankan teks. Ia kuat, lebih kuat dari pada senjata. Apakah setelah ini Anda percaya? Kisanak, mari saya buktikan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

Salah satu bukti bahwa teks itu memiliki kekuatan yakni tercatat dalam sejarah fenomenal. Dulu, karya fiksi Harriet Beecher Stowe Novel Uncle Tom’s Cabin (Gubuk Paman Tom) terbit tahun 1852, novel ini disinyalir menjadi pemantik perang saudara Amerika tahun 1861-1865. Tulisan yang diangkat dari isu perbudakan di Amerika Serikat ini menjadi perdebatan politik dan ekonomi. Ciamiknya seorang Stowe, ia menggubah gambaran bagaimana kejamnya perbudakan yang memicu simpati mendalam masyarakat negara-negara bagian utara Amerika, hingga muncul gerakan penghapusan perbudakaan.

Pada situasi yang tertekan tersebut, negara-negara selatan Amerika yang notabenenya menggelantungkan perekonomiannya dari perbudakan merasa tersudut dan marah besar. Polarisasi moral bahkan politik antara utara dan selatan semakin meruncing akibat novel tersebut. Dan, alhasil ketegangan demi ketegangan terus berlanjut hingga akhirnya pecah perang saudara di Amerika. Bahkan Abraham Linclon saja berseloroh saat bertemu langsung dengan Stowe “So this is the little lady who made this big war.”

Pada hal lain juga, seorang pemuda bangsawan nusantara, sudi meninggalkan fasilitas dan kemewahan sebagai bangsawan untuk memperjuangkan ketertindasan dan ketidakadilan melalui tulisan. Jejak langkahnya menginspirasi Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di salah satu karya tetralogi buru berjudul Bumi Manusia. Ia mendirikan Medan Prijaji (1907), laman surat kabar berbahasa Melayu pertama untuk membela kepentingan pribumi. Karena perjuangannya, ia menjadi tokoh kebangkitan nasional karena tangguh merintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional, ia dikenal dengan nama Tirto Adhi Soerjo. Berkat jasanya hingga kini kebebasan pers dan berpendapat masih menjadi pilar penting demokrasi Indonesia.

Nah, dengan demikian, sekian bukti yang terpaparkan di atas, penting kiranya kita terus memperjuangkan teks agar tetap hidup, bertahan dan berkembang. Memang teks tidak akan mati, tetapi ngos-ngosan jika berhadapan dengan pengaruh teknologi yang sepersekian detik berselancar cuti nalar purbasangka dunia maya tak ada habisnya. Yang hampir setiap hari kita berhubungan dengannya, sering juga ejakulasi informasi, karena tidak berkontribusi secara utuh sebagai geneologi ilmu dan pembentukan moral.

Lebih-lebih di zaman gila medsos plus AI ini, terbukti mengubah cara dan tatanan berpikir serta hidup manusia. Teks bau anyir semacam hoaks, plagiat dan ujaran kebencian diternak sedemikian rupa, disebar begitu jumudnya guna menggerakkan masa untuk memenuhi hasrat dan nafsu politik saja. Amerika Serikat, Brasil, Kenya, Timur Tengah di beberapa dekade terakhir telah menelan pil pahit akibat kuasa dunia maya. Polarisasi politik ekstrim di dunia maya menyulut benih-benih perpecahan antar kelompok masyarakat rasial-agama, demonstrasi anarkis yang berujung perebutan paksa/kudeta tahta.

Teks tidak hadir dari ruang hampa, ia tercipta dan lahir dari ruang sosial, budaya, politik dan ekonomi, sudah barang tentu membawa kepentingan ideologi dan kuasa pembuatnya.

Teks bukan sekedar kumpulan kata netral tanpa wujud, melainkan cermin dan instrumen dari dinamika realitas. Era ini, teks diproduksi dan didistribusikan secara masif karena memiliki tujuan spesifik: bentuk persepsi, menggiring opini, memanipulasi emosi, hingga melanggengkan propaganda politik.

Sudah berabad-abad lama teks yang bersemayam di buku menjadi teknologi manusia untuk menyimpan, mengorganisasi dan menyebarkan pengetahuan. Seseorang dapat mendokumentasikan pemikiran dan pengetahuannya lewat teks. Bahkan kita, bisa mengetahui dan kenal seseorang yang hidup di masa lampau juga melalui teks yang ia tulis.

Akhirnya, apapun itu, yang akan terjadi pada kita suatu saat nanti, perjuangan tertinggi manusia adalah memenangkan akal sehatnya. Dalam hal ini, sepertinya kita tidak butuh bakat untuk sampai pada titik itu, cukup dengan berani memulainya saja, belajar sambil jalan (konsisten) agar tetap menjadi waras dari segala hal yang menjadi penyebab gila. Jadikan membaca sebagai lifestyle (gaya hidup) kita dan generasi selanjutnya, dilanjutkan mendiskusikan dan mengkaji, sebab terkadang membaca saja belum tentu memiliki arti. Literasi bukan hanya baca-tulis, tetapi juga menafsir dan menganalisa makna.

Saat Anda memutuskan untuk memulai membaca, selamat Anda telah membaca seluruh hidup. Memperbaiki bacaan juga memperbaiki kehidupan. Namun ketika Anda tidak membaca buku, maka teks-teks buku itu akan mengeja setiap jengkal hidup Anda. Karena sejatinya para penulis itu tidak sedang menulis tentang mereka, justru mereka sedang bercerita dunia Anda.

Tinggalkan tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *