SEBELUM SUARA IBU PADAM

“Ma...padahkan lawan Abah dan Aa, jagakan anak ulun.”
Foto: akbar yasv67

Fajar menyingsing dengan wajah yang tak biasa. Pendar keemasan hangat tak lagi terasa, berganti warna jingga pekat muram, membias samar di balik selimut tebal kabut asap. Pagi itu, hutan dan permukiman kehilangan garis tegasnya, melebur menjadi siluet bias yang meranggas oleh hembusan karhutla dari jantung rimba.

Udara terasa berat dan berjelaga, membawa aroma kayu bakar menusuk dada. Dedaunan di pekarangan tak lagi disapa embun bening, hanya jelaga halus yang menempel pasrah di permukaan hijau yang kian memucat. Burung-burung pagi tak bersuara, enggan membuka paruh di tengah bentangan kabut abu-abu yang mengepung langit.

Terdengar suara pelan lirih, “Ma…padahkan lawan Abah dan Aa, jagakan anak ulun.” Di antara napas yang terengah dan dada yang sesak ia menukar setiap hembusan udara dengan permohonan tentang anak perempuannya. Permohonan itu, menjadi kalimat terakhir yang ia sampaikan kepada ibunya di dalam mobil ambulance yang sedang menuju rumah sakit. Tak terlalu lama dari setelah menyampaikan itu, Lisna kembali ke rahmatullah.

Benar, kasih ibu adalah lentera yang tak pernah padam. Ia tetap memancarkan kehangatan dan petunjuk jalan, dunia boleh berubah dan musim bisa berganti, namun cinta ibu jadi tempat teduh yang tak pernah bergeser sedikit pun. Cinta ibu tidak mengenal kata selesai, dari hembusan napas pertama hingga detik terakhir, do’a dan kasihnya selalu mengalir tanpa henti.

Lisna, merupakan seorang pengajar di SDN Tanjung Pagar 3, Sungai Andar, Banjarmasin bagian utara. Jarak dari rumah ke sekolah, ia harus tempuh lebih kurang 30 menit dengan sepeda motor. Berbekal masker seadanya, harus bolak-balik membelah kabut asap demi melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang guru, meskipun sesuai kebijakan pemerintah siswa-siswi harus melaksanakan pembelajaran jarak-jauh. Lisna masih berjuang menjaga pelita di tengah kabut asap!

Lisna pandai menyembunyikan sakit asmanya dari kepala sekolah dan rekan-rekan guru. Akan tetapi asap karhutla membongkar semuanya, ia sering merasakan sesak, nebulizer yang sebelumnya hanya digunakan sebulan sekali, itu pun saat ia merasa sangat kelelahan, di periode ini hampir setiap hari digunakan. Jika rasa sesak itu ia rasakan di waktu pagi hari, Lisna beberapa kali izin agar tidak ke sekolah. Setelah semuanya tidak bisa ditutu-tutupi lagi, akhirnya ia baru melapor kalo punya riwayat penyakit asma.

“Sejak saat itu, Lisna tak lagi terlihat di sekolah” Ujar Zainal (Kepala Sekolanya), “hingga terakhir yang kami terima kabar dukanya.”

Asap akibat karhutla di Kalimantan sudah merenggut beberapa nyawa, salah satunya Lisna seorang guru di sekolah dasar. Siswa-siswinya, tidak akan melihat lagi senyum hangat, teguran cinta, dedikasi, dan kehadiran seorang guru perempuan yang amat mereka cintai di depan kelas. Pun juga teruntuk putrinya, ia tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya pelukan, uang saku-rezeki dan usapan lembut dari jemari lembut ibunya. Hari-hari mendatang akan dilaluinya dalam sepi, meniti langkah tanpa ada lagi genggaman tangan tempatnya mengadu dan bersandar. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang kenangan yang mengendap kian pekat di sudut kamar.

Sampai kapan kita akan sadar bahwa karhutla tega merenggut cinta, mengikis habis setiap helai kehangatan yang pernah kita perjuangkan, pada tanah tempat kita berpijak, pada senyum polos yang ingin kita lindungi-kini terkubur dalam legam abu gambut yang terus membara. Kita dipaksa menyaksikan mereka yang kita sayangi terbatuk dalam derita, sementara kita hanya bisa saling mendekap bisu, berpasrah pada nafas yang kian hari kian sesak.

Ala kulli hal, Lisna adalah bukti gambaran Tuhan yang menyayangi makhluk-Nya dengan cara yang begitu rahim, menghadirkan kehangatan, kedamaian, serta ketulusan dalam setiap hembusan kebaikan yang dibagikan. Hingga sampai detik-detik hembusan nafas terakhirnya masih menata permohonan untuk anaknya di masa depan.

BagikanWhatsAppFacebookX

Surat dari Dapur

Satu email setiap dua pekan: cerita pilihan, catatan redaksi, dan kabar kelas menulis. Tanpa spam, bisa berhenti kapan saja.

Kami mengirim satu email konfirmasi. Tanpa klik konfirmasi, email Anda tidak disimpan sebagai pelanggan aktif.

Tinggalkan tanggapan