Masuk Daftar
Puisi

Senapan AK-12

Peluru itu,
Seperti butiran hujan dalam kehidupan rakyat
Peluru itu
Merenggut tengkorak dan otak

Sungguh,
Azazil tertawa di balik jirah coklat mu
Sedangkan, aku terhenyak dalam sujud jauh dari sajadah
Dengan tubuh membusuk yang ber kafan amarah
Diurai masa depan, menjadi masa lalu dalam gema azan

Darah dan air mataku yang menetes ke Bumi
Berdenting seperti Rolex di tangan pembunuh
Ia bersenggama di Kota Palangka Raya

Tapi mulut-mulut itu, masih saja tertawa; menertawakan penderitaan sepanjang jalan Sumatera-Kalimantan
Lalu tafakur menjadi sabda dalam darahku

KekasihKu, mengapa?
Takdir orang-orang tertindas dalam cengkeraman para azazil dari Neraka
Nyawa direnggut melebihi angka di kalender tahun baru
Dan kata-kata para pecandu itu

Uma, Uma
Ruh berpulang dengan darah yang bertanya-tanya:
Senapan AK-12 dibeli dengan cukai lisong-ku

“230T” fantastis!
Mereka berdansa di kepala-kepala
Buruh ekspedisi yang dipopor birahi laku konsumtif

O, bajingan dari batu-batu Neraka dibawa hurung Ababil
Moncong bedil dihadapkan di kepalaku
Dan ia bersama nurani luruh terbenam
Pelatuk menjadi bayang-bayang diriku
Dan bau mesiu memenuhi bau badan kami!

Bagikan: X / Twitter Facebook WhatsApp

Bergabung dengan Komunitas

Ruang Aksara adalah rumah bagi penulis dan pembaca. Kirimkan karyamu, temukan suara barumu.