entahlah, mengapa aku begitu terpaut pada rabu
hari di mana semesta seolah menuntunku padamu
di antara parade waktu yang lalu-lalang tanpa makna
engkau menjelma menjadi aksara yang paling istimewa
di balik tegap langkahmu yang tak pernah goyah
aku hanya diam, menatapmu dari kejauhan
yang patah
mataku hafal ritme langkahmu
seolah atma ini terpaut pada jejakmu
tanpa perlu kau tahu siapa aku
tanpa perlu sapaan yang semu
cukuplah hati ini menjadi karya
yang hanya menulismu dalam diam dan rindu
jika rabu adalah hari yang kucinta
maka ia juga menjadi luka yang kupuja
hari di mana rasa jadi abu
dan hati pun kembali menjadi berdebu
karena takdir tak pernah ramah pada yang hanya
mampu mencintai diam-diam
dan waktu,
ialah kala yang perlahan-lahan
merenggutku tanpa ampun.