Apakah Anda pernah meilhat orang batuk? Atau mungkin Anda juga pernah mengalami batuknya. Meski sering dianggap sebagai keluhan ringan, batuk sebenarnya adalah cara alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari debu, kuman dan benda asing. Namun, suara batuk yang nyaring kadang menyakitkan itu bukan sekedar reaksi fisik biasa, melainkan pengingat betapa rentannya tubuh Anda. Dan, apabila barisan batuk itu berlangsung lama-tak kunjung sembuh, ini bisa sinyal bahwa tubuh Anda membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.
Untuk meredakan batuk, Anda perlu lebih banyak minum air putih hangat, mungkin bisa tambah sedikit madu, minum obat dan istirahat yang cukup.
Adalah pulau Borneo-Pertiwinya paru-paru dunia, penduduknya mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk memejamkan mata, mata memerah perih, rasa gatal hebat menyerang kerongkongan, disusul batuk keras yang menggetarkan dada. Khok…khok..khok… menggema-bersahutan memecah heningnya malam-memicu rasa nyeri yang menjalar hingga tulang rusuk. Bahkan di antaranya, batuk bersamaan sesak nafas akut hingga menurunnya kesadaran, pusing berat, pingsan dan bahkan meregang nyawa. Kami bilang, “mereka gugur dalam keadaan syahid dan sebagai pahlawan.”
Sudah 4 bulan ini, langit tak lagi biru-matahari tak pernah nampak-berganti rupa bentangan pekat kelabu. Jutaan pasang paru-paru dipaksa bertaruh racun. Udara bersih bukan lagi hak dasar, ia bagai barang luxury good-sangat mahal dan langka, ratusan ribu orang sudah menderita ISPA. “Selamat! Anda telah berhasil mengomersialisasi dan membuat hal paling dasar di bumi menjadi barang langka.” Namun, di tengah kepungan asap yang secara perlahan merenggut kesehatan dan ruang hidup ini, terlihat pemandangan ajaib: masyarakat tetap bertahan, bekerja mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Kita memang pembohong ulung, sanggup menahan sakit tetapi tetap bekerja, menyembunyikan retak di balik senyum tipis yang dipoles setiap paginya, menimbun lelah di bawah lipatan kemeja, mengubur jeritan dengan canda. Akhirnya, akibat kebohongan ini, dinilai “masih normal” oleh mereka kepada atasannya, yang berada nun-jauh di sana dengan langit yang tak sama, di ruangan dingin plus air purifier memfilter udaranya.
Ketabahan masyarakat Borneo akibat karhutla patut diacungi jempol. Mereka tangguh, dengan masker seadanya tetap membelah asap menjalin kehidupan sosial meski tak tahu kapan semua ini akan selesai dan berakhir. Rupa-rupanya ketabahan masyarakat ini kerap kali menutupi akar masalah bagi pemangku kebijakan. Karhutla yang terjadi hampir setiap tahunnya ini bukanlah bencana alam murni (force majeure), melainkan bencana antropogenik yang dipicu oleh keserakahan ekspansi lahan, pembakaran berbiaya murah, serta lemahnya penegakkan hukum terhadap korporasi dan oknum nakal. Ruang akuntabilitas bagi para perusak lingkungan menjadi kian sempit.
Padahal, potret ketabahan luar biasa-atau mungkin kepasrahan yang terkooptasi-dari warga adalah karena sudah merasa tidak punya lagi daya untuk menuntut udara bersih kepada siapa. Batuk yang bersahut-sahutan di pasar, caffe dan tempat-tempat lainnya dianggap manifestasi takdir atau ujian yang harus diterima dengan lapang dada. Toh, saat ini bernafas dalam racun adalah bentuk kesabaran yang diganjar pahala. Dalam perspektif yang lebih dalam, menjaga jiwa (hifz an-nafs) dan menjaga lingkungan (hifz al-bi’ah) adalah kewajiban yang mendasar. Membiarkan paru-paru anak-anak terpapar ISPA saban hari bukanlah ujian kepasrahan, melainkan pengabaian terhadap hak hidup sehat.
Ketabahan masyarakat seharusnya menjadi cermin pemalu bagi pemangku kebijakan dan aparat penegak hukum. Jika rakyat biasa mampu bertahan di tengah kepungan asap tanpa kehilangan martabat dan semangat hidup, maka negara dan para pengusaha mestinya malu jika tidak mampu memadamkan api dan menindak tegas para pemabakar hutan.
Ala kulli hal, “Batuk Syar’i” tak boleh selamanya hanya jadi penenang ketidakberdayaan. Ia transformasi dari kritik tajam. Batuk itu adalah jeritan sunyi paru-paru rakyat yang merindukan udara bersih. Ketabahan tidak boleh bersanding dengan kepasrahan atas ketidakadilan; ia harus menjadi energi untuk terus menuntut hak atas langit yang terang dan napas yang lega. Ketika bumi telah kehilangan daya dukungnya, air terakhir sudah habis menetes, daun terakhir sudah habis berguguran dan hutan terakhir sudah habis dibakar, ternyata uang tidak bisa dimakan.