Masuk Daftar
Puisi

Keanehan Pemuda dan Rokok Kretek Tuanya

Setiap bakaran rokok kretek tua dan bau ini; aku selalu ingat padamu. Si kurus tinggi, yang selalu punya humor garing tapi tetap dipaksa;

Setiap bakaran rokok kretek tua dan bau ini; aku selalu ingat padamu.

Si kurus tinggi, yang selalu punya humor garing tapi tetap dipaksa;

sering aku tertawa hanya untuk membiarkanmu mencari humor garing lainnya.

Kita bertemu pada suatu sore saat poni tipismu tergerus angin dan bergerak ke arah yang janggal diliat. Aku membatin saat itu; sungguh aneh gaya rambutmu.

Seaneh kejadian kejadian selanjutnya.

Kita banyak berbicara; sedikit bercinta; lalu seperti tidak terjadi apa apa.

Memang aneh atau kau memang punya kebiasaan ini; sama dengan gaya rambut yang kau punya dan senyum tipis yang hampir tak pernah bisa kutebak apa artinya.

Kupikir tak akan lagi berbagi basa basi denganmu;

nyatanya, kita berucap basa basi yang paling basi;

dan sudah kumuntahkan semenit sejak hilangnya bayang dan bau badanmu,

“Sehat sehat terus ya, kita”, ucap kedua orang sakit yang sudah berbagi peluh dan air liur.

Kadang rindu, sering ku tersenyum kecil sambil membakar rokok kretek tua ini. Aneh memang.

***

Bagikan: X / Twitter Facebook WhatsApp

Bergabung dengan Komunitas

Ruang Aksara adalah rumah bagi penulis dan pembaca. Kirimkan karyamu, temukan suara barumu.